Strategi Flipped Classroom (FC) untuk Pelatihan Inspektur Pipa Proses pada Industri Migas

BATAMCLICK.COM: Artikel ini menjelaskan penerapan strategi flipped classroom (kelas terbalik) pada proses pelatihan tenaga ahli piping inspector  untuk industri Migas. Sebelum menjelaskan lebih jauh, kita perlu perjelas apa yang dimaksud dengan flipped classroom (kelas terbalik) ini. Kelas terbalik adalah desain instruksional yang bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan dan pembelajaran siswa, membuat siswa menyelesaikan membaca di rumah, dan mempraktikkan pemecahan masalah selama jam pelajaran. Dalam ruang kelas dibalik, siswa mengamati kuliah umum, berkolaborasi dalam diskusi online, dan belajar di rumah sambil secara aktif mengerjakan ide di kelas dengan guru pembimbing mereka.

Kelas terbalik dengan sengaja dibuat untuk beralih ke model instruksional yang berpusat pada siswa, di mana siswa pertama kali diperkenalkan ke materi pelajaran baru di luar kelas, membebaskan waktu di dalam kelas untuk mengeksplorasi topik dan menciptakan peluang belajar yang bermakna. Di kelas terbalik, “bahan pelajaran” yang diterima terlebih dahulu dan harus dipelajari siswa sebelum pertemuan kelas yang dapat berbentuk video yang disiapkan oleh guru atau oleh pihak ketiga, bahan bacaan digital, tugas berbentuk e-Learning dan diskusi kelompok jika diperlukan.

Berikut adalah beberapa keuntungan menggunakan metode kelas terbalik  menurut Bergmann & Sams, Pertama, FC  menjawab tantangan siswa masa kini. Siswa kini sudah terbiasa mengerjakan PR sambil berkomunikasi dengan teman melalui SMS, media sosial (Facebook, WhatsApp, Instagram dll) dan mendengarkan musik melalui handphone/mp3. Siswa sekarang adalah generasi digital. Perangkat digital mereka seperti ponsel, tablet, iPad dan laptop lebih canggih dari komputer sekolah.

Dengan menggunakan model flipping, pendidik dapat mengintegrasikan video/budaya digital ke dalam pembelajaran tanpa menentang atau melarangnya. Pembelajaran lebih mudah dicerna dan dipahami siswa ketika mereka dapat menggunakan berbagai alat digital di dalam kelas. Kedua, dengan penerapan FC dalam pembelajaran, para siswa ini tidak mengalami kesulitan dalam memahami isi pelajaran. Siswa juga dapat memperoleh materi terlebih dahulu menggunakan video instruksional yang disediakan atau web pembelajaran. Ketika mereka datang ke sekolah, mereka hanya perlu bertanya apa yang mereka tidak mengerti atau diskusikan dengan teman saat mereka menyelesaikan tugas kelas mereka. Itulah beberapa keunggulan metode FC yang diterapkan di sekolah, banyak keunggulan lain yang belum di uraikan di sini yang dapat di akses di laman https://id.wikipedia.org/wiki/Kelas_terbalik.

Beberapa studi mengenai kelas terbalik menunjukkan hasil yang beragam. Siswa berpartisipasi dalam pedagogi kelas terbalik, di mana pelajaran berlangsung melalui video, tugas dan bahan bacaan  di rumah dan penerapan konsep yang dipelajari berlangsung di kelas. Pada akhir intervensi, siswa menunjukkan kinerja akademik yang lebih tinggi dalam pedagogi kelas terbalik karena pendekatan kelas terbalik memberikan perancah dan diferensiasi. Dalam penelitian lain menunjukkan bahwa kelas terbalik memiliki dampak langsung pada pembelajaran siswa (atau nilai), terutama di kalangan siswa yang sangat terlibat (dengan nilai sekitar 1,5 poin lebih tinggi). Selain itu, nilai standar deviasi kelas lebih rendah (sekitar satu poin), yang memastikan tingkat siswa yang lebih baik secara keseluruhan. Ada juga penelitian yang menunjukkan siswa agak skeptis tentang metodologi baru ini, tetapi mereka cenderung bekerja lebih banyak (12% siswa bekerja lebih banyak per minggu), menghadiri lebih banyak kelas (setidaknya 10% lebih banyak) dan menghadiri rasio ujian yang lebih tinggi (sekitar 20% ).

