Sejarah Dapur 12 Batam: Jejak Arang, Bata, dan Ingatan yang Nyaris Hilang

Temuan batu bata kuno di Kampung Atok Itam membuka tabir kisah lama perdagangan Batam dan Singapura

Sejarah Dapur 12 Batam tak sekadar tersimpan dalam cerita lisan para orang tua kampung. Pada Rabu, 25 Juni 2025, kisah itu menjelma nyata saat Tim Ahli Cagar Budaya Kota Batam, CPNS Museum Raja Ali Haji, Sekretaris Kelurahan Sei Pelunggut, dan sejarawan Wahyu Tero Primadona menemukan sejumlah batu bata tua di bekas bangunan Dapur Arang, Kampung Dapur 12, Kecamatan Sagulung.

Bangunan tua itu mungkin terlihat biasa—tembok berlumut, semak liar, dan material bangunan yang bercampur. Namun di balik lapisan debu dan lumut, mereka menemukan bukti yang sangat berharga: batu bata bermerek dari masa lalu yang menjadi saksi sejarah industri dan perdagangan regional Batam.

Batu-bata itu bukan sembarang bata. Ada yang bermerek Nanyang, Alexandra, Goh Bee, dan Hock Ann, serta produk lokal Batam Brickworks. Penemuan ini mengisyaratkan kuatnya koneksi dagang antara Batam, Singapura, dan Semenanjung Asia.

Jejak Perdagangan Lewat Bata

Batu bata bermerek Nanyang, misalnya, Nanyang Brick Works di Singapura memproduksinya antara tahun 1950 hingga 1974.

Merekaengekspor bata berukuran 22 cm x 8,5 cm x 7,5 cm ini ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, termasuk Batam. Begitu pula bata Alexandra, Goh Bee, dan Hock Ann, yang berukuran lebih besar dan mencerminkan ragam produsen lintas negara yang pernah singgah secara fisik maupun simbolik di tanah Batam.

Menurut sejarawan Wahyu Tero Primadona, benda-benda ini bukan sekadar artefak bangunan. Ia menyebut, “Bata Nanyang dan lainnya adalah bukti nyata bagaimana Batam menjadi bagian dari jaringan perdagangan global pada masanya.”

Narasi yang Terlupakan

Dapur Arang di pesisir Kampung Dapur 12, terkenal juga dengan sebutan Kampung Atok Itam, dulunya menjadi pusat industri arang lokal. Di kampung ini masyarakat memproduksi arang dan menjualnya ke Batam, bahkan sampai ke luar negeri. Aktivitas ini terus berlangsung hingga akhir 1980-an, menandai peran Batam dalam peta industri dan perdagangan maritim.

Tak jauh dari bangunan dapur, terdapat makam tua milik Atok Itam—seorang tokoh kampung yang punya kaitan dengan sejarah tempat ini, menurut masyarakat setempat. Makam yang masih terawat ini memperkaya kisah kawasan dan menjadi titik emosional yang mengikat masa kini dengan masa lalu.

Menyelamatkan Warisan

Melalui temuan ini, tim berencana melanjutkan penelitian serta mendorong Dapur Arang mendapat status Cagar Budaya. Harapannya, masyarakat dapat melestarikan dan memanfaatkan situs ini untuk edukasi sejarah lokal. Batu bata yang ini pun berpotensi menjadi koleksi penting di Museum Raja Ali Haji atau menjadi elemen dekorasi dalam proyek restorasi arsitektur klasik di masa depan.

Melibatkan Masyarakat. Melestarikan Sejarah Dapur 12 Batam bukan semata menjaga bangunan, tetapi juga merawat identitas Batam sebagai bagian dari peradaban maritim yang pernah jaya.(Nata)