Bapanas pastikan pemerintah jaga keseimbangan harga telur hulu-hilir

Batamclick.com,
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pemerintah terus menjaga keseimbangan harga telur ayam ras di tingkat produsen dan konsumen (hulu-hilir) untuk melindungi peternak sekaligus menjaga keterjangkauan komoditas tersebut bagi masyarakat.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan upaya menjaga harga pangan pokok strategis terus dilakukan pemerintah agar kepentingan produsen dan konsumen dapat berjalan beriringan.

“Salah satu komoditas yang saat ini menjadi perhatian adalah telur ayam ras, yang kembali mencatatkan deflasi pada Mei 2026,” kata Ketut dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.

Dia menyebutkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi telur ayam ras pada April tercatat sebesar 4,29 persen dan meningkat menjadi 5,14 persen pada Mei. Di balik tren tersebut, terdapat tekanan yang dirasakan peternak akibat melemahnya harga jual di tingkat produsen.

Bapanas memandang kondisi tersebut perlu segera direspons agar usaha peternakan rakyat tetap berkelanjutan. Berbagai upaya pun terus didorong, mulai dari penguatan serapan hasil produksi melalui program pemerintah, seperti makan bergizi gratis (MBG) hingga peningkatan konsumsi masyarakat.

“Sekarang telur turun. Nah, ini kami harus mengangkat lagi ini. Tugas kami harus mengangkat agar harga telur ayam di tingkat produsen bisa naik, tapi tetap harus kita jaga di hilirnya. Jangan sampai melebihi harga acuan yang kita tetapkan,” ujar Ketut.

Menurut dia, pemerintah ingin menciptakan harga yang wajar dan berkeadilan bagi seluruh pelaku dalam rantai pasok. Sebagai negara produsen unggas yang mampu memenuhi kebutuhan konsumsi domestik, Indonesia perlu memastikan peternak memperoleh harga yang layak agar tetap bersemangat dalam berproduksi.

“Begitu kondisinya bergerak dinamis, pemerintah hadir dalam rangka mengendalikan harga, mengendalikan pasokan. Jadi, prinsipnya begitu, sehingga kita berharap ke depan, harga wajar,” ungkap Ketut.

Data pemantauan Bapanas menunjukkan harga telur ayam ras pada Maret dengan rata-rata Rp27.236 per kilogram (kg). Namun, setelah itu terjadi tren penurunan menjadi Rp25.719 per kg pada April, lalu Rp24.688 per kg pada Mei, dan kembali turun menjadi Rp 24.424 per kg pada awal Juni 2026.

Pemerintah menilai kondisi tersebut memerlukan langkah penataan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi peternak, hingga koperasi.

“Yang di tengah harus kita atur, harus kita tata. Ini artinya, pemerintah turun di dua sisi. Stabilkan di hilir. Stabilkan di hulu. Tatkala telur terlalu rendah di hulu, sesuaikan, wajarkan harga. Negara ini swasembada. Petani harus nyaman, peternak harus nyaman berproduksi,” tutur Ketut.

Di sisi lain, masyarakat diminta agar tetap tenang dan tidak khawatir terhadap ketersediaan pasokan pangan. Pemerintah memastikan pemantauan harga dan stok terus dilakukan secara intensif.

Salah satu langkah konkret yang tengah dipersiapkan pemerintah untuk mengatasi fluktuasi harga telur dilakukan di Jawa Timur, sentra produksi telur nasional.

Pemerintah mendorong optimalisasi penyerapan telur peternak oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari pelaksanaan program MBG.

Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam rangka meningkatkan konsumsi telur pada program MBG.

Menurut dia, program MBG berpotensi menjadi penyerap utama hasil produksi petani dan peternak karena menjangkau sekitar 60 juta penerima manfaat.

Sumber, Antara