BATAMCLICK.COM: Patroli Bakamla RI menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan dan keselamatan laut Indonesia. Melalui berbagai strategi, Badan Keamanan Laut terus memperkuat pengawasan, tidak hanya secara mandiri, tetapi juga melalui kolaborasi lintas instansi dan negara.
Kepala Bakamla RI, Irvansyah, menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi kunci utama dalam menghadapi kompleksitas pengamanan wilayah laut yang luas, terutama di kawasan strategis seperti Kepulauan Riau.
Tiga Skema Patroli Jadi Strategi Utama
Irvansyah menjelaskan bahwa Bakamla menerapkan tiga jenis patroli sebagai strategi utama. Pertama, patroli mandiri yang dilakukan sepanjang tahun guna memastikan kehadiran negara di laut.
Kedua, patroli bersama dengan instansi dalam negeri seperti TNI Angkatan Laut, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Bea Cukai, hingga Imigrasi.
Patroli ini digelar rutin setiap tahun di seluruh wilayah, mulai dari zona barat, tengah, hingga timur Indonesia.
“Kolaborasi menjadi penting karena setiap instansi memiliki keterbatasan aset. Dengan bekerja sama, pengawasan bisa lebih maksimal,” ujarnya.
Perkuat Sinergi Lintas Negara ASEAN
Selain di dalam negeri, Bakamla juga aktif menjalin kerja sama internasional melalui patroli bersama dengan negara-negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Kamboja, Myanmar, dan Vietnam.
Kerja sama ini diperkuat melalui forum ASEAN Coast Guard Forum yang diinisiasi oleh Bakamla sejak 2022.
Melalui forum tersebut, negara-negara ASEAN membangun koordinasi yang lebih solid, termasuk melalui pertemuan rutin dan briefing bulanan untuk berbagi informasi terkait keamanan laut.
“Kita ingin seluruh negara ASEAN kompak, karena laut tidak bisa dijaga sendiri-sendiri,” tegas Irvansyah.
Siap Hadapi Dinamika Geopolitik
Dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang terus berkembang, Bakamla juga menyatakan kesiapan untuk mendukung operasi pertahanan bersama TNI dan Kementerian Pertahanan jika diperlukan.
Menurut Irvansyah, kesiapsiagaan menjadi hal mutlak karena perubahan situasi bisa terjadi kapan saja.
“Kami harus siap setiap saat. Kita tidak boleh kaget saat kondisi sudah kritis,” ujarnya.
Teknologi dan Masyarakat Jadi Pendukung
Untuk mengoptimalkan pengawasan, Bakamla memanfaatkan berbagai teknologi modern, seperti drone, satelit, dan radar laut. Selain itu, keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam sistem pengamanan.
Melalui program relawan penjaga laut (Rapala), masyarakat dilibatkan secara aktif untuk membantu memantau kondisi di wilayah perairan.
Dengan pendekatan ini, pengawasan tidak hanya bergantung pada aparat, tetapi juga melibatkan partisipasi publik.
Wilayah Barat Jadi Fokus Strategis
Bakamla saat ini mengoperasikan sekitar 10 kapal patroli yang tersebar di tiga zona. Wilayah barat menjadi salah satu fokus utama karena mencakup jalur strategis seperti Natuna, Selat Malaka, hingga Aceh.
Kawasan ini memiliki nilai ekonomi dan geopolitik tinggi, sehingga membutuhkan pengawasan yang lebih intensif dan berkelanjutan.
Kolaborasi Jadi Pilar Keamanan Laut
Dengan menggabungkan patroli mandiri, kerja sama domestik, serta kolaborasi internasional, Bakamla berupaya membangun sistem keamanan laut yang terintegrasi dan responsif.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa menjaga laut Indonesia bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan hasil kerja bersama lintas sektor dan lintas negara.
Melalui strategi ini, keamanan dan keselamatan laut diharapkan tetap terjaga, sekaligus mendukung stabilitas kawasan maritim Asia Tenggara secara keseluruhan.









