Menjawab harapan anak-anak Batam lewat pendidikan berbasis karakter dan asrama
Sekolah Rakyat Batam kini hadir membawa harapan baru bagi masa depan anak-anak kurang mampu di Kota Batam, Kepulauan Riau. Dengan konsep pendidikan berbasis asrama (boarding school), program ini bukan hanya menawarkan pendidikan formal, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter, menata kembali harapan, serta membuka cakrawala masa depan yang lebih cerah.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Tri Wahyu Rubianto, menilai konsep Sekolah Rakyat sangat tepat untuk menjawab tantangan zaman. Menurutnya, pendidikan berbasis asrama akan membantu membentuk pola pikir dan kedisiplinan anak-anak yang selama ini mungkin tidak mendapatkan ruang yang cukup dalam lingkungan keluarga.
“Program itu bagus karena boarding. Kami berharap karakter dan mindset anak-anak bisa dibentuk lebih baik, lebih berorientasi pada masa depan,” ujar Tri saat ditemui di Batam, Rabu.
Sinergi Disdik dan Dinsos Dorong Lahirnya Generasi Tangguh
Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Pendidikan menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh program Sekolah Rakyat. Tri menegaskan pihaknya telah menyiapkan skema dukungan, termasuk kurikulum, tenaga guru, dan pendidik.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan menyusun kurikulum, sementara Disdik Kota Batam bertugas sebagai pelaksana teknis di lapangan. Untuk kebutuhan tenaga pendidik, Disdik akan mengajukan nama-nama ke Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) sesuai jumlah kebutuhan.
“Kami siap mendukung penuh. Untuk kurikulum disiapkan Kemendikdasmen. Kami akan ajukan guru dan tenaga pendidik ke GTK, setelah pembangunan sekolah selesai dilakukan,” jelas Tri.
Menunggu Akselerasi Pembangunan
Hingga saat ini, Dinas Pendidikan masih menanti tindak lanjut pembangunan dari Dinas Sosial sebagai koordinator pelaksana. Dalam rapat bersama Wali Kota Batam Amsakar Ahmad beberapa waktu lalu, Dinas Sosial telah melaporkan perkembangan tahapan proyek Sekolah Rakyat.
Tri menyampaikan, jika pembangunan fisik sekolah sudah mulai, maka pihaknya segera mengajukan segala kebutuhan ke Kemendikdasmen. Proses ini, menurutnya, tak bisa berjalan sendiri-sendiri. Semua pihak perlu bergerak serempak untuk memastikan Sekolah Rakyat tidak hanya berdiri, tetapi juga berjalan dengan standar pendidikan yang layak dan berkelanjutan.
Harapan yang Tertanam di Lima Kabupaten/Kota
Sekolah Rakyat bukan hanya milik Batam. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau telah menyiapkan lahan di lima daerah untuk membangun sekolah serupa: Batam, Tanjungpinang, Karimun, Lingga, dan Bintan. Memilih kelima lokasi tersebut karena memiliki kebutuhan tinggi terhadap fasilitas pendidikan alternatif bagi masyarakat prasejahtera.
Dengan daya tampung fleksibel hingga 3.000 siswa per sekolah, Sekolah Rakyat hadir untuk merespons kebutuhan pendidikan berbasis Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Targetnya jelas: menjangkau anak-anak dari keluarga tidak mampu yang selama ini nyaris terlewatkan oleh sistem pendidikan formal.
Mendidik Bukan Hanya Mengajar
Lebih dari sekadar tempat belajar, Sekolah Rakyat Batam akan menjadi rumah kedua bagi anak-anak yang membutuhkan kehangatan, arahan, dan kesempatan. Dengan sistem boarding school, sekolah ini menjadi tempat yang membentuk disiplin, kerja sama, dan semangat hidup yang kuat. Mengajak setiap siswa untuk bangun dengan tekad dan tidur dengan harapan.
Sekolah Rakyat bukan hanya tentang pelajaran di atas papan tulis, tetapi tentang bagaimana anak-anak bangkit dari keterbatasan dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan siap menghadapi masa depan.
Sekolah ini bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga harapan. Harapan agar anak-anak Batam yang tak mampu bisa meraih mimpi tanpa batas.








