BATAMCLICK.COM: Komunikasi berbasis empati kini menjadi fondasi penting dalam menghadapi derasnya arus informasi global yang bergerak semakin cepat. Di tengah perkembangan teknologi dan dinamika sosial yang terus berubah, kemampuan memahami audiens secara mendalam menjadi keunggulan yang tidak bisa diabaikan.
Pesan ini disampaikan Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, saat membekali ratusan mahasiswa dalam Seminar Komunikasi dan Kehumasan yang digelar Perhimpunan Hubungan Masyarakat di Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari, Banjarmasin.
Lebih dari Sekadar Menyampaikan Pesan
Dalam paparannya, Benny menegaskan bahwa komunikasi tidak lagi sekadar alat untuk menyampaikan informasi. Sebaliknya, komunikasi telah berkembang menjadi instrumen strategis yang mampu menghidupkan organisasi dalam merespons perubahan lingkungan.
Ia menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi ketidakpastian global yang ditandai oleh perubahan sosial yang cepat dan arus informasi yang masif di berbagai platform digital. Kondisi tersebut berpotensi memicu kecemasan publik jika tidak dikelola dengan pendekatan komunikasi yang tepat.
Karena itu, komunikasi harus mampu membangun kepercayaan sekaligus menjaga hubungan yang kuat antara institusi dan masyarakat.
Empati Jadi Pembeda di Tengah Kebisingan Informasi
Di tengah banjir informasi, kecepatan bukan lagi satu-satunya ukuran keberhasilan komunikasi. Benny menekankan bahwa efektivitas komunikasi justru ditentukan oleh kemampuan memahami konteks, situasi, dan kebutuhan audiens secara menyeluruh.
Komunikasi berbasis empati hadir sebagai pembeda utama. Pendekatan ini memungkinkan penyampai pesan menciptakan kedekatan emosional, sehingga pesan lebih mudah diterima dan dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat.
Selain itu, komunikasi yang disampaikan secara spontan dan natural sering kali terasa lebih jujur, karena muncul dari respons langsung terhadap situasi tanpa rekayasa berlebihan.
SDM Komunikasi Harus Adaptif dan Peka Sosial
Benny juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang komunikasi. Ia menilai praktisi komunikasi tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus memiliki sensitivitas sosial yang tinggi.
Kemampuan berpikir kritis menjadi elemen penting agar pesan yang disampaikan tidak hanya informatif, tetapi juga mampu membangun pemahaman yang utuh di tengah masyarakat.
Dengan kombinasi tersebut, komunikasi tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga membentuk persepsi dan kepercayaan publik.
Komitmen Perhumas Tingkatkan Kompetensi
Sebagai organisasi profesi, Perhimpunan Hubungan Masyarakat terus berupaya meningkatkan kompetensi para praktisi komunikasi di Indonesia.
Melalui berbagai program pelatihan, sertifikasi, dan pengembangan profesional, Perhumas ingin memastikan bahwa para pelaku komunikasi mampu mengikuti perkembangan zaman sekaligus menjawab tantangan komunikasi modern.
Upaya ini menjadi penting agar komunikasi di Indonesia tidak hanya cepat, tetapi juga berkualitas, berempati, dan mampu membangun hubungan yang kuat di tengah masyarakat yang semakin dinamis.








