ICMI Way untuk Indonesia

Oleh: Robby Patria

ICMI memberikan penghargaan kepada Prof Emil Salim, Prof BJ Habibie, Prof Dawam Rahardjo, Prof Nurcholish Madjid, Letjen Purn Achmad Tirtosudiro, Prof Immaduddin Abdurrahim, Dr Adi Sasono dan Prof Azyumardi Azra saat acara Silaturahmi Nasional peringatan 32 Tahun ICMI di Gedung BRIN, Sabtu (3/11/2022).

Yang menarik adalah pesan Prof Muhadjir Effendi mengingatkan ICMI melaksanakan program yang sudah disusun. Jangan hanya sekedar membuat program tapi tidak dilaksanakan. Karena 32 tahun lalu, Prof Muhadjir sosok yang sempat menjadi SC saat sidang sidang pembentukan ICMI yang saat itu gabungan cendekiawan Bandung, Jakarta, Jogja dan Surabaya Malang.

Muhadjir ketika itu pembantu Rektor III Universitas Muhammadiyah Malang yang dipimpin Malik Fadjar. Prof Malik adalah tokoh Muhammadiyah yang dekat dengan BJ Habibie. Sehingga proses menyampaikan ide ide mahasiswa mendirikan ICMI dapat meyakinkan Habibie ketika itu.

Walaupun sebenarnya ide pembentukan ikatan cendekiawan sudah dirancang tahun 1980-an. Namun baru dapat diwujudkan tahun 1990.

Prof Emil yang pernah menjadi elit ICMI mengingatkan penting peran ICMI mengawal pembangunan Indonesia. Tokoh tokoh tersebut berkontribusi terhadap kebesaran ICMI yang sempat diplesetkan Adi Sasono sebagai ‘ikatan calon menteri Indonesia.’

Kekuatan ICMI di era Habibie memang begitu kuat sehingga lahirlah Republika, Bank Muamalat hingga BMT.

ICMI pasca Habibie memang memiliki tantangan tersendiri dan tidak boleh masuk ke ranah politik. Menarik yang dicontohkan Adi Sasono ketika mendirikan Partai Merdeka, almarhum secara terbuka mundur dari ICMI. Karena ICMI tak boleh secara tegas berpolitik. Walaupun secara samar ICMI dianggap organisasi politik oleh pelbagai pihak ketika itu.

Nah, ketika di Muhktamar Bandung 2021, ketua Orwil ICMI mulai diberikan ruang dari orang politik. Moga tidak membawa ICMI ke ranah politik praktis yang sejak awal dibatasi.

ICMI di era Prof Arif Satria membuat trobosan baru dengan mengawali Silatnas dengan kegiatan National Leadership Camp bagi seluruh anggota ICMI.

ICMI harus menjadi data tarik bagi generasi milenial agar memperbesar jangakauan organisasi untuk anak anak muda Indonesia. Apalagi awalnya mahasiswa Universitas Brawijaya seperti Erick Salman dan kawan kawan mendorong terbentuknya organisasi cendekiawan di Indonesia di tahun 1990.

Pengurus ICMI di mana saja harus dapat meyakinkan anak anak muda bergabung ke ICMI.
Karena merekalah penerus estafet kepemimpinan 2045 mendatang ketika Indonesia memasuki usia emas 100 tahun kemerdekaan.

ICMI harus menjadi organisasi terbuka bukan hanya untuk kalangan tua yang cendekiawan tapi juga anak anak muda yang memiliki kemampuan dalam membangun bangsa.

ICMI kata Nurcholis Madjid harus tampil menjadi ujung
tombak pertumbuhan, perkembangan dan perubahan sosial Indonesia yang
paling positif. Jika ICMI terlalu berorientasi politik dan kekuasaan jangka pendek tugas ideal itu akan gagal.

Ary Ginanjar, tokoh ESQ saat kegiatan National Leadership Camp 29-30 November 2022 menyebutkan tagline ICMI Way untuk Indonesia. Adanya jalan baru mengajak para cendekiawan muda dan anak anak muda Indonesia tergabung dalam ICMI.

Ke depan kader ICMI harus memenuhi stadion GBK ketika melakukan Silatnas. Itulah upaya ICMI Way mengajak anak anak bangsa masuk ke dalam ICMI untuk menjadi perekat sesama Muslim Indonesia.

ICMI perlu merapatkan barisan sesama anak bangsa agar adanya ICMI hingga saat ini masih relevan dalam kehidupan nasional. ICMI harus optimistis
menatap masa depan di tengah perubahan konstelasi sosial, ekonomi, politik,
budaya di tanah air.

Pengurus ICMI Pusat*