Bangga Punya Telkom Indonesia, (SELAMAT ULANG TAHUN TELKOM Ke-58)

BATAMCLICK.COM: Aku anak seorang pegawai Telkom Indonesia. Waktu itu masih bernama Postel (Pos dan Telkomunikasi) dengan logo burung merpati di tengah bola dunia, yang dibingkai persegi lima dan padi-kapas. Postel lalu berubah menjadi Perumtel (Perusahaan Umum Telekomunikasi), dengan logo bola dunia dibingkai dua tanda pahan membentuk persegi empat, selanjutnya berubah nama lagi menjadi Telkom dengn logo bola dunia tercincang kata kami dan terus berganti hingga kini berlogo lingkaran dan telapak tangan.

Mohamad Hanief nama Bapak saya, pegawai telkom yang serba bisa (maaf membanggakannya) … Berkantor di Jalan Bakar Batu, Tanjungpinang, ia memulai kariernya sebagai pengantar telegram pada tahun 70-an.

Saat itu telegram cukup populer sebagai penyampai berita kilat. Kalau kirim surat pos dengan perangko membutuhkan waktu hampir satu minggu, dengan telegram, kabar penting itu sudah sampai dalam waktu paling lambat 1 hari.

Telegram, Menyampai Kabar Super Cepat pada zamannya, kalau sekarang seperti pesan WA lah kira-kira.

Tapi layanan berkabar ini hanya untuk hal-hal yang sangat penting saja. Pasalnya, Telegram memiliki tarif khusus, waktu itu, seingat saya, kata Bapak Rp10 per huruf dan tanda titik, harus ditulis titik, begitu juga dengan tanda baca koma, harus ditulis dengan huruf koma dan itu dihitung per hurufnya.

Teegram bisa cepat, karena dikirim menggunakan sandi morse. Jadi saat seseorang hendak mengirim telegram, ia harus datang ke kantor Perumtel, menulis di secarik kertas kabar penting yang akan dikirimnya, dan petugas mulai memijat-mijat tombol morse sesui huruf demi huruf yang ditulis oleh orang tersebut.

Morse penyampai pesan dalam bentuk sandi

Bunyi morse ini pun akan diterima oleh petugas kantor Perumtel yang dituju , dan langsung diterjemahkannya menggunakan mesin ketik manual dengan kertas yang dirangkap tiga menggunakan pelapis karbol (kertas untuk ketikan tembus berwarna biru pekat).

BACA JUGA:   Sekali Lagi, RT / RW

Setelah itu dimasukkan ke dalam amplop biru dengan bagian depan ada yang tembus pandang, untuk melihat nama penerima dan alamatnya.

Dengan motor Honda Super 90′ Bapak berkeliling mengantar telegram. Saat itu telegram menjadi penyampai berita penting, sehingga harus cepat sampai ke tangan orang yang dituju, jadi tak heran, kalau Bapak selalu pulang hingga larut malam.

Seiring waktu, dia naik pangkat, tak lagi menjadi pengantar telegram, tapi sudah di bagian administrasi.

Kalkulator jadul

Tugasnya lebih banyak menghitung, tapi aku tak tahu apa yang dihitung. Cuma saat itulah aku menganal kalkulator jaman dulu kala. Jauh dari digital, dan cara pakainya pun sangat aneh, ada engkolnya.

Alat ini aku kenal karena bapak selalu membawa pekerjaannya pulang ke rumah.

Entah apa yang ia hitung, yang jelas, saat kami sudah tertidur, bapak mulai bekerja hingga larut malam.

Akhir tahun 80-an menjelang tahun 90-an, sebagai pegawai Perumtel, Bapak memasang telepon di rumah kami.

Nomor telepon itu masih kami ingat (0771) 27645. Itu menjadi telepon satu-satunya di pemukiman kami, Jalan Jawa Nomor 123D Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Keberadaan telepon itu juga bukan hanya untuk kepentingan keluarga kami, tapi Bapak mengizinkan sipa saja memanfaatkannya. Tapi bukan jadi wartel ya… Tetangga hanya diperbolehkan untuk menerima telepon dari keluarganya, maupun rekan usahanya, dan itu dikasih GRATIS oleh Bapak.

