Batamclick.com,
Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kepulauan Riau (OJK Kepri) terus memperkuat ketahanan siber perbankan untuk menghadapi peningkatan risiko kejahatan siber dan fraud atau penipuan seiring pesatnya transformasi digital.
Asisten Direktur Bagian Pelindungan Konsumen OJK Kepri Muhammad Lutfi menyoroti pentingnya literasi keuangan masyarakat sebagai langkah preventif.
“Peningkatan keamanan siber harus diimbangi dengan penguatan literasi keuangan masyarakat sebagai langkah preventif untuk meminimalkan dampak kejahatan digital di sektor jasa keuangan,” kata Lutfi dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Senin.
OJK Kepri bersama Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS) dan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Kepulauan Riau menggelar Seminar Perbankan bertajuk ‘Cyber Defense and Fraud Prevention Forum’ di Batam.
Disebutkannya, berdasarkan data Indonesia Anti Scam Center (IASC), tercatat 7.782 laporan penipuan di wilayah Kepulauan Riau sejak November 2024 hingga Maret 2026.
Sementara itu, berdasarkan data Sistem Informasi Pengawasan Investasi dan Aktivitas Keuangan llegal (SIPASTI), terdapat 391 laporan pinjaman online ilegal, 114 laporan investasi ilegal, dan 6 laporan gadai ilegal pada periode Januari 2025 hingga Maret 2026.
“Data tersebut menunjukkan bahwa risiko kejahatan keuangan digital masih tinggi dan memerlukan kewaspadaan serta perhatian bersama, baik dari industri maupun masyarakat,” ujar Lutfi.
Direktur Eksekutif PERBANAS Pusat Eka Sri Dana Afriza menyampaikan bahwa perkembangan sistem keuangan yang semakin terintegrasi menuntut kesiapan industri dalam mengelola risiko secara lebih efektif, responsif, dan tepat sasaran.
“Industri perbankan perlu terus proaktif melalui penguatan fungsi investigasi, pemanfaatan teknologi analisis data, serta peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia,” ujar Eka.
Eka juga menekankan pentingnya sinergi antara regulator dan industri dalam membangun sistem keamanan yang kokoh.
“Implementasi kebijakan Bank Indonesia dan OJK secara konsisten akan mendukung terciptanya sistem keamanan yang tangguh dan stabil di sektor perbankan dan keuangan,” tambahnya.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau sekaligus perwakilan Ketua BMPD Kepulauan Riau Ardhienus menegaskan bahwa risiko siber dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, sehingga perlu dikelola secara optimal melalui penguatan manajemen risiko yang berkelanjutan.
Seminar tersebut turut dihadiri Ketua PERBANAS Batam Kepulauan Riau Lenny serta menghadirkan narasumber dari industri, akademisi, dan regulator.
Dalam paparannya, Senior Adviser Fraud Banking Investigation BCA sekaligus Ketua Komite Kerja Siber Fraud PERBANAS Wani Sabu menyampaikan berbagai modus operandi serta strategi investigasi fraud perbankan untuk memperkuat deteksi dan pencegahan kejahatan keuangan.
Seminar ini diikuti oleh 165 peserta yang terdiri atas perwakilan industri perbankan, pergadaian, dan asuransi di Kepri, asosiasi sektor jasa keuangan, serta Kepolisian Daerah Kepulauan Riau.
OJK akan terus memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan terciptanya industri jasa keuangan yang tangguh, aman, dan berintegritas di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Sumber, Antara









