Dishub Lingga Tanggapi Keluhan Permainan Tiket di Sungai Tenam

Pelayanan tebang pilih tiket ferry di Pelabuhan Sungai Tenam, Daik Lingga, dikeluhkan calon penumpang. Diduga oknum agen hanya melayani penumpang tertentu.
Pelayanan tebang pilih tiket ferry di Pelabuhan Sungai Tenam, Daik Lingga, dikeluhkan calon penumpang. Diduga oknum agen hanya melayani penumpang tertentu.

BATAMCLICK.COM: Pelayanan tebang pilih tiket ferry di Pelabuhan Sungai Tenam, Daik Lingga, memicu keluhan dari sejumlah calon penumpang. Mereka menilai praktik yang dilakukan oknum agen penjual tiket tidak adil, karena hanya melayani penumpang tertentu, sehingga merugikan masyarakat yang ingin bepergian.

Di tengah kebutuhan mobilitas antarwilayah yang tinggi, terutama menuju Tanjungpinang dan Batam, kejadian ini justru menambah beban calon penumpang. Alih-alih mendapatkan kemudahan, mereka harus menghadapi perlakuan yang dinilai diskriminatif.

Dugaan Praktik Tebang Pilih Tiket

Sejumlah calon penumpang menyebut, oknum agen tiket diduga hanya memberikan tiket kepada penumpang yang menggunakan jasa mobil travel miliknya. Sementara itu, penumpang lain yang datang secara mandiri justru tidak dilayani, meskipun kuota kapal masih tersedia.

Kondisi ini pun menimbulkan pertanyaan besar terkait transparansi dan keadilan dalam pelayanan penjualan tiket di pelabuhan tersebut.

Pengalaman Langsung Calon Penumpang

Salah satu calon penumpang, Edy, mengaku mengalami langsung kejadian tersebut saat hendak membeli tiket kapal MV Oceana dengan tujuan Tanjungpinang dan Batam.

Ia menceritakan, saat berada di loket, agen terlebih dahulu menanyakan kendaraan yang digunakannya untuk menuju pelabuhan. Namun, karena ia tidak menggunakan mobil travel milik agen tersebut, ia justru tidak mendapatkan tiket.

“Dia tanya saya datang ke pelabuhan naik mobil siapa. Karena saya tidak menggunakan mobil travel miliknya, saya tidak mendapatkan tiket,” ujar Edy.

Edy semakin terkejut ketika agen tersebut secara terbuka menyampaikan bahwa tiket hanya tersedia bagi penumpang yang menggunakan jasa travel miliknya.

“Dia bilang, kalau pergi menggunakan mobil travel miliknya tiket ada, tapi kalau tidak pakai travelnya tiket tidak ada,” tambahnya.

Penumpang dan Sopir Travel Sama-sama Dirugikan

Tidak hanya calon penumpang, praktik ini juga berdampak pada sopir travel lain. Mereka menilai tindakan tersebut seolah menutup peluang mereka untuk mendapatkan penumpang.

Akibatnya, persaingan usaha menjadi tidak sehat, sementara penumpang juga kehilangan kebebasan dalam memilih moda transportasi menuju pelabuhan.

“Kalau seperti ini kasihan penumpang. Kami sopir travel lain juga merasa sumber penghasilan seolah ditutup,” ujar salah seorang sopir travel.

Situasi ini pun memperlihatkan bahwa dampak dari praktik tersebut meluas, tidak hanya merugikan pengguna jasa, tetapi juga pelaku usaha transportasi lainnya.

Dishub Lingga Siap Tindak Tegas

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Laut Dinas Perhubungan Kabupaten Lingga, Dicky Kristianto, menegaskan bahwa pihaknya akan segera menelusuri kebenaran informasi yang beredar.

Ia memastikan, jika terbukti terdapat oknum yang melakukan praktik kecurangan, maka pihaknya tidak akan ragu untuk mengambil tindakan tegas.

“Jika dari hasil penelusuran terbukti ada oknum yang bermain, tentu akan kita tindak tegas,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengimbau masyarakat agar aktif melaporkan jika menemukan praktik serupa, sehingga pengawasan dapat berjalan lebih maksimal.

Harapan untuk Pelayanan yang Lebih Adil

Para penumpang dan sopir travel berharap agar pihak berwenang segera mengambil langkah konkret. Mereka ingin memastikan pelayanan penjualan tiket di pelabuhan berlangsung secara adil, transparan, dan tidak diskriminatif.

Dengan perbaikan sistem dan pengawasan yang lebih ketat, masyarakat berharap kejadian serupa tidak terulang kembali, sehingga kepercayaan publik terhadap layanan transportasi laut dapat terjaga dengan baik.