LSM Minta Industri Nikel Lebih Terbuka, Harita Nickel Dinilai Paling Transparan

BATAMCLICK.COM, Jakarta: Transparansi dalam industri nikel menjadi sorotan serius. Peneliti dari LSM Lingkungan Hidup Telapak, Djufry Hard, menegaskan pentingnya perusahaan tambang membuka diri terhadap publik, terutama dalam hal tanggung jawab lingkungan dan sosial.

“Kami sebagai LSM perlu melihat secara langsung dan menunjukkan ke publik bagaimana pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungan dan sosial, di samping dampak ekonomi yang telah diciptakan,” kata Djufry dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (23/5).

Dari seluruh perusahaan nikel yang dihubungi, hanya PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) yang bersedia menerima kunjungan langsung dari LSM tersebut. Djufry pun mengunjungi lokasi pertambangan Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara, pada 2023.

Hasilnya, meskipun masih terdapat sejumlah catatan, audit menunjukkan bahwa Harita Nickel telah mengelola limbah tambang dan industri dengan cukup baik serta bertanggung jawab.

Upaya serupa juga telah dilakukan Djufry kepada beberapa perusahaan nikel lainnya, namun hingga kini belum ada tanggapan positif.

“Salah satu indikator kesungguhan perusahaan dalam menjalankan praktik pertambangan yang sehat adalah aspek transparansi,” tegasnya.

Pandangan senada disampaikan Tri Edhi Budhi Soesilo, Direktur Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia periode 2021-2025. Ia mengapresiasi perusahaan seperti Harita Nickel dan Vale Indonesia yang telah menerbitkan laporan keberlanjutan secara rutin.

“Vale Indonesia bahkan sudah melakukannya sejak 2011 sampai sekarang. Tapi tentu, laporan ini masih satu arah. Untuk mengetahui kebenarannya, kami perlu melihat langsung kondisi di lapangan,” ujar Edhi.

Ia juga mengapresiasi masyarakat dan LSM yang terus mengawal praktik pertambangan melalui kritik konstruktif.

“Hanya dengan kritik, perusahaan akan terus melakukan perbaikan secara berkelanjutan,” tandasnya.

Sumber: Antara
Editor: Novia