BATAMCLICK.COM: Pusaka Bugis di Kepulauan Riau bukan sekadar benda tua yang tersimpan rapi di dalam rumah. Di balik setiap bilah badik dan keris, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan leluhur Bugis yang ikut membentuk sejarah Kepulauan Riau.
Di atas sebuah meja, sembilan bilah pusaka tertata rapi. Sebagian berupa badik, sementara sebagian lainnya berupa keris. Sarung kayu berwarna kemerahan berpadu dengan ukiran logam yang menghiasi gagang dan warangka. Bagi banyak orang, benda-benda itu mungkin hanya peninggalan masa lampau. Namun bagi Ady Indra Pawennari, setiap bilah menyimpan jejak sejarah yang harus dijaga.
Berawal dari Mimpi yang Terus Berulang
Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kepulauan Riau itu mengaku tidak pernah merencanakan menjadi kolektor pusaka. Semuanya bermula dari sebuah mimpi yang terus datang berulang kali.
Dalam mimpi tersebut, Ady merasa mendapat petunjuk untuk mencari sebuah pusaka yang telah lama terpendam di dalam tanah. Rasa penasaran mendorongnya untuk menelusuri berbagai petunjuk yang ia yakini sebagai pesan dari para pendahulu.
“Dari situ saya mulai mencari. Saya percaya ini bukan soal memiliki benda, tetapi menjaga warisan leluhur agar tidak hilang,” ujar Ady.
Saat itu, pencarian pusaka terjadi beriringan dengan dinamika pemilihan Ketua KKSS Kepri. Nama Ady mulai banyak disebut oleh para tokoh Bugis untuk memimpin organisasi tersebut.
Namun, ia justru tidak pernah membayangkan akan memegang amanah itu. Dalam berbagai pertemuan, ia lebih sering mendorong tokoh-tokoh senior untuk maju karena merasa mereka lebih berpengalaman dan lebih layak.
Dukungan yang Datang di Luar Perkiraan
Semakin Ady mendorong tokoh lain untuk maju, semakin banyak dukungan yang justru mengarah kepadanya. Namanya terus muncul dalam berbagai diskusi dan pertemuan masyarakat Bugis di Kepulauan Riau.
Kondisi itu membuatnya memilih menenangkan diri. Ia kemudian mendatangi sejumlah makam tokoh dan leluhur Bugis yang memiliki peran penting dalam sejarah Kepulauan Riau.
Di antaranya adalah makam Daeng Marewah dan Daeng Celak. Di tempat-tempat bersejarah tersebut, Ady bermunajat dan memohon petunjuk kepada Allah SWT.
“Saya datang bukan meminta jabatan. Saya hanya meminta petunjuk. Kalau memang ini amanah, semoga diberikan kekuatan. Kalau bukan, semoga dijauhkan,” tuturnya.
Menemukan Badik di Pekarangan Rumah
Perjalanan menjaga pusaka Bugis semakin berkesan ketika Ady menemukan sebuah badik tua di halaman rumahnya sendiri.
Peristiwa itu terjadi saat ia berolahraga setelah salat Subuh. Setiap kali melewati salah satu titik di jogging track rumahnya, ia mengaku selalu merasakan sensasi yang berbeda.
Awalnya ia mengabaikan perasaan tersebut. Namun lama-kelamaan, rasa penasaran semakin kuat.
Suatu malam, dua tamu datang berkunjung ke rumahnya. Sebelum pulang, Ady mengajak keduanya melewati lokasi yang sama. Saat berada di titik tersebut, ia meminta mereka berhenti dan merasakan suasananya.
Tanpa diduga, kedua tamunya mengaku merasakan hal yang sama. Bulu kuduk mereka berdiri saat berada di lokasi itu.
Setelah para tamu pulang, Ady memutuskan memeriksa titik tersebut. Ia meraba tanah dengan tangannya sendiri. Tidak lama kemudian, ia menemukan sebuah badik tua yang telah berkarat dan tertanam di dalam tanah.