BACA JUGA:   Media Gathering, BPJS Kesehatan Sampaikan Kemudahan Layanan Peserta JKN

Penelitian menunjukkan bahwa penerapan flipped classroom pada mata pelajaran teknik kurang mendapat perhatian dan saat ini hanya ada beberapa penelitian saja.  Penelitian van Alten dkk menemukan sedikit pengaruh positif terhadap hasil belajar tetapi tidak berpengaruh terhadap kepuasan siswa terhadap lingkungan belajar. Selain itu, mereka menemukan heterogenitas yang signifikan antara studi. Penelitian menunjukkan bahwa siswa di kelas terbalik mencapai hasil belajar yang lebih tinggi ketika waktu kehadiran tidak dikurangi dibandingkan dengan kelas tanpa membalik atau ketika kuis ditambahkan ke kelas terbalik. Mereka menyimpulkan bahwa pendekatan flipping-the-classroom (FTC) adalah pendekatan pedagogis yang menjanjikan bila dirancang dengan benar. Tang dalam penelitian mereka menunjukkan bahwa siswa umumnya tidak puas dengan pembelajaran online, dan terutama dengan cara komunikasi dan tanya jawab. Selain itu, menggabungkan model pembelajaran online dengan pembelajaran terbalik meningkatkan pembelajaran siswa, perhatian, dan penilaian kursus. Dalam artikelnya, studi lain menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut ke dalam kelas terbalik dan mendukung pengembangan pendidikan

Perkembangan teknologi memicu kreativitas di segala bidang kehidupan termasuk dalam pembelajaran. Dampak pandemi Covid-19 juga merambah bidang pendidikan dan pengajaran. Internet dan wabah Covid-19 telah memungkinkan diterapkannya pembelajaran jarak jauh secara langsung secara online di semua jenjang pendidikan, baik Pendidikan Dasar Menengah (K12) maupun perguruan tinggi. Pendidikan dan pelatihan telah terguncang sejak pandemi COVID-19 meninggalkan komunitas global dalam kebingungan besar yang berkembang pada kuartal pertama tahun 2020. Sektor pelatihan juga terkena dampak dari wabah Covid-19 yang mengakibatkan banyak lembaga pelatihan yang mengadakan kegiatan tatap muka mengalami kekurangan peserta pelatihan dan kemungkinan juga menghentikan beberapa kegiatan pelatihannya. Menurut surat kabar online Pikiran Rakyat Bandung per 21 April 2020, sekitar 85% dari 19.000 penyelenggara pelatihan menghadapi kesulitan keuangan akibat dampak wabah Covid-19 akibat terbatasnya pertemuan tatap muka.

Dalam dunia profesi inspektur, pelatihan berkelanjutan adalah suatu keharusan untuk bersaing dalam pekerjaan dan bisnis. Pekerjaan sebagai inspektur menuntut lokasi yang biasanya terpencil dan transportasi yang terbatas. Pelatihan ini juga melibatkan orang dewasa yang memiliki tanggung jawab lain seperti keluarga dan pekerjaan. Keterbatasan waktu, masalah keuangan dan prioritas keluarga menjadi kendala bagi orang dewasa dalam menjalani pelatihan. Perlunya strategi pembelajaran yang fleksibel dengan waktu yang tepat dan tetap memungkinkan peserta pelatihan berinteraksi selama proses pelatihan dengan instruktur maupun sesama peserta pelatihan. Pembelajaran jarak jauh dengan metode flipped classroom, merupakan salah satu alternatif pelatihan orang dewasa, walaupun masih terdapat kendala dalam pembelajaran jarak jauh yang perlu diperhatikan. Flipped classroom yang merupakan cara pembelajaran dengan membalikkan taksonomi bloom yang memberikan waktu kepada peserta untuk mengetahui dan memahami materi pembelajaran (dikategorikan sebagai LOTs atau Low Order Thinking skills) sebelum pertemuan dan selanjutnya pada saat pelatihan dan sesudahnya dapat menerapkan materi pelatihan ( dikategorikan sebagai HOTs atau High Order Thinking skills).

