Saat Harapan Masih Menyala: Roma Tak Menyerah Demi Liga Champions

BATAMCLICK.COM: Di bawah sorotan lampu Stadion Olimpico yang memantul di langit Roma, mimpi itu belum padam. AS Roma, dengan segala tekanan dan harapan, tampil garang saat menjamu AC Milan di pekan ke-37 Liga Italia. Hasilnya, kemenangan 3-1 bukan hanya mencatat tiga poin, tapi juga menjaga nyala asa untuk lolos ke Liga Champions musim depan.

Hanya butuh tiga menit bagi Roma untuk membuka keunggulan. Sebuah sepak pojok dari Matias Soule disambut tandukan keras Gianluca Mancini yang memecah kebuntuan lebih awal. Teriakan para Romanisti membahana. Sebuah awal sempurna.

Drama Baru Dimulai

Pada menit ke-21, Milan harus kehilangan Santiago Gimenez yang diganjar kartu merah langsung akibat insiden panas dengan Mancini. Roma unggul jumlah pemain, namun Milan tak lantas menyerah. Justru dengan 10 orang, mereka menyamakan kedudukan lewat penyelesaian Joao Felix di menit ke-39. Skor kembali imbang 1-1. Suasana di Olimpico berubah tegang.

Babak kedua dimulai, dan Roma tahu waktu mereka tak banyak. Mereka butuh kemenangan—dan harapan. Tekanan demi tekanan akhirnya terjawab. Menit ke-58, Leandro Paredes meluncurkan tendangan roket dari luar kotak penalti. Bola meluncur deras tanpa mampu dijangkau kiper Milan. Olimpico kembali bergemuruh, Roma memimpin 2-1.

Milan mencoba bangkit. Meski pincang dengan sepuluh pemain, mereka tetap memberi perlawanan. Tapi malam itu milik Roma. Menjelang akhir laga, menit ke-87, Bryan Cristante memastikan kemenangan lewat gol ketiga, menyambar bola liar di kotak penalti. Skor 3-1, dan mimpi itu kini tinggal selangkah lagi.

Kemenangan ini mengantar Roma naik ke peringkat lima dengan 66 poin, hanya satu angka di bawah Juventus yang menduduki posisi keempat. Kini, nasib mereka ditentukan pada pekan terakhir saat bertandang ke markas Torino. Roma harus menang—dan berharap Juventus terpeleset—untuk bisa kembali berlaga di panggung Eropa yang mereka dambakan.

Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi AC Milan. Dengan 60 poin, mereka melorot ke posisi sembilan dan secara matematis kehilangan peluang tampil di kompetisi Eropa musim depan.

Malam itu, Roma bukan sekadar bermain sepak bola. Mereka bertarung demi sebuah harapan. Dan hingga peluit panjang dibunyikan, harapan itu tetap menyala di jantung ibu kota Italia.

Editor: Bosanto