BATAMCLICK.COM: Rupiah melemah di tengah ketidakpastian negosiasi AS-Iran, sehingga menekan pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan Rabu pagi. Nilai tukar rupiah tercatat turun 13 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.156 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.143 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah muncul seiring dinamika global yang belum stabil, terutama terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang terus menjadi perhatian pelaku pasar.
Negosiasi AS-Iran Jadi Sorotan Pasar
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai pergerakan rupiah masih dibayangi potensi negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Ia menjelaskan bahwa optimisme sempat muncul di sesi Asia, terutama setelah muncul laporan bahwa Wakil Presiden AS, JD Vance, berencana melanjutkan negosiasi di Pakistan. Namun, penguatan rupiah tidak bertahan lama karena ketidakpastian proses diplomasi masih membayangi.
Putaran kedua perundingan bahkan dijadwalkan berlangsung di Islamabad. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan proses tersebut belum sepenuhnya mulus.
Diplomasi Tertahan, Pasar Ikut Berhati-hati
Upaya Pakistan untuk mendorong Iran kembali ke meja perundingan terus berlangsung. Meski demikian, belum hadirnya delegasi utama Iran menandakan proses negosiasi masih menghadapi kendala.
Situasi semakin kompleks setelah JD Vance dilaporkan membatalkan kunjungan ke Pakistan. Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa kemajuan negosiasi belum sesuai harapan pasar.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa gencatan senjata akan diperpanjang hingga proses perundingan selesai. Pernyataan ini sedikit meredakan kekhawatiran, meski belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah secara signifikan.
Data Ekonomi AS Tekan Rupiah
Selain faktor geopolitik, sentimen dari Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Data penjualan ritel AS pada Maret 2026 menunjukkan kenaikan 1,7 persen secara bulanan, lebih tinggi dari capaian sebelumnya sebesar 0,7 persen dan melampaui ekspektasi pasar 1,4 persen.
Kondisi ini memperkuat dolar AS, sehingga secara tidak langsung memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan langkah Bank Indonesia. Para analis memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen guna menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.
Keputusan ini dinilai penting untuk menyeimbangkan antara menjaga nilai tukar rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
Proyeksi Rupiah Masih Fluktuatif
Dengan berbagai faktor yang saling tarik-menarik, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp17.125 hingga Rp17.225 per dolar AS.
Selama ketidakpastian global, khususnya terkait negosiasi Amerika Serikat dan Iran, belum menemukan titik terang, tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih akan berlanjut.









