BI Kepri Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Pasar Tradisional Guna Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi

BATAMCLICK.COM — Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berfokus memperkuat sinergi pengendalian inflasi untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah. Langkah ini krusial dilakukan demi memastikan pergerakan harga komoditas tetap berada dalam sasaran, sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah tren pertumbuhan ekonomi wilayah Kepri.

​Hal tersebut mengemuka dalam agenda Bincang Bersama Media yang disampaikan oleh Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepri, Rony Widijarto P., di Kantor BI Kepri, Batam Center, Kamis (25/6/2026) pagi.

Tantangan Harga di Pasar Tradisional dan Peran Distributor

Dalam pemaparannya, Rony Widijarto menekankan pentingnya menjaga pasokan komoditas pangan sebagai kunci utama menjaga inflasi tahunan Kepri tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen. BI Kepri mencatat, tantangan utama lonjakan harga pangan sering kali terjadi di pasar-pasar tradisional, sementara harga di pasar modern relatif lebih terjaga.

​”Inflasi itu melihat perubahan atau pergerakan harganya, bukan level harganya. Teori ekonomi mengejar stabilitas agar harga tidak bergejolak naik turun. Oleh karena itu, perhatian utama kita saat ini adalah memantau pergerakan harga di pasar tradisional utama,” ujar Rony.

Menyikapi hal tersebut, BI Kepri bersama pemerintah daerah melalui High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sepakat mengintensifkan operasi pasar murah yang langsung menyasar titik-titik pasar tradisional. Rony juga mengingatkan peran vital para distributor dalam menjaga kelancaran pasokan komoditas pangan.

Sebagai daerah Free Trade Zone (FTZ) yang memiliki keistimewaan bebas PPN, Batam memiliki pasar yang sangat jelas dan relatif terjamin dari sisi serapan konsumen, sehingga para distributor diharapkan dapat terus menjamin stabilitas suplai ke wilayah ini.

Anomali Nasi Olahan dan Emas Perhiasan Terhadap Inflasi

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), BI Kepri mencermati beberapa komoditas unik yang memberi andil signifikan terhadap inflasi tahunan. Salah satu yang menjadi sorotan utama adalah kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran, khususnya komoditas nasi dengan lauk.

Data terakhir menunjukkan inflasi untuk nasi dengan lauk mengalami kenaikan harga hingga 11,23 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,27. Uniknya, kenaikan ini tidak diikuti oleh menu olahan lain seperti bakso atau mi, serta tidak sebanding dengan kenaikan harga bahan bakunya yang relatif stabil di pasar. Aktivitas lonjakan harga ini paling banyak ditemukan di warung-warung makan sekitar area pasar tradisional.

“Kami mendorong adanya transparansi harga dari pemilik rumah makan atau restoran berupa pemberian label harga atau menu yang jelas bagi konsumen agar tidak berubah-ubah,” jelas Rony.

Di sisi lain, emas perhiasan dan tarif angkutan udara juga masih menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di Kepri. Tingginya andil emas perhiasan mencerminkan fluktuasi harga emas dunia sepanjang tahun 2025 yang sangat dinamis, sekaligus merefleksikan pergeseran daya beli masyarakat.

Sementara untuk angkutan udara, harga tiket pesawat terpantau masih bertahan di lini batas atas dan belum menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Akselerasi Ekonomi di Wilayah Potensial

Menjaga stabilitas inflasi di sektor pangan dan energi erat kaitannya dengan upaya BI Kepri dalam memacu pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya pada wilayah-wilayah yang masih menghadapi tantangan ekonomi.

Rony menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang optimal harus dapat dirasakan secara merata, termasuk oleh daerah-daerah potensial yang saat ini masih berjuang menghadapi tantangan angka kemiskinan, seperti Kabupaten Lingga, Natuna, dan Kepulauan Anambas.

​Guna mendorong akselerasi ekonomi di wilayah-wilayah tersebut, BI Kepri mengandalkan program pemberdayaan UMKM yang diintegrasikan dengan sektor ekonomi pariwisata dan kuliner.

Sektor kuliner dinilai strategis karena tidak hanya mampu menggerakkan roda ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga berkontribusi besar dalam menjaga rantai pasok pangan yang stabil.

“Upaya stabilisasi harga pangan dan pengembangan UMKM kuliner ini akan berjalan beriringan. Dengan inflasi yang terjaga, daya beli masyarakat akan kuat, sehingga target pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah Kepulauan Riau pada satu semester ke depan dapat tercapai dengan baik,” pungkas Rony.***