BATAMCLICK.COM: Hari-hari libur sering membawa cerita. Di Terminal Feri Internasional Batam Centre, Kepulauan Riau, cerita itu datang dalam bentuk koper-koper besar, anak-anak yang tertidur di pelukan ibunya, dan wajah-wajah yang tak sabar menyeberang ke seberang negara.
Libur panjang Waisak 2025 menjadi momen tersibuk bagi pelabuhan ini. Sejak Jumat, 9 Mei, hingga Selasa, arus penumpang terus mengalir tanpa henti, membawa semangat liburan, rindu keluarga, atau sekadar jeda dari rutinitas.
“Untuk kedatangan warga negara asing (WNA) dari Singapura saja, tercatat sekitar 12.577 penumpang. Sementara warga negara Indonesia (WNI) yang berangkat ke luar negeri, khususnya Senin 12 Mei, jumlahnya sekitar 4.000 orang,” ujar Erik Mario Sihotang, Staf Kepala Pos Kesyahbandaran Pelabuhan Batam Centre, Selasa.
Lonjakan ini tak bisa diabaikan begitu saja. Untuk memastikan semua tetap berjalan lancar, pengelola pelabuhan menambah sembilan kapal—tujuh kapal menuju Singapura dan dua ke Malaysia, yang beroperasi sejak 9 hingga 13 Mei.
Namun, bahkan dengan tambahan itu, cerita lain pun muncul—penumpang yang tak kebagian kursi ke Malaysia. “Beberapa penumpang terpaksa kami arahkan ke Pelabuhan Harbor Bay karena kapal di Batam Centre penuh,” kata Erik.
Berbeda dengan Singapura yang dilayani hingga 50 trip per hari, rute ke Malaysia hanya sekitar 20 trip. Ketimpangan ini menjadi tantangan tersendiri saat lonjakan penumpang terjadi.
Tak hanya soal kapal. Di lantai dasar terminal, penumpukan penumpang menjadi pemandangan yang tak bisa dihindari. Petugas sibuk mengatur arus agar tetap tertib. “Kami prioritaskan penumpang yang akan berangkat satu jam sebelum keberangkatan untuk naik ke atas. Tapi yang menjadi kendala, ponton dermaga kami terbatas. Ketika kapal bertambah, operasional jadi ikut tersendat,” jelas Erik.
Meski penuh tantangan, suasana di terminal tetap hidup. Di balik antrean panjang, ada tawa anak-anak, pelukan perpisahan, dan obrolan singkat tentang tempat-tempat yang akan dikunjungi.
Bagi pengelola Terminal Batam Centre, ini bukan sekadar soal angka atau logistik. Ini tentang menjaga arus harapan, rindu, dan semangat yang datang dan pergi bersama gelombang liburan.
Dan Batam, seperti biasa, berdiri gagah di tengahnya—sebagai gerbang yang membuka banyak kemungkinan, satu keberangkatan pada satu waktu.***
Sumber: Antara
Editor&Foto: Bosanto








