atamclick.com,
Seorang petugas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogjogan Silma 2, Bogor, Jawa Barat, Hayatunnisa (26), mengaku merasa lebih disiplin saat bekerja untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hayatunnisa sudah bekerja sejak pukul tiga dini hari. Perempuan tersebut memiliki kisah perjalanan yang membawanya kembali melangkah, setelah sempat berhenti cukup lama.
“Saya berhenti kerja karena ibu jatuh dari tangga, tangannya patah. Waktu itu fokus merawat ibu sampai sekitar delapan bulan. Banyak pelajaran yang saya dapat, mulai dari disiplin waktu, lalu bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain juga,” ujarnya dalam keterangan resmi dari BGN di Jakarta, Selasa.
Sebelumnya, Hayatunnisa bekerja sebagai guru taman kanak-kanak selama dua tahun. Hari-harinya diisi dengan mengajar, mendampingi anak-anak, dan membangun kedekatan yang hangat dengan murid-muridnya.
Setelah masa-masa harus merawat sang ibu yang sakit terlewati, Hayatunnisa mulai mencari jalan untuk kembali beraktivitas. Ia ingin membuka lembaran baru, meski langkahnya tidak harus besar.
Kesempatan itu datang ketika dapur MBG di Jogjogan mulai beroperasi. Sejak awal berdiri, ia memutuskan bergabung sebagai petugas yang mengambil peran di bagian pemorsian.
“Pengin coba cari pengalaman, kebetulan juga diizinkan sama orang tua, selain itu senang karena bisa bareng-bareng sama teman-teman. Di sini terasa kekeluargaannya,” tuturnya.
Hayatunnisa mengaku bahwa lingkungan kerjanya kini berbeda dari sebelumnya karena ritme kerja lebih cepat dan tuntutan kerja lebih tinggi, sehingga ia harus beradaptasi dengan tim yang beragam.
Ia tidak menampik bahwa pekerjaan ini melelahkan. Bangun dini hari dan bekerja dalam ritme cepat menjadi tantangan tersendiri. Namun, bagi Hayatunnisa, kelelahan itu datang bersama makna karena ia bisa bekerja bersama dengan teman-teman petugas yang lain.
“Capek pasti, tapi, senangnya juga ada,” ucapnya.
Di sela pekerjaannya, ia juga menyadari bahwa apa yang ia lakukan memiliki arti yang lebih luas. Makanan yang ia bantu siapkan bukan sekadar konsumsi harian, melainkan bagian dari upaya memenuhi kebutuhan gizi anak-anak.
“Yang penting kita lakukan sebaik mungkin karena ini untuk orang lain,” katanya.
Ia pun berharap program MBG dapat terus berjalan dan memberi manfaat lebih luas, tidak hanya bagi penerima manfaat, tetapi juga bagi mereka yang terlibat di dalamnya.
“Sekarang cari kerja itu enggak mudah. Jadi, program MBG ini sangat membantu untuk relawan di sini dan untuk anak-anak,” tuturnya.
Sumber, Antara









