BATAMCLICK.COM, Jakarta: Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mendorong Pemerintah Kota Banda Aceh membangun ekosistem yang kuat dan menyeluruh untuk mendukung identitas baru sebagai Kota Parfum. Dorongan ini disampaikan saat ia menghadiri Seminar dan Lokakarya Road to Launching Banda Aceh Kota Parfum di BSI Landmark Aceh, Jumat (23/5).
Menurut Bima, branding bukan sekadar ganti logo, sayembara, atau tagline yang menimbulkan semangat sementara. “It’s not that simple, tidak sesederhana itu,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya membangun narasi kota yang otentik dan berkelanjutan, dengan contoh sejumlah kota di dalam dan luar negeri seperti Bogor, Banyuwangi, hingga Grasse di Prancis yang berhasil mengangkat kekuatan lokal menjadi identitas global.
Bima menegaskan bahwa untuk mewujudkan Banda Aceh sebagai Kota Parfum, diperlukan strategi jangka panjang yang melampaui masa jabatan kepala daerah saat ini. “Jadi Kota Parfum ini enggak boleh, walaupun idenya luar biasa keren, enggak boleh identik hanya masa jabatan Ibu Illiza. Enggak bisa,” katanya tegas.
Ia juga menggarisbawahi perlunya membangun ekosistem yang melibatkan seluruh unsur mulai dari pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, hingga akademisi. Selain itu, edukasi masyarakat, penataan kawasan, pengelolaan sampah, dan penguatan karakter warga sangat penting untuk mendukung citra kota. “Sekarang bagaimana kita melakukan edukasi supaya warga di sini nyambung dengan branding sebagai Kota Parfum,” ujar Bima.
Wamendagri juga mengapresiasi langkah awal yang sudah dilakukan Pemkot Banda Aceh dan berharap acara tersebut dapat memperkuat citra Banda Aceh sebagai Serambi Mekah sekaligus Kota Parfum bertaraf dunia.
“Saya mendoakan semoga Bu Illiza diberikan Allah kekuatan bersama Wakil [Wali Kota] ya, Pak Ketua Dewan juga kasih pendukung semua supaya bisa membangun ekosistem dari hulu ke hilir untuk penguatan itu,” pungkasnya.
Acara ini dihadiri pula oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, Wakil Wali Kota Afdhal Khalilullah, Sekretaris Utama Kementerian Ekonomi Kreatif Dessy Ruhati, Staf Khusus Menteri Ekraf Rian Firmansyah, Ketua DPRK Banda Aceh Irwansyah, Rektor Universitas Syiah Kuala Marwan, dan pihak terkait lainnya.
Sumber: Antara
Editor: Novia









