Oleh: Surya Wijaya
MENDAPAT undangan khusus untuk melihat langsung persiapan soft launching Visit Johor 2026 pada 13–16 Oktober menjadi kesempatan berharga bagi saya.
Bersama rekan-rekan media dari Batam yang juga mendapat undangan yang sama, kami berkesempatan menelusuri apa yang tengah Kerajaan Johor rancang untuk menyambut 12 juta wisatawan mancanegara di tahun 2026 mendatang.
Dengan tema yang hangat dan mengundang, “Meh lah Johor” atau “Ayo ke Johor”. Kami menelusuri berbagai destinasi yang menjadi andalan negeri bagian selatan Malaysia ini — dari wisata buatan, wisata alam, hingga pulau-pulau eksotis yang terus berkembang.
Fokus pada 3A dan Keamanan

Selama empat hari kunjungan, kami dengan full fasilitas untuk melihat langsung tiga pilar utama pariwisata atau yang terkenal dengan konsep 3A: Aksesibilitas, Amenitas, dan Atraksi.
Konsep ini bukan sekadar teori, tetapi benar-benar wujud dengan kerja sama lintas sektor di Johor.
Dari sisi aksesibilitas, infrastruktur jalan dan transportasi terlihat sangat siap. Jaringan jalan tol yang rapi, terminal bus yang nyaman, hingga pelabuhan dan bandara yang bersih dan efisien menunjukkan keseriusan Johor dalam menyambut wisatawan.
Untuk amenitas, berbagai fasilitas pendukung wisata seperti hotel, resort, hingga restoran telah berkembang pesat. Kami berkesempatan menginap dan menikmati keramahan khas Johor yang terasa sejak pertama tiba.
Sedangkan dari sisi atraksi, Johor menawarkan keberagaman luar biasa. Wisata buatan seperti Legoland Malaysia, Snowland, dan JDT Stadium menjadi ikon modern yang menarik minat wisata keluarga. Sementara Sireh Park, Desaru Fruit Farm, dan kawasan Desaru Coast menampilkan sisi alami Johor yang hijau, segar, dan menenangkan.
Pesona Alam dan Pulau Eksotis

Kami jug melakukan hopping island, menjelajahi keindahan pulau-pulau tropis di pesisir Johor. Dari Bayu Lestari Resort yang menenangkan, Batu Batu Island yang masih alami, hingga Rawa Island yang terkenal dengan pasir putih dan air sebening kristal.
Meskipun baru tiga pulau yang sempat kami kunjungi, semuanya sudah memberi gambaran jelas tentang potensi besar wisata bahari Johor. Infrastruktur dermaga yang baik, kebersihan pantai, serta kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi poin penting yang patut kita tiru.
Namun, ada satu hal yang paling mencuri perhatian — keselamatan wisatawan. Johor menjadikan aspek ini prioritas utama dalam setiap destinasi. Setiap wahana, transportasi, hingga area wisata alam memiliki standar keamanan yang ketat. Hal inilah yang masih menjadi tantangan di banyak destinasi wisata Indonesia.
Belajar dari Johor: Mimpi Tak Akan Nyata Tanpa Kerja Nyata

Dari perjalanan ini, kami menyimpulkan satu hal sederhana namun bermakna dalam:
Untuk mewujudkan mimpi besar, seseorang tidak perlu tidur panjang — yang dibutuhkan adalah kerja nyata, kolaborasi, dan fokus pada tujuan bersama.
Kerajaan Johor memahami betul hal itu. Mereka tidak hanya membangun tempat wisata, tetapi juga membangun sistem yang memastikan wisatawan datang, merasa aman, dan ingin kembali lagi.
Sebuah Pesan: Jangan Biarkan Surga Itu Hilang

Kita patut bangga dengan alam Indonesia yang luar biasa indah, laksana surga yang tersembunyi di setiap pulau. Namun, kebanggaan saja tidak cukup jika tidak diiringi tindakan nyata.
Mari kita rawat keindahan itu, kita jaga keselamatan wisatawan, dan kita jadikan Pesona Indonesia sebagai Wonderful Indonesia yang sesungguhnya di mata dunia.
Dengan belajar dari semangat Visit Johor 2026, kita bisa memahami bahwa keberhasilan pariwisata bukan hanya tentang rasa punya tetapi tentang keutuhan pengalaman — dari akses, fasilitas, hingga rasa aman yang dirasakan setiap tamu yang datang.***
Penulis adalah pegiat pariwisata Indonesia, Ketua HIPTI sekaligus Founder ASPABRI
- *) Aspabri : Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia
- *) HIPTI : Himpunan Praktisi Tour Leader Indonesia








