BATAMCLICK.COM: Gubernur Kepri Ansar Ahmad menegaskan target investasi nasional di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada 2026 dipatok sebesar Rp86 triliun. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan target tahun 2025 yang hanya sebesar Rp57 triliun, sekaligus menunjukkan optimisme pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis investasi.
Tidak hanya sekadar target, capaian sebelumnya juga memperkuat keyakinan tersebut. Sepanjang 2025, realisasi investasi di Kepri bahkan menembus Rp78 triliun atau mencapai 112 persen dari target nasional. Sementara itu, jika merujuk pada target dalam RPJMD sebesar Rp47 triliun, capaian tersebut melesat hingga 137 persen.
Optimisme dari Capaian Tahun Sebelumnya
Ansar Ahmad menilai keberhasilan melampaui target investasi 2025 menjadi modal penting untuk menatap 2026. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan aparatur sipil negara (ASN) di Kepri untuk terus bekerja keras, bersinergi, serta menjaga iklim investasi tetap kondusif.
Selain itu, pemerintah daerah juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan seluruh pemangku kepentingan. Langkah ini dilakukan agar berbagai rencana investasi besar yang telah disusun dapat segera terealisasi tanpa hambatan berarti.
Proyek Strategis Jadi Penggerak Utama
Sejumlah proyek strategis diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan investasi di Kepri pada 2026. Di Batam, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terus didorong melalui Badan Pengusahaan (BP) Batam sebagai ujung tombak pengelolaan kawasan industri dan investasi.
Sementara itu, Kabupaten Bintan juga menjadi perhatian dengan rencana pembangunan kawasan industri petrokimia di Pulau Poto, serta pengembangan industri baja di Pulau Numbing. Kedua proyek ini diyakini mampu menarik investor besar sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Di Kabupaten Lingga, pemerintah terus menggenjot realisasi investasi KEK Thiansan yang telah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Hingga saat ini, pemerintah daerah masih aktif berkoordinasi, termasuk dengan TNI AL, guna menyelesaikan persoalan lahan agar proyek tersebut dapat segera berjalan.
Industri Kelautan dan Sumber Daya Alam Digenjot
Selain sektor industri berat, Kepri juga mengembangkan potensi ekonomi berbasis kelautan. Di Dabo Singkep, Lingga, pemerintah menargetkan pengembangan industri rumput laut hingga mencapai 5.000 hektare yang dikelola oleh investor lokal.
Tidak berhenti di situ, Kabupaten Anambas juga bersiap mengembangkan industri serupa. Dalam waktu dekat, proses pembibitan akan dimulai dengan target produksi mencapai 300 ribu ton per tahun. Industri ini dinilai memiliki dampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya dalam membuka peluang kerja bagi perempuan.
Sementara di Natuna, pemerintah bersama sejumlah perusahaan tambang tengah membahas pengembangan industri pasir silika. Meski demikian, proses tersebut masih menghadapi kendala terkait tingginya harga patokan mineral yang dinilai memberatkan investor.
Pemerataan Investasi dan Penyerapan Tenaga Kerja
Ansar Ahmad menegaskan bahwa percepatan investasi tidak hanya bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan menekan angka pengangguran. Oleh sebab itu, pemerintah terus mendorong pemerataan investasi agar tidak hanya terpusat di Batam, melainkan juga menjangkau seluruh kabupaten/kota di Kepri.
Saat ini, berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kepri, terdapat sekitar 25 kawasan industri yang tersebar di wilayah tersebut. Kawasan-kawasan ini telah menyerap kurang lebih 400 ribu tenaga kerja, dengan konsentrasi terbesar berada di Batam, Bintan, dan Karimun.
Dengan berbagai proyek strategis dan potensi daerah yang terus dikembangkan, Kepri semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu tujuan investasi unggulan di Indonesia. Target Rp86 triliun pada 2026 pun bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari langkah nyata menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.









