BATAMCLICK.COM: Di tengah sorotan dunia terhadap arah kebijakan luar negeri Indonesia pasca transisi pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto bersiap melangkah ke panggung diplomasi regional. Ia dijadwalkan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 23–27 Mei 2025 — sebuah forum penting yang bukan hanya membahas kerja sama, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia di antara negara-negara Asia Tenggara.
Kehadiran ini telah dikonfirmasi langsung oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, menandai babak awal perjalanan luar negeri Prabowo sebagai kepala negara dalam forum ASEAN.
“Presiden sudah dijadwalkan menghadiri dua KTT ASEAN tahun ini, yang pertama besok, dan yang kedua pada akhir Oktober mendatang,” ujar Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Sidharto R. Suryodipuro, dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu.
Melanjutkan Tradisi, Menguatkan Komitmen
Bagi Prabowo, ASEAN bukan wilayah yang asing. Bahkan jauh sebelum dilantik sebagai Presiden RI, ia telah menjalin komunikasi erat dengan para pemimpin negara anggota ASEAN selama menjabat Menteri Pertahanan (2019–2024). Dari Vietnam hingga Brunei, dari Singapura hingga Laos — nyaris seluruh pemimpin kawasan pernah ia temui, kecuali Myanmar yang tengah dilanda krisis.
“Beliau selalu menekankan pentingnya ASEAN dalam setiap kunjungannya,” kata Sidharto. “Jadi kalau ada yang beranggapan bahwa Indonesia tidak lagi memerhatikan ASEAN, itu pandangan yang tidak tepat.”
Pernyataan itu sekaligus menjadi bantahan terhadap suara-suara sumbang yang menilai perhatian Indonesia terhadap ASEAN menurun di bawah kepemimpinan Prabowo. Justru sebaliknya, kata Sidharto, komitmen itu justru semakin kuat.
ASEAN di Tengah Dunia yang Bergejolak
Kehadiran Indonesia di forum seperti KTT ASEAN bukan sekadar ritual diplomatik. Dalam konteks geopolitik saat ini — dengan konflik yang berkecamuk di berbagai belahan dunia, ketegangan Laut China Selatan, serta perubahan kebijakan ekonomi Amerika Serikat — peran aktif Indonesia semakin krusial.
“Tradisi diplomasi Indonesia adalah memastikan kawasan Asia Tenggara tetap stabil dan damai. Dan itu terus dilanjutkan dari pemerintahan ke pemerintahan,” lanjut Sidharto.
Tak heran jika banyak mata tertuju pada KTT kali ini. Isu-isu strategis akan menjadi pembahasan utama, seperti penyelesaian krisis kemanusiaan di Myanmar, respons terhadap tarif resiprokal AS, serta Kode Etik ASEAN–China di Laut China Selatan — isu yang memerlukan suara kuat dari negara sebesar Indonesia.
Menata Masa Depan dari Kuala Lumpur
Selain KTT utama, rangkaian acara lain juga akan digelar selama pertemuan ini, termasuk KTT ASEAN–Gulf Cooperation Council (GCC) yang kedua, serta KTT ASEAN–GCC–China yang pertama, pada 26–27 Mei. Forum-forum ini menjadi peluang strategis untuk memperluas jejaring kerja sama lintas kawasan.
Kehadiran Prabowo di KTT ASEAN 2025 bukan hanya menandai kehadiran formal seorang presiden baru di arena diplomasi regional, tetapi lebih dari itu: ini adalah pesan kuat bahwa Indonesia masih menjadi jangkar stabilitas di Asia Tenggara, dan tetap memegang teguh semangat kebersamaan yang selama ini menjadi nafas ASEAN.
Editor: Abd Hamid









