Kepri Rancang Tour Wisata untuk ABK Kapal, Membuka Pintu Baru bagi Wisatawan Asing

Kepri Rancang Tour Wisata untuk ABK Kapal
Kepri Rancang Tour Wisata untuk ABK Kapal

Ketika Selat Malaka bukan hanya jalur pelayaran, tapi juga jembatan menuju destinasi wisata Kepri

Di tengah lalu lintas padat kapal internasional yang melintas di Selat Malaka, Kepri merancang tour wisata untuk ABK kapal—sebuah langkah inovatif yang mungkin belum banyak dilirik daerah lain. Bukan hanya menarik, gagasan ini menyentuh logika sekaligus harapan, bahwa para Anak Buah Kapal (ABK) dari kapal asing yang bersandar di Kepri bisa menjadi bagian dari pertumbuhan pariwisata daerah.

Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Hasan, mengungkapkan ide ini berangkat dari potensi besar yang selama ini belum tergarap maksimal. Setiap tahun, ribuan kapal dari berbagai penjuru dunia melintasi dan bersandar di perairan Batam dan Bintan. Di dalam kapal-kapal itu, belasan bahkan puluhan kru asing hidup selama berhari-hari, menanti kapal mereka kembali berlayar.

“Puluhan ribu kapal melintas dan berlabuh setiap tahunnya. Ini peluang besar. Kru kapal itu bisa kita ajak menikmati pariwisata lokal, bukan hanya menunggu di atas kapal,” ujar Hasan penuh semangat saat ditemui di Tanjungpinang, Sabtu (12/7).

Wisata dari Atas Geladak ke Pesona Lagoi

Bukan sekadar ide, rencana ini sedang dalam proses konkret. Hasan menjelaskan, kapal yang labuh jangkar biasanya tinggal dua sampai tiga hari, bahkan ada yang lebih dari sebulan jika tengah menjalani perbaikan. Di waktu inilah, para ABK bisa diajak menyambangi berbagai objek wisata unggulan Kepri, seperti Lagoi di Bintan atau destinasi budaya dan kuliner lainnya di Batam dan Tanjungpinang.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau pun tengah menyusun koordinasi dengan berbagai asosiasi pariwisata dan perhotelan, untuk merancang paket-paket wisata yang sesuai dengan kebutuhan dan waktu para kru kapal.

“Kami juga akan menjalin komunikasi langsung dengan operator kapal labuh jangkar. Dari situ kita bisa mulai menawarkan pilihan wisata agar mereka tertarik turun dan menjelajah Kepri,” tambah Hasan.

Ekonomi Daerah Bergerak, Wisata Semakin Hidup

Gagasan ini bukan hanya memberi warna baru dalam sektor pariwisata, tapi juga menjadi peluang ekonomi yang nyata. Hasan menggambarkan skenarionya dengan sederhana, namun penuh makna.

“Bayangkan, jika tiga kapal bersandar dan masing-masing membawa 15 kru yang ikut tur wisata, maka itu sudah 45 orang. Uang yang mereka belanjakan bisa jadi pemasukan untuk UMKM lokal, sopir taksi, pemandu wisata, dan lainnya,” katanya.

Menurutnya, hal kecil seperti ini, jika berjalan dan berkembang secara serius dan terintegrasi, akan mampu memberi kontribusi besar terhadap pencapaian target kunjungan wisatawan mancanegara yang telah menjadi target pemerintah.

Mengejar Target 1,7 Juta Wisman Tahun 2025

Dinas Pariwisata Kepri terus bergerak. Berbagai inovasi telah dan akan terus terlaksana, guna memenuhi target 1,7 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2025. Dan data pun menunjukkan arah yang positif.

Dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari hingga Mei 2025, jumlah wisman yang datang ke Kepri sudah mencapai 711 ribu orang. Artinya, dengan strategi kreatif seperti menyasar para ABK kapal asing, peluang untuk melampaui target sangat terbuka lebar.

Bagi Kepri, laut bukan hanya penghubung antarnegara, tapi juga gerbang wisata yang menyimpan sejuta potensi. Dan para kru kapal, mungkin tanpa mereka sadari, adalah wisatawan dalam balutan seragam laut—menunggu untuk diajak menikmati indahnya tanah Melayu.