BP Batam terus dorong percepatan hunian di Tanjung Banon agar warga terdampak pembangunan Rempang Eco-City segera hidup lebih tenang dan layak.
Pemukiman Rempang Eco City sudah ramai. Perlahan namun pasti, kehidupan baru mulai tumbuh di Tanjung Banon. Enam Kepala Keluarga (KK) baru saja menempati rumah mereka, bergabung dengan 117 KK yang telah lebih dulu pindah. Kini, total 123 KK telah menikmati hunian baru yang menjadi bagian dari proses relokasi akibat pengembangan kawasan Rempang Eco-City.
Rabu pagi itu, Kepala Biro Umum BP Batam, Mohamad Taofan, berdiri di tengah warga yang baru saja menempati rumahnya. Dengan senyum hangat, ia menyampaikan bahwa proses pemindahan warga berjalan secara bertahap. BP Batam, katanya, mengedepankan pendekatan humanis dan persuasif dalam setiap langkah, demi menjaga suasana yang damai dan iklim investasi yang tetap kondusif di Batam.
“BP Batam terus berupaya menyelesaikan pergeseran warga terdampak Rempang Eco-City secara baik dan adil. Kami ingin memastikan bahwa hak-hak warga benar-benar terpenuhi,” ujar Taofan.
Tanjung Banon, Awal Baru yang Terus Dibangun
Lebih jauh, Taofan menjelaskan bahwa pembangunan hunian warga di Tanjung Banon terus berlangsung cepat. Berdasarkan laporan terakhir dari lapangan, sebanyak 182 unit rumah sudah masuk kategori siap huni. Sementara 67 unit lainnya sedang dalam tahap penyelesaian akhir, dan 55 unit tengah berlangsung pada bagian atap.
“Untuk tahap pertama ini, BP Batam bertanggung jawab menyelesaikan total 304 unit rumah warga. Kami berharap pekerjaan ini tuntas tanpa hambatan yang berarti,” ungkapnya.
Sedangkan untuk tahap kedua, pembangunan oleh Kementerian PUPR. Saat ini proses pematangan lahan oleh kementerian tersebut juga terus berjalan, sebagai bentuk sinergi antarinstansi dalam mewujudkan hunian yang layak bagi masyarakat terdampak.
Melangkah Bersama Menuju Masa Depan Rempang
Taofan tidak henti-hentinya mengajak semua pihak untuk turut mendukung kelancaran proses relokasi ini. Baginya, pemindahan warga bukan hanya sekadar proyek pembangunan fisik, tetapi juga perjalanan sosial menuju keadilan dan masa depan yang lebih baik.
“Kami memohon dukungan semua pihak agar proses ini berjalan sesuai harapan. Semoga Batam bisa terus melaju menjadi kawasan investasi terbaik di Indonesia,” tutupnya.
Kini, pemukiman di Rempang Eco City sudah mulai hidup. Anak-anak berlarian di halaman rumah barunya, para ibu mulai berbelanja ke warung terdekat, dan para ayah bersiap membangun hari-hari baru dengan semangat yang tak kalah besar dari dinding rumah mereka yang masih segar oleh cat.
Bagi BP Batam, ini bukan hanya soal membangun rumah. Ini tentang membangun kepercayaan, harapan, dan hidup baru yang pantas untuk diperjuangkan.








