BATAMCLICK.COM: Mentan bongkar mafia pangan dan sekaligus mendesak aparat untuk tidak berhenti pada pelaku lapangan. Andi Amran Sulaiman secara tegas meminta Satgas Pangan Polri mengusut hingga ke akar jaringan penyelundupan bawang bombai dan cabai kering ilegal di Pontianak.
Ia menilai kasus ini bukan pelanggaran biasa, melainkan bagian dari jaringan besar yang terorganisir.
“Kami minta diusut sampai ke akar. Aktor intelektualnya harus dibongkar. Ini jaringan besar, bukan kasus biasa,” tegasnya.
23 Ton Pangan Ilegal Digagalkan
Kasus ini mencuat setelah aparat berhasil menggagalkan penyelundupan komoditas pangan ilegal dalam jumlah besar. Total barang bukti mencapai 23,1 ton yang disita dari dua lokasi di Pontianak.
Rinciannya meliputi bawang merah asal Thailand, bawang putih dari China, bawang bombai dari Belanda dan India, serta cabai kering asal China.
Meski demikian, Amran menilai penindakan ini baru langkah awal. Ia mengapresiasi respons cepat aparat, tetapi menekankan bahwa pengusutan harus menembus hingga ke aktor utama di balik praktik ilegal tersebut.
Pola Berulang, Jaringan Terorganisir
Menurut Amran, kasus di Pontianak bukan kejadian tunggal. Ia menyebut praktik serupa terus berulang di berbagai daerah dengan pola yang sama.
Dalam beberapa bulan terakhir, aparat berhasil menggagalkan penyelundupan dalam skala jauh lebih besar, mulai dari ratusan hingga ribuan ton.
Temuan tersebut memperkuat dugaan adanya jaringan mafia pangan yang terstruktur dan memiliki kekuatan besar.
“Ini pola yang sama, berulang, dan terorganisir. Skalanya sudah ratusan sampai ribuan ton,” ujarnya.
Ancaman Serius bagi Petani Lokal
Masuknya pangan ilegal bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga ancaman nyata bagi petani dalam negeri. Amran menegaskan bahwa praktik ini merusak harga pasar dan melemahkan produksi lokal.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia sudah mencapai swasembada bawang merah. Karena itu, tidak ada alasan logis bagi produk ilegal untuk masuk selain untuk merusak keseimbangan pasar.
Selain itu, petani cabai juga menjadi pihak yang paling terdampak. Saat panen raya, harga kerap anjlok, dan kehadiran produk ilegal semakin memperparah kondisi tersebut.
“Petani cabai kita sering mengeluh harga hancur saat panen. Jangan disakiti lagi,” tegasnya.
Celah Panjangnya Garis Pantai
Amran juga menyoroti kondisi geografis Indonesia yang memiliki garis pantai sangat panjang. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh jaringan penyelundup untuk memasukkan barang ilegal melalui jalur tidak resmi.
Ia menilai celah ini harus segera ditutup melalui kerja sama lintas sektor, mulai dari aparat penegak hukum hingga pemerintah daerah.
“Dengan garis pantai yang panjang, celah itu dimanfaatkan oleh oknum. Ini yang harus kita tutup bersama,” ujarnya.
Kepentingan Besar di Balik Mafia Pangan
Lebih jauh, Amran mengungkap bahwa praktik ini tidak berdiri sendiri. Ia menduga ada pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan Indonesia mencapai kemandirian pangan.
Menurutnya, kepentingan tersebut mendorong upaya sistematis untuk merusak pasar dan melemahkan produksi dalam negeri.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa persoalan pangan tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut kedaulatan nasional.
Komitmen Perkuat Pengawasan
Untuk menghadapi ancaman ini, Kementerian Pertanian akan terus memperkuat koordinasi dengan aparat penegak hukum. Langkah ini dilakukan untuk menutup jalur masuk pangan ilegal sekaligus memastikan distribusi berjalan sesuai aturan.
Amran menegaskan bahwa upaya ini bukan sekadar penegakan hukum, melainkan bagian dari perlindungan terhadap petani dan masa depan pangan Indonesia.
“Ini bukan hanya soal hukum. Ini soal melindungi petani dan menjaga kedaulatan pangan Indonesia,” tutupnya.
Melawan Mafia, Menjaga Kedaulatan
Kasus di Pontianak menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap sektor pangan masih nyata. Namun, dengan langkah tegas dan koordinasi kuat, pemerintah berupaya memastikan petani tetap terlindungi.
Di tengah tekanan tersebut, satu pesan menjadi jelas: melawan mafia pangan bukan pilihan, melainkan keharusan demi menjaga kedaulatan Indonesia.









