Batamclick.com,
Chairman of Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) Sapta Nirwandar mengatakan dampak kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) terhadap industri halal tidak terlalu besar.
“Soal tarif itu menurut saya tidak terlalu besar dampaknya,” katanya dalam doorstop agenda Global Launch The State of Global Islamic Economy (SGIE) Report 2024/2025 di Jakarta, Selasa.
Berdasarkan laporan SGIE 2024/2025, dua miliar Muslim di dunia menghabiskan sekitar 2,43 triliun dolar AS di seluruh sektor industri halal, termasuk makanan, farmasi, kosmetik, fesyen, travel, serta media dan rekreasi. Adapun aset keuangan Islam diperkirakan mencapai 4,93 triliun dolar AS pada tahun 2023.
Total negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang mengimpor produk halal sebesar 407,75 miliar dolar AS pada tahun 2023. Meskipun mengalami penurunan 1,8 persen dibandingkan tahun 2022, pasar diproyeksikan akan menguat hingga 608,36 miliar dolar AS pada tahun 2028 dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) 8,3 persen.
Menurut dia, proyeksi penguatan itu karena ada dorongan peningkatan permintaan konsumen, kerangka regulasi lebih baik, dan perluasan rantai pasokan halal secara global.
Sapta mengatakan, walaupun Presiden AS Donald Trump tetap memberlakukan kebijakan tarif terhadap Indonesia sebesar 32 persen, pasar produk halal yang besar justru didominasi negara-negara anggota OKI.
“Pasar halal besar sekali. Ekspor produk halal ke Amerika sangat kecil, impor juga kecil. Justru ekspor kebanyakan ke tempat-tempat lain, termasuk Eropa dan negara OIC (Organisation of Islamic Cooperation/OKI). Sekian triliun dolar itu banyak ke negara lain,” ungkap dia.
Seperti diketahui, batas waktu tarif sebelumnya ditetapkan pada 9 Juli, menandai berakhirnya jeda 90 hari pada tarif tinggi yang diumumkan sebelumnya yang awalnya diberlakukan pada 2 April 2025.
Baru-baru ini, Trump telah memberikan perintah eksekutif yang menunda batas waktu tarifnya pada 9 Juli hingga 1 Agustus, menurut pengumuman Gedung Putih.
Kebijakan penundaan batas waktu tersebut diumumkan di tengah upaya pemerintahan Trump untuk menargetkan banyak negara dengan langkah-langkah perdagangan.
AS tetap mengenakan tarif impor 32 persen kepada Indonesia, tidak berubah dari nilai “tarif resiprokal” yang diumumkan sebelumnya pada April lalu, meski proses negosiasi dengan pihak Indonesia terus berlangsung intensif.
Trump merasa bahwa AS harus bertindak mengatasi defisit perdagangan yang mereka alami setelah bertahun-tahun menjalin kerja sama dagang dengan Indonesia.
Apabila Indonesia dipandang melakukan tindak balas dengan menaikkan tarif, Trump mengancam akan membalas dengan menambah nilai tarif impor sesuai jumlah itu “ditambah tarif 32 persen yang kami tetapkan”.
Namun demikian, Trump berjanji bahwa Indonesia tidak akan dikenakan tarif apabila “memutuskan membangun atau memproduksi produknya di Amerika Serikat”, sembari menjamin bahwa permohonannya akan diproses dan disetujui dalam hitungan pekan.
Ia pun menyatakan bahwa angka tarif tersebut masih bisa berubah apabila Indonesia sepakat melakukan penyesuaian terhadap kebijakan dagang dan membuat ekosistem pasar nasional yang lebih terbuka kepada AS.
Sumber, Antara