BACA JUGA:   Kapolresta Barelang Ajak Insan Pers Bersama-sama Jaga Batam

Berkat telepon itu, seorang tukang sol sepatu, tetangga kami yang biasa mangkal di lorong sepatu, menjadi pengusaha sepatu kulit terbesar di Tanujungpinang, era 1990 hingga sekarang.

Warung Telepon, banyak yang ketemu jodoh melalui ini… Modus salah nomor telepon

Ia memanfaatkan telepon tersebut untuk menjalin komunikasi dengan keluarganya di Medan, Sumatera Utara, dalam pemesanan kulit dan tapak sepatu.

Dengan itu, si tukang sol sepatu ini, bisa membuat sepatu kulit sesuai pesanan pelanggannya. 

Dengan telepon itu juga, para tetangga kami dapat berhubungan dengan keluarganya yang berada nun jauh di sana.

Ada yang berkabar dengan anaknya yang sedang kuliah, orang tuanya di kampung SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh), bahkan sampai hubunga SLI (Sambungan Langsung Internasional).

Meski terkena roming untuk saluran SLI, namun bapak tak pernah minta diganti, ia selalu ikhlas untuk membantu. 

Nah, kami sebagai anak yang ketiban rezeki, karena bapak tak mau dibayar, para tetangga akhirnya kerap memberikan kami hadiah.

Saya misalnya, bertahun-tahun tak perlu beli sepatu lebaran, karena setiap tahun, pengusaha sepatu itu, selalu memberikan saya sepatu lebaran, karena setiap telepon masuk untuknya, selalu saya yang berlari memanggil dia ke rumhnya.

Kalau makanan cemilan, tak perlu ditanya lagi, di rumah selalu tersedia, pemberian para tetangga… Terima kasih tetangga…

Masuk era 2004-an, di Tanjungpinang sudah ramai yang menggunakan hand phone (HP). Telepon kami pun sudah jarang digunakan oleh para tetngga. 

Telpon Umum Koin…. Bawa uang seling 100 rupiah yang tipis, jangan yang tebal, tak muat lubangnya.

Tapi telepon itu masih terus terpasang di rumah. Selain untuk menghubungi Mamak, Bapak menggunakan telepon itu untuk menghubungi koleganya yang berada di Singapura dan Malaysia, karena kalau menggunakan sambungan HP, biayanya jauh lebih mahal. Maklum saat itu HP belum tersambung ke internet, yang bisa hanya telepon, SMS dan MMS (pengirim foto) untuk sebagian jenis HP tentunya yang sudah canggih.

BACA JUGA:   Marlin Tutup Program Peduli Sesama di Sekupang

Begitu jaman Black Berry, telepon rumah nyaris tidak digunakan, karena berkomunikasi ke luar negeri pun sangat mudah dan terkesan gratis dengan layana BBM, walah hanya pesan kata-kata.

Masuk lagi zaman WA… Semakin telepon di rumah itu tak dipakai. Tapi bapak masih setia memasangnya, walaupun ia harus membayar abonemen setiap bulannya dan hanya untuk menghubungi mamak, kala bapak sedang berada di luar.

Baru setelah mamak meninggal tahun 2018 silam, telepon rumah itu dihentikan langganannya oleh bapak, itu karena Bapak tak lagi bisa menghubungi mamak.

Kini Telkom bukan saja menjual jasa telepon, tapi sudah meluas ke transaksi data berbasis internet dengan jaringan menembus 5G, bahkan sederet bisnis lainnya seprti pusat data dan server terbesar.

Telegram Indah munculnya saat lebaran, untuk ucapan Selamat Lebaran Idul Fitri

Telkom Indonesia melalui anak perusahaanya Telkomsel dan Indihome, kini sudah menembus hutan blantara, menyeberang samudra hingga ke pelosok-pelosok negeri ini, merangkai NKRI dengan komunikasi yang cepat dan akurat.

Kita patut bangga dengan Telkom Indonesia, dengan kegigihannya, kini tak ada kabar dan perkembangan negeri yang terlewatkan oleh seluruh Rakyat Indonesia dimanapun mereka berada.

Dirgahayu Telkom Indonesia ke-58, 6 Juli 2023, semoga semakin terdepan dalam melayani kebutuhan komunikasi Indonesia.

Penulis: Novianto 

Wartawan Batamclick.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *