BATAMCLICK.COM: Cedera olahraga inflamasi menjadi permasalahan yang paling sering dialami masyarakat, terutama bagi mereka yang aktif berolahraga. Kondisi ini bahkan lebih banyak terjadi dibandingkan cedera berat seperti robekan otot atau ligamen.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Zeth Boroh, menjelaskan bahwa inflamasi merupakan bentuk kerusakan pada jaringan muskuloskeletal yang meliputi otot, tendon, ligamen, sendi, hingga tulang.
“Kalau bicara tentang cedera olahraga, yang paling sering kita temukan adalah inflamasi, bukan yang robek atau putus,” ujarnya dalam temu media di Jakarta.
Gejala Sering Diabaikan, Padahal Mengganggu Fungsi Gerak
Zeth menjelaskan bahwa inflamasi biasanya ditandai dengan nyeri, pembengkakan, serta memar atau hematoma. Namun, banyak orang kerap mengabaikan gejala tersebut karena menganggapnya ringan.
Padahal, kondisi ini dapat mengganggu fungsi gerak tubuh. Misalnya, otot yang mengalami peradangan tidak mampu berkontraksi dengan optimal, sehingga memicu gangguan fungsi atau functional lesion.
Akibatnya, aktivitas olahraga maupun kegiatan sehari-hari menjadi terganggu.
Pelari Justru Paling Banyak Alami Cedera
Menariknya, cedera inflamasi justru banyak dialami oleh pelari, meskipun olahraga lari dikenal relatif aman.
Zeth mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah pelari menjadi salah satu faktor tingginya kasus cedera. Selain itu, cedera pada pelari umumnya disebabkan oleh overuse atau penggunaan berlebihan.
Gerakan yang dilakukan secara berulang tanpa jeda istirahat yang cukup memicu peradangan, bukan robekan jaringan.
“Banyak pasien saya sekarang justru pelari. Kemungkinan karena jumlah pelari meningkat dan penggunaan otot yang berlebihan,” jelasnya.
Bahaya Cedera yang Dibiarkan: Bisa Menjalar
Zeth menegaskan bahwa kesalahan paling umum adalah menunda penanganan cedera. Banyak orang tetap memaksakan diri berolahraga meski sudah merasakan nyeri.
Kondisi ini justru memicu cedera kompensasi, di mana bagian tubuh lain ikut terbebani.
Misalnya, ketika lutut kanan terasa sakit, seseorang cenderung mengalihkan beban ke kaki kiri. Akibatnya, kaki kiri juga mengalami inflamasi.
Jika dibiarkan, cedera bisa berkembang menjadi kronis dan semakin sulit ditangani.
Penanganan Cepat Jadi Kunci Pemulihan
Untuk mencegah kondisi semakin parah, Zeth menekankan pentingnya penanganan sejak dini. Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation).
Metode ini membantu mempercepat proses inflamasi agar segera mereda dan tidak berkembang menjadi cedera yang lebih serius.
Selain itu, penggunaan obat anti-inflamasi, baik secara oral maupun topikal, juga dapat membantu mempercepat pemulihan.
“Penanganan cedera olahraga harus dilakukan secepat mungkin, bukan hanya untuk mempercepat penyembuhan, tetapi juga untuk mencegah kondisi memburuk,” tegasnya.
Kunci Utama: Jangan Abaikan Nyeri
Pada akhirnya, kesadaran menjadi faktor utama dalam mencegah cedera olahraga yang lebih serius.
Mengenali tanda-tanda inflamasi sejak awal, menghentikan aktivitas saat nyeri muncul, serta melakukan penanganan yang tepat akan membantu menjaga tubuh tetap sehat dan bugar.
Dengan begitu, olahraga tetap bisa dilakukan secara aman tanpa risiko cedera berkepanjangan.








