Ikan Sapu-Sapu Jakarta Diburu Massal, Pramono Turun Tangan Bersihkan Sungai

Ikan sapu-sapu Jakarta diburu massal karena dinilai berbahaya bagi ekosistem dan kesehatan. Gubernur Pramono memimpin pembersihan sungai di lima wilayah.
Ikan sapu-sapu Jakarta diburu massal karena dinilai berbahaya bagi ekosistem dan kesehatan. Gubernur Pramono memimpin pembersihan sungai di lima wilayah.

BATAMCLICK.COM: Ikan sapu-sapu Jakarta diburu massal setelah populasinya dinilai semakin tak terkendali dan mengancam ekosistem perairan ibu kota. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, bahkan turun langsung meninjau proses penangkapan ikan tersebut sekaligus pembersihan saluran air di kawasan Kelapa Gading, Jumat.

Langkah ini tidak berdiri sendiri. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar aksi serentak di lima wilayah kota sebagai upaya mengendalikan populasi ikan invasif yang kini mendominasi perairan.

“Pelaksanaan serentak di lima kota di Jakarta untuk menangkap ikan sapu-sapu, karena diketahui ikan sapu-sapu ini sekarang mendominasi perairan yang ada di Jakarta,” ujar Pramono.

Dominasi Mengkhawatirkan di Perairan Jakarta

Pemerintah tidak bergerak tanpa dasar. Berdasarkan hasil telaah dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, populasi ikan sapu-sapu diperkirakan sudah melampaui 60 persen di sejumlah perairan Jakarta dan wilayah sekitarnya.

Dominasi ini memicu kekhawatiran serius. Sebab, ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif yang tidak hanya mengganggu keseimbangan ekosistem, tetapi juga mempercepat kerusakan lingkungan perairan.

Pramono menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena dampaknya akan semakin meluas jika tidak segera dikendalikan.

Ancaman Ekosistem dan Kesehatan

Keberadaan ikan sapu-sapu di sungai dan gorong-gorong membawa dua ancaman sekaligus. Pertama, ikan ini memakan telur ikan lokal sehingga menghambat regenerasi spesies asli. Kedua, ikan ini merusak struktur fisik sungai, termasuk tembok dan saluran air.

Lebih jauh, pemerintah juga menyoroti aspek kesehatan. Berdasarkan laporan yang diterima dari KKP, ikan sapu-sapu memiliki kadar residu yang cukup tinggi.

“Yang paling berbahaya adalah kemarin dalam rapat, saya dilaporin oleh Kepala KKP bahwa di ikan ini rata-rata sudah di atas 0,3 kadar residunya. Kalau itu dikonsumsi, akan berbahaya, dan kalau dibiarkan, maka dia akan merusak,” jelas Pramono.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu dan turut serta dalam upaya pengendalian populasinya.

Pembersihan Sungai Digencarkan

Sebagai langkah konkret, Pemprov DKI Jakarta menginstruksikan pembersihan seluruh sungai dan saluran air di lima wilayah kota. Kegiatan ini berjalan bersamaan dengan penangkapan ikan sapu-sapu agar hasilnya lebih efektif.

Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi besar penataan lingkungan perkotaan, terutama dalam menjaga fungsi drainase dan mencegah kerusakan infrastruktur air.

Warga Dapat Insentif, Rp5.000 per Kilogram

Menariknya, gerakan ini juga melibatkan partisipasi aktif warga. Ketua RW 06 Kelapa Gading Barat, Ihsan, memberikan insentif bagi masyarakat yang ikut menangkap ikan sapu-sapu.

Ia menawarkan imbalan sebesar Rp5.000 per kilogram sebagai bentuk motivasi sekaligus dukungan terhadap kebijakan pemerintah.

“Saya hanya spontan merespons apa yang Pak Gubernur instruksikan ke wilayah DKI Jakarta, untuk mengendalikan hama ikan sapu-sapu ini. Sebagai imbalan untuk memotivasi di wilayah sini, kita hargain per kilo Rp5.000 dan uang sakunya, khusus untuk wilayah RW 06,” ungkap Ihsan.

Gerakan Kolektif Selamatkan Perairan

Langkah berburu ikan sapu-sapu ini menunjukkan bahwa penanganan masalah lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci agar pengendalian berjalan cepat dan efektif.

Dengan gerakan serentak ini, Pemprov DKI Jakarta berharap ekosistem perairan dapat kembali seimbang, sekaligus menjaga kualitas lingkungan hidup di tengah tekanan urbanisasi yang terus meningkat.