BACA JUGA:   Pochettino Apresiasi Performa Mbappe dkk

Pemberian pelatihan oleh lembaga pelatihan tentu memiliki ragam metode. Konsep yang ditawarkan juga memberikan pengaruh pemahaman terhadap peserta pelatihan. Hal ini erat kaitanya dengan permasalahan waktu, lokasi peserta dan jenis bahan hingga beban kerja (tugas) yang diberikan. Selain itu, minat masyarakat cukup tinggi untuk bekerja di bidang migas, bukan hanya mereka yang sudah bekerja, keinginan ini juga datang dari masyarakat yang masih baru lulus dari sekolah teknik. Mereka mengambil pelatihan guna mempersiapkan diri ketika suatu saat dibutuhkan oleh industri.

Gambar 1.  Statistik tenaga Certified Inspector bidang Migas (Sumber: American Petroleum Insitute, per tanggal 30 April 2021)

Data statistik dari American Petroleum Institute pada tahun 2021 (lihat Gambar 1) menunjukkan bahwa SDM Indonesia dalam bidang inspeksi migas belum cukup significant untuk di tampilkan, Indonesia masih kalah bersaing dengan Malaysia dan Singapura.  Tenaga ahli pemeriksa sistem pipa proses merupakan keahlian yang diperlukan industri MIGAS sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pertumbuhan industri, karena berperan dalam memastikan pipa proses sesuai spesifikasi keamanan termasuk proses kualitas pembuatannya.

Dari hal diatas, penulis meneliti penerapan Strategi Flipped Classroom (FC) untuk pelatihan inspektur pipa proses pada industry pengolahan migas. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Lembaga Pelatihan IKBAL-M-YOS Batam yang telah berdiri sejak tahun 2000 lalu. Lembaga Pelatihan IKBAL-M-YOS telah mempunyai sekitar 5000 alumni dengan berbagai bidang keahlian. Lebih detail mengenai IKBAL-M-YOS dapat dilihat pada laman https://www.ikbalmyos.com/about-us/history.html.

Penelitian ini telah dilakukan dengan menggunakan model pengembangan pendekatan research and development (R&D). Menurut Seals dan Richey definisi penelitian dan pengembangan (R&D), itu adalah proses sistematis mengevaluasi desain, pengembangan, dan evaluasi kurikulum, proses, dan produk yang memenuhi kriteria validitas, reliabilitas, dan efektivitas. Prosedur pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model penelitian dan pengembangan ADDIE (analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi).

Penelitian ini mengungkap bahwa terdapat 19 kompetensi yang harus diajarkan kepada peserta pelatihan piping inspector dengan menggunakan desain instruksional berbasis flipped classroom yang dibutuhkan industri migas yang harus dikuasai oleh peserta pelatihan. Desain pelatihan telah divalidasi para ahli dan dinyatakan valid. Hasil uji efektifitas menunjukkan bahwa Desain yang dikembangkan efektif meningkatkan hasil belajar peserta pelatihan piping inspector sehingga dapat meningkatkan kompetensi pekerja di bidang piping inspector dengan hasil yang baik pada Lembaga Pelatihan IKBAL-M-YOS Batam. Hasil uji praktikalitas menunjukkan bahwa Instruktur Pelatihan dan para peserta memberikan persepsi yang positif terhadap Desain Pelatihan berbasis Flipped Classroom yang telah dikembangkan pada Lembaga Pelatihan IKBAL-M-YOS Batam. Temuan pada penelitian ini adalah bahwa dengan menggunakan Desain Instruksional MPI (Metode Pengembangan Instruksional) dari Atwi dengan pengayaan pada tahap strategi Instruksional menggunakan framework dari Talbert yang spesifik mengenai flipped classroom untuk Higher Education maka didapat suatu Desain Instruksional baru yang spesifik digunakan berbasis flipped classroom (lihat Gambar 2).  Desain