Badik itu kemudian dibersihkan dan dirawat. Karena ditemukan tanpa sarung, Ady membuatkan sarung khusus agar kondisinya tetap terjaga.
Sembilan Pusaka yang Menyimpan Sejarah
Hingga saat ini, Ady telah mengumpulkan sedikitnya sembilan pusaka berupa badik dan keris. Sebagian besar ia peroleh melalui penelusuran bersama sejumlah sahabat yang memiliki minat terhadap sejarah, budaya, dan pusaka di Kepulauan Riau.
Meski banyak orang mengaitkan pusaka dengan hal-hal mistis, Ady justru melihatnya dari sisi sejarah.
Menurutnya, nilai terbesar dari pusaka tersebut bukan terletak pada unsur gaib, melainkan pada jejak peradaban yang terkandung di dalamnya.
“Pusaka ini bukan untuk disombongkan. Ini amanah sejarah,” tegasnya.
Jejak Besar Bugis dalam Sejarah Kepulauan Riau
Sejarah Bugis di Kepulauan Riau bukanlah kisah pendatang biasa. Sejak awal abad ke-18, para bangsawan dan perantau Bugis dari Sulawesi Selatan datang ke wilayah Riau-Lingga-Johor-Pahang.
Mereka kemudian memegang peranan penting dalam pemerintahan Kesultanan Melayu.
Nama-nama seperti Daeng Marewah, Daeng Celak, dan Daeng Kamboja tercatat sebagai Yang Dipertuan Muda Riau. Jabatan tersebut memiliki posisi strategis dalam struktur pemerintahan kesultanan.
Mereka tidak hanya menjadi pemimpin politik. Mereka juga menjadi jembatan yang memperkuat hubungan budaya Bugis dan Melayu yang hingga kini menjadi identitas Kepulauan Riau.
Dari garis keturunan para pemimpin Bugis itu lahir tokoh-tokoh besar seperti Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji.
Raja Haji Fisabilillah dikenal sebagai pahlawan yang gigih melawan kolonial Belanda. Sementara Raja Ali Haji dikenang sebagai ulama, sejarawan, dan pujangga Melayu yang mewariskan karya monumental Gurindam Dua Belas.
Menjaga Identitas dan Warisan Leluhur
Bagi masyarakat Bugis, badik bukan sekadar senjata. Badik merupakan simbol kehormatan, keberanian, harga diri, dan identitas.
Benda itu menemani perjalanan para pelaut, pedagang, ulama, hingga pemimpin Bugis yang berlayar dan membangun kehidupan di tanah Melayu.
Sebagai Ketua KKSS Kepri, Ady memandang seluruh pusaka yang ia rawat sebagai amanah sejarah. Ia meyakini bahwa menjaga identitas Bugis tidak cukup dilakukan melalui organisasi dan kegiatan sosial saja.
Menurutnya, menjaga peninggalan sejarah juga menjadi bagian penting dalam merawat jati diri masyarakat Bugis di Kepulauan Riau.
Karena itu, setiap badik dan keris yang tersimpan di rumahnya bukan sekadar koleksi pribadi. Semua menjadi simbol keterhubungan antara generasi masa kini dengan para pendahulu yang pernah membangun, mempertahankan, dan membesarkan tanah Melayu.
Ia berharap generasi muda Bugis tidak melupakan akar sejarahnya. Sebab keberadaan masyarakat Bugis di Kepulauan Riau bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi juga bagian penting dari identitas daerah hingga hari ini.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, bilah-bilah pusaka itu menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya hidup di dalam buku. Sejarah juga hidup dalam benda-benda warisan yang dirawat dengan penuh penghormatan.
Melalui sembilan badik dan keris yang dijaganya, Ady berupaya memastikan jejak para leluhur tetap hidup. Dari Daeng Marewah, Daeng Celak, Daeng Kamboja, Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali Haji, hingga Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi, seluruhnya tetap terhubung dengan generasi Bugis masa kini melalui warisan sejarah yang terus dijaga dan dihormati.***








