Alasan Anak Putus Sekolah Akibat Corona: Nunggak SPP-Kecanduan Game Online

BATAMCLICK.COM, Pandemi COVID-19 mengubah banyak kehidupan manusia, termasuk di bidang pendidikan. Bahkan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat terjadi peningkatan jumlah anak yang putus sekolah.

Hal itu berdasarkan hasil pengawasan KPAI selama Januari-Februari 2021 di Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma dan Provinsi DKI Jakarta. Selain pemantauan, pihaknya juga melakukan wawancara dengan guru serta kepala sekolah yang masuk dalam Federasi Serikat guru Indonesia (FSGI).

Menurut Anggota KPAI Retno Listyarti ada lima faktor yang menyebabkan jumlah anak putus sekolah meningkat selama pandemi, yakni karena menikah, bekerja, menunggak uang iuran SPP, kecanduan game online dan meninggal dunia.

Alasan Anak Putus Sekolah Akibat Pandemi COVID-19:

  1. Menikah

KPAI mencatat ada 33 anak yang berhenti sekolah karena menikah. Jumlah tersebut didapat dari pengawasan di daerah kabupaten Seluma, Kota Bengkulu dan Kabupaten Bima.

Rata-rata siswa yang menikah duduk di bangku kelas 12 SMA. Pihak sekolah sendiri baru mengetahui peristiwa tersebut ketika dilakukan ‘home visit’ karena peserta tidak lagi mengikuti PJJ.

  1. Bekerja
BACA JUGA:   Agen Haaland Kunjungi Barca-Madrid, Ini Komentar Dortmund

KPAI mendapatkan data bahwa ada siswa SMK dan SMP yang terpaksa bekerja untuk membantu orang tua. Sebab, keluarganya terkena dampak secara ekonomi selama pandemi sehingga ia memutuskan untuk putus sekolah.

Adapun, satu siswa SMP di Cimahi bekerja sebagai tukang bangunan. Satu siswa lainnya di Jakarta. bekerja di percetakan yang merupakan usaha orang tuanya.

  1. Menunggak Iuran SPP

Menunggak iuran SPP menjadi kasus yang paling tinggi dilaporkan ke KPAI. Terhitung mulai dari Maret 2020 sampai Februari 2021 ada 34 kasus yang mana 90% berasal dari sekolah swasta dan 75% untuk jenjang SMA/SMK.

Kejadian ini merupakan dampak dari pandemi COVID-19, di mana kondisi ekonomi ikut terdampak, sehingga keluarga sulit dan menunggak berbulan-bulan untuk membayar SPP.

“Rata-rata yang mengadu sudah tidak membayar SPP 6-11 bulan, faktor ekonomi keluarga yang terpuruk selama pandemi menjadi penyebab utama,” jelas Retno.

  1. Kecanduan Game Online
BACA JUGA:   Fitri Carlina Bocorkan Tanggal Pernikahan Rizky Billar dan Lesti Kejora

Alasan anak putus sekolah lainnya adalah peserta didik mengalami kecanduan game online. Saat pengawasan di kota Cimahi, KPAI mendapatkan data ada 2 anak kelas 7 SMP yang berhenti sekolah karena kecanduan game online,

Bahkan, satu di antaranya berhenti sementara atay cuti selama 1 tahun untuk proses pemulihan secara psikologi. “Kisah dari para guru di beberapa daerah juga menunjukkan fakta yang mengejutkan, bahwa anak-anak yang pagi hari tidak muncul di PJJ online ternyata masih tidur karena main game online hingga menjelang Subuh,” papar Retno.

  1. Meninggal Dunia

Alasan terakhir anak putus sekolah karena meninggal dunia. Hasil pemantauan mendapatkan siswa meninggal dunia karena terseret arus ketika bencana banjir Januari lalu, dan satu lagi meninggal karena kecelakaan motor. Sehingga, berdasarkan data KPAI, ada 2 siswa yang meninggal pada semester genap tahun ajaran 2020/2021.

BACA JUGA:   Kaesang Klarifikasi, Sudah Minta Putus Baik-Baik dengan Felicia Tissue

Untuk itu, KPAI merekomendasikan beberapa hal, seperti mendorong sinergi antara pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan pemetaan peserta didik yang putus sekolah. Dengan begitu, pemerintah bisa melakukan pencegahan peristiwa serupa.

Kemudian, pemerintah diminta untuk membantu anak-anak yang berasal dari keluarga miskin terkait masalah menikah, bekerja, hingga menunggak iuran SPP. Untuk kasus kecanduan game online, Retno menyarankan kepada orang tua untuk melakukan pendampingan dan pengawasan kepada anak-anaknya.

Terakhir, terkait kasus anak putus sekolah akibat pandemi COVID-19, Dinas Pendidikan di berbagai daerah harus melakukan pembinaan dan memberi sanksi tegas pada sekolah yang tidak memberikan akses PJJ atau mengeluarkan siswa karena menunggak SPP. Pemerintah Daerah juga diminta membantu sekolah yang anak-anaknya mayoritas dari keluarga tidak mampu demi mencegah risiko putus sekolah. (mat)

sumber: detikcom