Batamclick.com,
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mempelajari pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) atau Free Trade Zone (FTZ) di Kota Batam sebagai bagian dari rencana penguatan ekonomi kawasan di daerah itu.
Gubernur NTT Melki Laka Lena bersama jajaran pemerintah daerah, pada Senin melakukan kunjungan kerja ke Batam dan berdialog dengan Wali Kota Batam Amsakar Achmad serta Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra.
“Kami ingin belajar dari Batam yang sudah lama menjadi kawasan FTZ dan terbukti memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Melki dalam keterangan yang diterima di Kupang, Senin malam.
Ia mengatakan pemerintah pusat saat ini tengah merancang pengembangan NTT sebagai kawasan FTZ. Menurut dia, posisi geografis NTT yang berbatasan langsung dengan Timor Leste dan dekat dengan Australia menjadi modal strategis dalam pengembangan perdagangan internasional.
Melki menilai pengalaman Batam penting dipelajari, terutama terkait strategi menarik investasi, membangun iklim usaha yang kompetitif, serta memperkuat konektivitas perdagangan di wilayah kepulauan.
Menurut dia, tantangan utama pembangunan ekonomi di NTT masih berkaitan dengan tingginya biaya logistik antarwilayah.
“Problem utama provinsi kepulauan adalah biaya logistik yang besar. Jika infrastruktur laut memadai, distribusi barang dan pertumbuhan ekonomi tentu akan lebih baik,” ujarnya.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan keberhasilan kawasan FTZ tidak hanya ditentukan oleh status kawasan, tetapi juga kepastian regulasi dan pelayanan investasi yang cepat dan efisien.
“Investor melihat kepastian dan kemudahan. Karena itu pelayanan perizinan harus dipermudah, termasuk melalui digitalisasi agar proses lebih cepat dan akses investasi semakin terbuka,” katanya.
Ia menilai NTT memiliki peluang besar berkembang menjadi kawasan ekonomi strategis karena berada di jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Indonesia dengan Australia dan Timor Leste.
Selain membahas investasi dan regulasi, kedua daerah juga mendiskusikan konektivitas laut dan pengembangan sektor kemaritiman.
Amsakar menyebut Batam memiliki sekitar 135 perusahaan galangan kapal yang dapat menjadi peluang kerja sama untuk mendukung kebutuhan transportasi laut di NTT.
“Jika ada peluang pengoperasian kapal di NTT, tentu ini bisa menjadi ruang kerja sama yang baik,” ujarnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT Zet Sony Libing mengatakan pertumbuhan ekonomi NTT saat ini mencapai 4,32 persen dengan inflasi sebesar 2,64 persen.
Ia menyebut sektor pertanian dan perdagangan masih menjadi penopang utama ekonomi daerah, namun distribusi barang masih terkendala tingginya biaya logistik.
Menurut dia, sebagian besar jalur distribusi menuju Kupang masih harus melalui Surabaya dan Makassar sehingga berdampak terhadap harga barang di daerah.
Pemprov NTT berharap kerja sama dengan Batam dapat membuka akses pasar baru bagi produk lokal NTT sekaligus memperkuat pengembangan industri kecil dan menengah.
Dalam pertemuan itu juga dibahas peluang promosi produk unggulan dan budaya NTT di Batam. Melki menyebut sekitar 40 ribu warga NTT tinggal di Batam dan dapat menjadi penghubung penguatan hubungan ekonomi serta sosial budaya kedua daerah.
Sumber, Antara