BACA JUGA:   Liverpool Rekrut Ibrahima Konate
Gambar 2.  Desain Instruksional yang digunakan dalam penelitian pelatihan berbasis flipped classroom

Instruksional yang berbasis flipped classroom lebih mudah di replikasi atau dikembangkan untuk jenis pelatihan yang lain dan juga dapat dengan mudah diajarkan pada pihak perguruan tinggi yang sudah familiar dengan Desain Instruksional.

Implikasi dari penelitian ini bahwa Pengelolaan dan pelaksanaan pelatihan lebih baik dan terstruktur dan perlu koordinasi lebih erat dengan Lembaga pelatihan dengan instruktur. Peserta mendapatkan perubahan paradigma mengenai proses pelatihan yang mandiri yang dimulai dengan melakukan tugas-tugas individual secara lengkap belajar secara contextual learning, kedisiplinan, keteladanan dan pembiasaan. Lembaga Pelatihan perlu untuk memberikan tambahan team yang membantu instruktur untuk memastikan bahwa tiap individu paham konsep pembelajaran flipped classroom dan tugas individual setiap peserta pelatihan telah tuntas. Diharapkan pula bahwa bertambahnya khazanah ilmu pengetahuan sehingga desain instruksional ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk menambah pengetahuan dalam bidang pelatihan di bidang migas dan bidang pelatihan secara umum.

Proses penelitian telah dilaksanakan semaksimal mungkin oleh peneliti melalui tahapan-tahapan sesuai dengan prosedur penelitian, namun masih terdapat beberapa keterbatasan dalam proses. Beberapa hal yang mungkin mempengaruhi hasil dari penelitian yang tidak mungkin dikontrol sepenuhnya oleh peneliti. Hal ini dianggap sebagai keterbatasan penelitian, antara lain, bahwa 1) persepsi desain instruksional berbasis flipped classroom   sebagai uji praktikalitas desain instruksional pembelajaran tidak dapat diberikan kepada dunia industri MIGAS secara menyeluruh, karena keterbatasan waktu dan jaringan yang dimiliki oleh peneliti, 2) Memerlukan waktu yang lama untuk dapat mengaplikasikan desain instruksional berbasis flipped classroom ini secara lebih luas mengingat mahalnya biaya pelatihan yang harus ditanggung oleh peserta pelatihan , 3) Kompetensi lulusan dapat juga dilakukan dengan memberikan angket atau survey kepada pihak industri ini tentang observasi para lulusan di tempat kerja dan juga kepuasan pihak industri terhadap kinerja lulusan, kerjasama dengan pihak industri MIGAS sangat diperlukan untuk meneliti lebih lanjut kompetensi para lulusan.

Artikel ini ditulis oleh Dr.(c), Ir. Abdullah Merjani, S.T., M.T. berdasarkan disertasi untuk penyelesaian Program Doktor (S3) Pendidikan Teknologi Kejuruan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang (UNP) dengan Tim Promotor Prof. Jalius Jama, M.Ed., Ph.D., dan Co-Promotor Prof. Dr. M.Giatman, MSIE. yang telah lulus diseminarkan pada ujian tertutup tanggal 26 Juli 2022 pukul 14.00 dengan Tim Penguji yaitu Prof. Ganefri, Ph.D., Dr. Fahmi Rizal, M.Pd., M.T., Prof. Dr. Ambiyar, M.Pd., Prof. Dr. Nizwardi Jalinus, M.Ed., Dr. Sukardi, M.T., dan Prof. Dr. Rika Ampuh Hadiguna, S.T., M.T. (Penguji Eksternal dari Universitas Andalas)

Gambar 3.  Foto penulis Bersama para penguji setelah Ujian Sidang Tertutup Disertasi di Fakultas Teknik, Program Pasca Universitas Negeri Padang