BATAMCLICK.COM: Di tengah deru mesin industri perkapalan yang mendominasi di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, sebuah kisah inspiratif lahir mengisi ruang kemandirian. Adalah M. Ikhsan Hasibuan, seorang pemuda yang berani melangkah keluar dari zona nyaman. Ia menukar statusnya sebagai pegawai honorer di pemerintahan dengan sebuah impian besar, membangun bisnis dari nol.
Dari balik meja kerja di Disperindag Kabupaten Karimun, kini Ikhsan dikenal sebagai pemilik “Kenara,” sebuah UMKM yang berhasil membawa kerupuk udang dan ikan tenggiri lokal menembus pasar ekspor, dari Singapura hingga Malaysia.
Perjalanan pria kelahiran Medan ini adalah bukti nyata bahwa mimpi besar bisa diwujudkan dengan ketekunan dan keberanian. Dimulai pada tahun 2018, ia merintis bisnisnya sambil tetap bekerja, memanfaatkan waktu luang di malam hari dan akhir pekan untuk bereksperimen dengan resep dan strategi pemasaran.
Titik balik terjadi pada tahun 2020, ketika ia memutuskan untuk fokus total pada bisnisnya. Setelah produknya berhasil merebut hati pasar domestik di Kepulauan Riau dan sekitarnya, seperti Batam, Tanjungpinang, Pekanbaru, dan Bengkulu, ambisinya pun meluas. Ia melihat peluang lebih besar, melampaui batas-batas domestik.
“Pasar domestik sudah bagus, tapi saya melihat ada peluang pasar baru yang radiusnya masih sangat dekat, yaitu negara Jiran Malaysia dan Singapura,” tutur Ikhsan.
Keputusan itu diambil bukan tanpa alasan. Ia melakukan riset sederhana dan menyadari daya beli di dua negara tetangga itu jauh lebih kuat. Hal ini menjanjikan potensi pasar yang lebih besar dan perputaran bisnis yang lebih cepat.
Tekad Ikhsan semakin menguat saat ia melihat potensi nyata produknya di kancah internasional. Ia percaya bahwa produk lokal, jika dikemas dan dipasarkan dengan benar, memiliki kualitas yang tak kalah saing.
Tanpa Modal ke Kancah Internasional

Gayung pun bersambut. Pameran di Majestic Festival Johor, Malaysia, menjadi ajang pembuktian pertamanya. Bermodal nekat dan semangat yang membara, Ikhsan berangkat dengan biaya sendiri, tanpa sponsor. Ia membawa seluruh produknya dengan harapan bisa menjajal pasar internasional. Di luar dugaan, seluruh produknya ludes terjual dalam waktu singkat. Pengalaman ini memberikan validasi berharga atas kerja kerasnya.
Tak lama setelah itu, kesempatan emas datang. Bank Indonesia (BI) memfasilitasinya untuk berpartisipasi dalam pameran di Suntec City, Singapura. Pengalaman ini semakin mengukuhkan keyakinannya bahwa produk lokal Indonesia bisa bersaing dan diterima di pasar global. Ikhsan menyadari, pameran bukan hanya tentang penjualan, tetapi juga tentang pengakuan, jejaring, dan pembelajaran.
Keberhasilan Kenara tidak dibangun dalam semalam, melainkan di atas fondasi kokoh yang dibangun di atas komitmen terhadap kualitas. Ikhsan dengan bangga menegaskan bahwa produknya dibuat dari 100% daging udang dan ikan tenggiri segar, bukan sekadar perasa buatan. “Perbandingannya 1:1, 1 kilogram daging dengan 1 kilogram tepung sagu atau kanji. Dan yang terpenting, produk kami bebas gluten,” jelasnya kepada Batamclick.com, Jumat (05/09/2025).
Komitmen pada bahan baku premium inilah yang membedakan Kenara dari produk sejenis lainnya dan membuatnya memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global.
Strategi Menaklukkan Tantangan

Menembus pasar internasional tentu tidak mudah. Ikhsan menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait regulasi ekspor yang sering berubah, serta persoalan pajak dan biaya transportasi di negara tujuan. Ia mengaku, “Regulasi di negara tujuan seringkali menjadi tantangan yang tak terhindarkan.” Namun, ia tidak menyerah. Di tengah kerumitan birokrasi, Ikhsan menemukan jalan terang melalui program inkubator UMKM dari Bank Indonesia.
“Program ini sangat signifikan dalam mempersiapkan saya menembus pasar ekspor,” ungkapnya penuh syukur.

