Polemik Li Claudia, Riuh yang Tak Perlu Membesar

BATAMCLCIK.COM: Polemik Li Claudia Chandra sempat bergulir cepat. Percakapan meluas. Tafsir bermunculan. Bahkan, sebagian terasa saling berseberangan.

Namun, di tengah riuh itu, Iman Sutiawan justru mengambil posisi berbeda. Ia tidak ikut memperkeras suara. Ia memilih menahan ritme. Ia mengajak publik melihat persoalan lebih utuh.

Baginya, reaksi cepat sering kali lahir dari potongan cerita. Sementara kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak buru-buru menyimpulkan.

Ketegasan yang Punya Latar

Iman tidak menampik, pernyataan Li Claudia memang terdengar tegas. Bahkan, bagi sebagian orang, terasa sensitif. Namun ia melihatnya dari sudut lain.

Menurutnya, ketegasan itu lahir dari kegelisahan. Dari pengalaman langsung di lapangan. Dari situasi yang tidak selalu sederhana.

“Dalam kondisi tertentu, seorang pemimpin harus bersikap tegas. Apalagi kalau menyangkut kepentingan banyak orang,” ujarnya.

Ia kemudian menggambarkan Batam sebagai rumah bersama. Rumah yang harus dijaga. Rumah yang kadang membutuhkan sikap tegas agar tetap aman.

Ketika Narasi Terpotong

Masalahnya, kata Iman, tidak semua pesan sampai dengan utuh. Media sosial bergerak cepat. Potongan kalimat mudah tersebar. Makna pun bisa bergeser.

Di titik ini, ia melihat potensi gesekan muncul. Bukan karena niat buruk. Tetapi karena tafsir yang berbeda.

Ia pun mengingatkan, publik perlu lebih jernih. Perlu membedakan antara kritik terhadap pelanggaran dan sikap terhadap masyarakat.

“Jangan sampai kita saling tersinggung karena potongan cerita,” katanya.

Duduk Bersama, Bukan Berhadap-hadapan

Alih-alih membiarkan polemik membesar, langkah lain justru diambil. Li Claudia memilih bertemu langsung dengan pihak yang sempat merasa tersinggung.

Mereka tidak berdebat. Mereka tidak saling menyalahkan. Mereka duduk bersama. Mereka berbicara santai. Dan yang terpenting, mereka saling mendengar.

Suasananya hangat. Jauh dari ketegangan yang sempat terasa di ruang publik.

Dari pertemuan itu, lahir pemahaman baru. Bahwa semua pihak sebenarnya berdiri di tujuan yang sama.

Menjaga Batam Tetap Satu

Tujuan itu sederhana. Menjaga Batam tetap aman. Tetap harmonis. Dan tetap nyaman untuk semua.

Karena itu, Iman kembali mengingatkan, perbedaan bukan untuk dibenturkan. Perbedaan justru harus dipertemukan.

Ia percaya, dialog selalu punya ruang. Selalu ada jalan tengah. Selama semua pihak mau menahan emosi dan membuka diri.

Kembali ke Akar: Kebersamaan

Di ujung persoalan, pesan yang muncul terasa jelas. Batam dibangun dari keberagaman. Dari banyak latar belakang. Dari banyak kepentingan.

Karena itu, kota ini hanya bisa tumbuh jika warganya saling menjaga.

Bukan dengan memperbesar konflik. Bukan dengan menyebarkan kecurigaan. Tetapi dengan merawat kebersamaan.

“Kalau ada perbedaan, selesaikan dengan hati dingin,” ujar Iman.

Dan mungkin, di situlah inti dari semuanya. Bukan pada siapa yang benar. Tetapi pada bagaimana semua tetap berjalan bersama.***