BATAMCLICK.COM – Pembukaan Kenduri Seni Melayu (KSM) 2026 di Dataran Engku Putri, Batam, Jumat (3/7/2026), menghadirkan sebuah pertunjukan yang mampu menyentuh hati para penonton. Wali Kota Batam Amsakar Achmad membacakan puisi berjudul “Uwak”, karya yang ditulisnya pada Januari 2014 sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rindu kepada sosok ayah.
Penampilan tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan sepanjang malam pembukaan KSM. Suasana yang semula meriah berubah menjadi penuh keheningan saat bait demi bait puisi dibacakan dengan penuh penghayatan.
Dibuka Penampilan Anak-anak dan Kolaborasi Seni yang Memukau
Pertunjukan diawali dengan pembacaan penggalan puisi oleh sejumlah murid sekolah dasar yang mengenakan pakaian adat Melayu. Melalui dialog sederhana di atas panggung, anak-anak kemudian mengajak Amsakar untuk membacakan puisi ciptaannya secara langsung.
Ajakan polos itu disambut hangat, menciptakan suasana emosional yang mengundang perhatian para tamu undangan maupun masyarakat yang memenuhi lokasi acara.
Nuansa semakin mendalam ketika alunan musik lembut mengiringi pembacaan puisi. Anak-anak duduk melingkar mengelilingi Amsakar membentuk formasi menyerupai kelopak bunga teratai, sementara penampilan tari kolaboratif dari Pusat Latihan Seni (PLS) Sanggam dan Tankcer Dance Studio memperkuat pesan yang terkandung dalam karya sastra tersebut.
Mengangkat Makna Kasih Sayang Ayah dan Nilai Kehidupan
Puisi “Uwak” mengisahkan kerinduan seorang anak kepada ayah yang telah menanamkan berbagai nilai kehidupan. Melalui untaian kata yang sederhana namun mendalam, puisi tersebut menyampaikan pesan tentang keteguhan hati, kerendahan budi, kepemimpinan yang bijaksana, hingga pentingnya berbuat baik kepada sesama.
Nilai-nilai itulah yang membuat banyak penonton larut dalam suasana haru selama pertunjukan berlangsung.
Sastra Melayu Harus Terus Dilestarikan
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan pembacaan puisi “Uwak” menunjukkan bahwa sastra memiliki posisi penting dalam khazanah budaya Melayu.
Menurutnya, Kenduri Seni Melayu tidak hanya menjadi ruang bagi pertunjukan tari dan musik, tetapi juga wadah untuk memperkenalkan karya sastra sebagai bagian dari warisan budaya yang sarat nilai moral.
“Melalui puisi ‘Uwak’, masyarakat diajak merenungkan pentingnya menghormati orang tua, menjaga budi pekerti, serta memahami makna kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai luhur budaya Melayu,” ujarnya.
Ia menambahkan, seni budaya bukan hanya menjadi hiburan, melainkan juga media efektif dalam menyampaikan pesan kehidupan kepada masyarakat.
Kolaborasi Lintas Seni Perkaya Kenduri Seni Melayu
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Batam, Samson Rambah Pasir, menilai kolaborasi antara sastra, tari, musik, dan teater menjadi salah satu kekuatan penyelenggaraan Kenduri Seni Melayu tahun ini.
Menurutnya, konsep pertunjukan tersebut dirancang agar mampu menyentuh emosi penonton sekaligus memperkenalkan budaya Melayu kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih kreatif dan menarik.
“Kami ingin menghadirkan pertunjukan yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga mampu meninggalkan pesan yang membekas di hati penonton,” katanya.
Simbol Penghormatan kepada Orang Tua
Bagi Amsakar Achmad, puisi “Uwak” bukan sekadar karya sastra, melainkan bentuk penghormatan kepada seluruh sosok ayah yang telah berjuang membimbing anak-anaknya menjalani kehidupan.
Melalui puisi tersebut, ia mengajak masyarakat untuk terus mengingat nasihat orang tua sebagai bekal menjalani kehidupan sekaligus menjadi landasan dalam memimpin dengan keteladanan.
Pertunjukan ditutup dengan momen mengharukan saat anak-anak memeluk Amsakar sebagai simbol kasih sayang dan penghormatan kepada orang tua. Aksi tersebut disambut tepuk tangan panjang dari para tamu undangan dan masyarakat yang memadati arena Kenduri Seni Melayu 2026.









