Peluru di Antara Selang Infus, Nestapa Rumah Sakit Gaza

BATAMCLICK – GAZA: Langit Gaza kembali mencekam. Di antara reruntuhan dan puing-puing harapan, Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya kini dikepung senyap namun mematikan. Tentara Israel menembaki siapa pun yang bergerak di sekitar rumah sakit itu—tak peduli apakah mereka petugas medis, pasien, atau hanya sekadar mencoba menyelamatkan nyawa.

Suasana di dalamnya penuh kecemasan. Suara peluru tajam bersahut-sahutan dengan jeritan kesakitan. Minggu lalu, menurut laporan medis, sebuah drone milik Israel menargetkan unit perawatan intensif di rumah sakit tersebut. Seorang pasien, yang tengah berjuang hidup, justru menjadi korban tembakan saat seharusnya ia mendapat perlindungan penuh.

Tak jauh dari sana, Rumah Sakit Al-Awda di kawasan Tel Al-Zaatar, timur kamp pengungsi Jabalia, juga bernasib serupa. Tekanan demi tekanan datang bertubi-tubi. Kondisinya kian memburuk, seolah tak menyisakan ruang aman lagi bagi mereka yang sakit maupun yang mencoba menyembuhkan.

Harapan yang Digilas Serangan

Kondisi rumah sakit di Gaza bukan lagi tentang keterbatasan obat atau fasilitas. Kini, nyawa pasien dan tenaga medis berada di ujung tanduk karena rumah sakit telah menjadi target serangan. Rumah Sakit Lapangan Kuwait di Khan Younis bahkan telah menghentikan seluruh operasi medis sejak Sabtu lalu.

Kerusakan akibat bom tidak hanya menghancurkan bangunan, tapi juga melumpuhkan generator utama dan panel kontrol listrik. Rumah sakit menjadi gelap. Mesin-mesin penopang hidup berhenti. Di sinilah harapan nyaris padam.

Pihak rumah sakit memohon kepada organisasi internasional dan lembaga kemanusiaan untuk bertindak. Mereka mendesak agar hukum internasional ditegakkan. Rumah sakit bukan medan perang. Fasilitas medis seharusnya menjadi zona netral, tempat berlindung terakhir bagi korban luka dan jiwa-jiwa yang rapuh.

Ada 10 Ribu Nyawa Menanti Diselamatkan

Dua hari sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan pernyataan yang memilukan: lebih dari 10.000 pasien di Gaza memerlukan evakuasi medis segera. Di antara mereka, 4.500 adalah anak-anak—mereka yang seharusnya bermain, bersekolah, dan tertawa, kini hanya bisa terbaring lemah menanti bantuan yang tak kunjung datang.

Setiap detik sangat berarti bagi mereka. Namun sayangnya, waktu seolah menjadi musuh ketika dunia memilih diam atau menutup mata.

Ketika Kemanusiaan Diuji

Apa yang terjadi di Gaza bukan hanya tentang konflik bersenjata. Ini adalah krisis kemanusiaan yang menyeret nilai-nilai paling dasar: hak untuk hidup, untuk sembuh, dan untuk dilindungi. Ketika rumah sakit dijadikan sasaran, maka dunia sedang dihadapkan pada pertanyaan besar: sampai kapan kita membiarkan penderitaan ini terus berlangsung?

Editor: Bosanto