BATAMCLICK.COM: Alternatif sumber minyak mentah Afrika kini menjadi langkah strategis yang ditempuh PT Pertamina (Persero) untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Ketegangan yang dipicu perang antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga mengancam jalur distribusi energi global, terutama jika Selat Hormuz benar-benar ditutup.
Di tengah situasi tersebut, Pertamina bergerak cepat dengan mencari sumber pasokan baru yang lebih aman dan stabil.
Pertamina Perluas Sumber Energi Global
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa perusahaan terus memperluas sumber impor energi, termasuk dari negara-negara Afrika yang selama ini sudah menjadi mitra.
Ia menjelaskan bahwa langkah ini bukan keputusan mendadak, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Pertamina dan pemerintah terus mencarikan alternatif sumber energi, termasuk dari negara-negara Afrika yang selama ini sudah kita manfaatkan,” ujar Baron saat ditemui di sela acara Sustainability Champions di Jakarta.
Selain Afrika, Pertamina juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai negara lain guna memastikan pasokan tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
Antisipasi Dampak Penutupan Selat Hormuz
Baron menegaskan bahwa langkah diversifikasi sumber energi ini sejalan dengan arahan pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang telah mengantisipasi risiko terganggunya distribusi minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia, kini berada dalam bayang-bayang konflik. Jika jalur tersebut ditutup, maka dampaknya akan terasa langsung pada pasokan energi global, termasuk Indonesia.
Karena itu, Pertamina bersama pemerintah terus memonitor perkembangan situasi internasional secara intensif.
Jaminan Pasokan BBM dan LPG untuk Masyarakat
Di sisi lain, Pertamina memastikan bahwa pasokan energi dalam negeri tetap aman. Perusahaan terus melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah untuk menjaga ketersediaan BBM dan LPG bagi masyarakat maupun industri.
Baron menegaskan bahwa upaya ini menjadi prioritas utama, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi kelangkaan energi.
“Kami terus memantau dinamika global dan berkoordinasi dengan pemerintah agar BBM dan LPG tetap tersedia,” katanya.
Diversifikasi Pasokan, Tidak Hanya Afrika
Meski Afrika menjadi salah satu alternatif utama, Pertamina tidak bergantung pada satu wilayah saja. Perusahaan terus menjajaki berbagai sumber energi dari sejumlah negara lain guna menciptakan sistem pasokan yang lebih fleksibel dan tangguh.
Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi risiko ketergantungan terhadap kawasan tertentu, terutama yang rawan konflik.
Pemerintah Siapkan Skenario Global
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengungkapkan bahwa sekitar 20 persen impor minyak mentah Indonesia masih bergantung pada Timur Tengah.
Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan berbagai alternatif pasokan dari negara lain seperti Angola, Brasil, Amerika Serikat, hingga Rusia.
Bahkan, pada pertengahan April 2026, Bahlil melakukan negosiasi langsung dengan Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev, guna membahas potensi kerja sama pembelian minyak mentah dan LPG.
Langkah tersebut menegaskan bahwa Indonesia tidak tinggal diam menghadapi gejolak global, melainkan aktif mencari solusi demi menjaga stabilitas energi nasional.
Strategi Jangka Panjang Ketahanan Energi
Dengan berbagai langkah tersebut, Pertamina bersama pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Diversifikasi sumber minyak mentah, termasuk dari Afrika, menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang untuk memastikan Indonesia tetap memiliki pasokan energi yang aman, stabil, dan berkelanjutan—meski dunia tengah menghadapi ketidakpastian geopolitik.








