BATAMCLICK.COM: Kunjungan ke Museum Batam Raja Ali Haji menjadi agenda penutup setelah para peserta mengikuti berbagai kegiatan yang memperkenalkan perkembangan industri pertahanan nasional di Batam.
Sebelumnya, para atase pertahanan diajak melihat langsung perkembangan sektor galangan kapal dan sejumlah industri strategis yang menjadi bagian penting dari kekuatan industri nasional.
Setelah mengenal sektor industri, para peserta kemudian diajak menelusuri sisi lain Batam, yakni sejarah dan budaya yang menjadi fondasi perkembangan daerah tersebut.
Mengenal Sejarah Batam dari Masa ke Masa
Selama berada di museum, para peserta mendapatkan penjelasan mengenai sejarah Batam yang dipandu oleh pegawai Museum Batam Raja Ali Haji, Soechi Lestari dan Irene Joane Gabriella.
Mereka memaparkan perjalanan Batam sejak masa Kesultanan Riau-Lingga hingga transformasinya menjadi kawasan industri, perdagangan, dan investasi bertaraf internasional.
Para atase pertahanan tampak antusias mengikuti setiap penjelasan. Mereka juga mengamati berbagai koleksi museum yang menggambarkan perkembangan sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Batam.
Suguhan Budaya Melayu Sambut Delegasi Internasional
Untuk melengkapi pengalaman para tamu, Museum Batam Raja Ali Haji menghadirkan penampilan musik Melayu dari Band Malaykustik.
Suguhan budaya tersebut menciptakan suasana hangat dan akrab selama kunjungan berlangsung. Selain menikmati informasi sejarah, para peserta juga dapat merasakan kekayaan budaya Melayu yang masih hidup dan berkembang di Batam.
Sebelum kegiatan berakhir, Kepala Museum Batam Raja Ali Haji, Senny Thirtywani, menyerahkan cinderamata kepada Kepala Delegasi Kementerian Pertahanan RI, Troy Hutagalung, sebagai bentuk apresiasi atas kunjungan tersebut.
Kenalkan Kemajuan Indonesia kepada Negara Sahabat
Kolonel Infanteri Troy Hutagalung menjelaskan bahwa Defence Attaché Tour merupakan agenda rutin Kementerian Pertahanan RI.
Program tersebut bertujuan memperkenalkan perkembangan industri pertahanan Indonesia kepada negara-negara sahabat melalui kunjungan langsung ke berbagai lokasi strategis.
“Program ini merupakan agenda rutin Kementerian Pertahanan RI. Kami mengundang para atase pertahanan untuk melihat secara langsung perkembangan industri pertahanan Indonesia,” ujarnya.
Batam Tunjukkan Kekuatan Industri dan Budaya
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, menyambut positif kunjungan para atase pertahanan ke Museum Batam Raja Ali Haji.
Menurutnya, Batam tidak hanya dikenal sebagai pusat industri dan investasi. Kota ini juga memiliki warisan sejarah serta budaya Melayu yang kaya dan layak diperkenalkan kepada dunia internasional.
Ia mengapresiasi Kementerian Pertahanan RI yang memasukkan museum tersebut ke dalam agenda Defence Attaché Tour 2026.
“Kunjungan ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk memperkenalkan sejarah, budaya Melayu, serta perjalanan pembangunan Kota Batam kepada para perwakilan negara sahabat. Kami berharap para peserta dapat membawa cerita positif tentang Batam dan ikut mempromosikan pariwisata serta budaya Batam di tingkat internasional,” katanya.
Perkuat Citra Batam di Mata Dunia
Sementara itu, Senny Thirtywani mengaku bangga karena Museum Batam Raja Ali Haji dipercaya menjadi salah satu lokasi dalam agenda internasional tersebut.
Menurutnya, kunjungan ini membuka peluang lebih besar untuk memperkenalkan sejarah Batam kepada masyarakat internasional.
“Kami sangat senang menerima kunjungan para atase pertahanan. Semoga melalui kunjungan ini, sejarah Kota Batam semakin dikenal oleh dunia internasional,” ujarnya.
Defence Attaché Tour 2026 berlangsung pada 2 hingga 4 Juni 2026 dan diikuti perwakilan dari berbagai negara, di antaranya Rusia, Brunei Darussalam, Prancis, Selandia Baru, Inggris, Kenya, Laos, Pakistan, Jepang, Myanmar, Jerman, Polandia, Uni Emirat Arab, Serbia, Tiongkok, Yordania, Australia, dan Maroko.
Melalui kegiatan ini, Batam tidak hanya tampil sebagai pusat industri strategis nasional. Lebih dari itu, Batam juga menunjukkan diri sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang, budaya Melayu yang kuat, dan potensi besar untuk terus dikenal di tingkat internasional.***








