Jejak Batu di Tanah Suci, Keteguhan Jamaah Menolak Godaan, Menyempurnakan Haji di Mina

Mina, Arab Saudi — Di bawah terik matahari padang pasir, jutaan langkah menyatu menuju satu tujuan: menyempurnakan rukun Islam kelima. Suara kerikil yang dilemparkan ke tiang-tiang jamrah di Mina, Minggu (8/6), bukan sekadar bunyi batu menghantam dinding, tapi gema dari keteguhan hati jutaan umat yang menolak godaan dan meneguhkan keimanan.

Hari itu adalah hari kedua Tasyrik, hari-hari penuh makna yang menandai bagian akhir dari prosesi ibadah haji. Jamaah dari berbagai penjuru dunia—termasuk Indonesia—terus menjalankan ritual lempar jamrah secara tertib, memperingati momen bersejarah saat Nabi Ibrahim menolak bujuk rayu setan di tiga titik yang kini dikenal sebagai Jamarat.

Stasiun televisi pemerintah Arab Saudi, Al-Ekhbariya, menayangkan langsung bagaimana ribuan jamaah melaksanakan ritual dengan tertib, mengalir seperti arus, tanpa desakan, tanpa kekacauan. Sebuah pemandangan yang menyejukkan, sekaligus menggugah hati.

“Semua berjalan lancar, sesuai rencana,” ujar Mayor Jenderal Abdullah Al-Quraish, Kepala Pasukan Keamanan Haji, seperti dikutip dari Kantor Berita Saudi (SPA). Ia menegaskan bahwa pengaturan pergerakan jamaah dari Mina ke Masjidil Haram telah dipersiapkan dengan skenario yang komprehensif.

Sejak peristiwa tragis di masa lalu, otoritas Saudi tak henti memperbaiki sistem pengamanan di kawasan Jamarat. Jalur pejalan kaki dibuat bertingkat, jadwal pergerakan diatur ketat, dan pengawasan dilakukan dengan teknologi mutakhir demi satu hal: keselamatan dua juta lebih tamu Allah.

Para jamaah menghabiskan tiga hari di Mina selama hari-hari Tasyrik, dari Sabtu (7/6) hingga Senin (9/6). Setiap harinya, mereka melempar 21 batu kecil ke tiga jamrah—Ula, Wusta, dan Aqabah—dalam rangkaian yang telah ditentukan. Sebelumnya, mereka telah melaksanakan wukuf di Arafah pada Kamis (5/6) dan melontar jamrah Aqabah pada Jumat.

Di balik setiap lemparan kerikil itu, ada doa-doa lirih yang menyelinap ke langit. Ada air mata haru, ada tekad yang dipupuk sejak bertahun-tahun lalu—bahkan sejak masa antrian yang panjang dan penuh harap di tanah air.

Ibadah haji bukan sekadar ritual. Ia adalah perjalanan spiritual, fisik, dan emosional. Sebuah pengorbanan yang hanya diwajibkan sekali seumur hidup, bagi yang mampu secara finansial dan fisik.

Namun bagi yang hadir di Mina hari ini, semua pengorbanan itu terbayar lunas.