Melalui program ini, Kenara mendapat paket lengkap: pelatihan tentang regulasi, pengurusan dokumen, hingga proses pengiriman (shipping) yang rumit. Ikhsan belajar tentang pentingnya HS Code, dokumen bill of lading, dan prosedur bea cukai yang seringkali membingungkan bagi pelaku UMKM pemula.
Yang paling krusial, program ini mempertemukan Ikhsan dengan calon pembeli (buyer) potensial, membuka pintu-pintu yang sebelumnya tidak terbayangkan. Ini adalah contoh nyata bagaimana sinergi antara UMKM dan lembaga pendukung seperti Bank Indonesia dapat menciptakan akselerasi ekspor yang nyata.
Meski langkah awal telah berhasil, Ikhsan menyadari masih banyak hal yang perlu diperbaiki. “Terkait sertifikasi, memang ada program dari Bank Indonesia, di antaranya sertifikasi halal dan lainnya,” ujarnya.
Ia berharap ke depannya, program sertifikasi bisa lebih terintegrasi dan cepat, sehingga memudahkan para pelaku UMKM lain untuk mendapatkan pengakuan standar internasional.
Ikhsan juga menyadari bahwa setiap pameran internasional bukan hanya tentang penjualan, tetapi juga tentang mendapatkan masukan berharga dari pembeli dan penyelenggara, yang menjadi bekal untuk perbaikan produk dan strategi bisnis ke depan. Ini adalah proses belajar tanpa henti, sebuah investasi jangka panjang dalam kualitas dan inovasi.
Untuk Ekonomi Berkelanjutan

Kini, setelah sukses menembus pasar Singapura dan Malaysia, Ikhsan merasakan dampak luar biasa. Bisnisnya tumbuh pesat, omzet meningkat signifikan, dan ia telah berhasil merekrut tenaga kerja baru.
“Sangat berdampak positif. Terjadi peningkatan kapasitas produksi dan kami bisa merekrut tenaga kerja baru,” katanya.
Keberhasilan ini tidak hanya mendongkrak omzet, tetapi juga memperkuat citra merek Kenara di mata konsumen, baik di dalam maupun luar negeri. Kenara telah menjadi simbol kualitas dan kerja keras, yang secara otomatis memperkuat citra produk Indonesia di mata dunia.
Dari pengalamannya, Ikhsan menyampaikan pesan motivasi yang kuat kepada para pelaku UMKM. “Jangan mudah menyerah, tapi teruslah belajar hal baru terkait pengembangan bisnis,” ujarnya.
Keberanian untuk mencoba, kemauan untuk terus berinovasi, dan semangat untuk tidak menyerah adalah kunci utama menuju sukses. Ia juga menekankan betapa krusialnya peran pendampingan, yang baginya sangat vital.
Ikhsan menaruh harapan agar program BI ke depan dapat lebih fokus pada pasar ekspor, memperbanyak kegiatan business matching, serta memfasilitasi lebih banyak pameran di luar negeri. Ia meyakini, pameran adalah cara paling efektif untuk mendapatkan masukan langsung dari pembeli, yang sangat bermanfaat untuk perbaikan produk dan penetrasi pasar.

Kisah Ikhsan dan Kenara adalah bukti nyata bahwa dengan kegigihan, inovasi, dan dukungan yang tepat, UMKM lokal memiliki potensi besar untuk menjadi pilar ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga membawa nama baik bangsa ke kancah global. Ini adalah langkah kecil yang penuh makna, menuju akselerasi ekspor dan kemandirian ekonomi yang sejati.
“Tekad dan pengalaman menuntun kita menuju sukses. Tidak ada perjuangan yang mengkhianati hasil,” tutupnya, merangkum esensi dari perjalanan luar biasa yang ia jalani.(merlinda pratiwi)









