BATAMCLICK.COM: Di sebuah lahan kosong yang dulu hanya dipenuhi ilalang dan debu, kini tumbuh harapan dalam bentuk pohon-pohon kecil berjajar rapi. Sebanyak 250 pohon jengkol ditanam oleh Kepolisian Resor (Polres) Lingga, Kepulauan Riau, sebagai simbol cinta terhadap alam, sekaligus bentuk nyata kepedulian mereka terhadap masa depan lingkungan.
Aksi sederhana ini dilakukan tanpa seremoni mewah, namun sarat makna. Kapolres Lingga, AKBP Pahala Martua Nababan, menegaskan bahwa menanam pohon bukan hanya soal menghijaukan lahan, tapi juga menanam nilai, tanggung jawab, dan warisan bagi generasi mendatang.
“Ini investasi penting untuk masa depan. Kita tak hanya memperluas ruang hijau, tapi juga menunaikan tanggung jawab moral sebagai manusia terhadap bumi yang kita tempati,” ucapnya dari Batam, Selasa.
Mengapa jengkol? Pohon ini bukan hanya sekadar tanaman yang mudah tumbuh di tanah lokal, tapi juga memiliki nilai ekonomi dan budaya. Digemari oleh masyarakat sekitar dan personel Polres sendiri, jengkol jadi pilihan yang dirasa paling membumi—secara harfiah dan emosional. Menariknya, bibit jengkol yang ditanam pun dibeli dari petani lokal, memperkuat semangat gotong royong dan pemberdayaan warga.
“Kalau nanti sudah berbuah, ya silakan dinikmati. Ini bukan untuk kami saja, tapi juga untuk masyarakat,” kata Kapolres tersenyum.
Gerakan ini bukan sekadar aksi seremonial satu kali. Dalam dua bulan terakhir, Polres Lingga telah menanam berbagai jenis pohon produktif di sejumlah titik—mulai dari Polsek Dabo, Kecamatan Senayang, Singkep Barat, hingga Daek Lingga. Ini adalah upaya jangka panjang menuju penghijauan berkelanjutan.
Kasi Propam Polres Lingga, Ipda Jenris Sihombing, menambahkan bahwa program ini adalah bagian dari komitmen institusi Polri untuk hadir bukan hanya sebagai penjaga hukum, tetapi juga sebagai pelindung lingkungan hidup.
“Penanaman ini baru langkah awal. Kami ingin Polri dikenal sebagai institusi yang peduli dan aktif menjaga kelestarian alam,” ujarnya.
Lebih dari itu, ia berharap apa yang dilakukan jajarannya bisa menjadi inspirasi. Bahwa semua orang—siapa pun—punya peran untuk menjaga bumi. Bahwa lahan kosong bisa disulap menjadi ladang manfaat, jika ada kemauan untuk menanam dan merawat.
“Gerakan kecil seperti ini, jika dilakukan bersama-sama dan terus-menerus, akan memberi dampak besar. Kami mengajak masyarakat ikut bergerak. Menanam satu pohon saja sudah cukup untuk membuat perbedaan,” tuturnya.
Pohon jengkol yang mereka tanam bukan sekadar pepohonan biasa. Ia bagian dari suku polong-polongan (Fabaceae) yang kuat beradaptasi dengan iklim lokal dan memiliki potensi ekonomi. Selain keteduhan, ia juga membawa peluang dan kemandirian bagi masa depan.
Dan di sanalah, di tengah-tengah tanah yang mulai hijau, para polisi berdiri bukan dengan senjata, tapi dengan cangkul dan semangat. Menanam bukan untuk hari ini, tapi untuk esok yang lebih baik.
Sumber: Antara









