Agar tak Gagap Budaya saat Ngemsi, Swara Batam Perdalam Adat Melayu

Swara Kota Batam kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga identitas daerah dengan menggelar pembekalan budaya Melayu bertajuk Swara Berbudaya, yang berlangsung di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Senin malam (26/1). Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang belajar dan refleksi bagi para pembawa acara yang tergabung dalam Solidaritas Pembawa Acara (Swara) Kota Batam, mengingat mereka kerap tampil sebagai garda terdepan dalam berbagai acara adat, pernikahan, hingga kegiatan kebudayaan Melayu. Belajar Budaya Melayu dari Ahlinya Swara Kota Batam menghadirkan Budayawan Kota Batam, H. Muhammad Zen, S.Pd, sebagai pemateri utama. Ia menyampaikan materi berjudul Merajut Keindahan Pesona Melayu melalui Berbusana dan Kearifan Lokal Tepung Tawar sebagai Tradisi Melayu. Melalui pemaparan yang komunikatif, Muhammad Zen tidak hanya menjelaskan nilai budaya Melayu secara teoritis, tetapi juga mengaitkannya dengan praktik sosial yang masih hidup di tengah masyarakat. Para peserta pun terlihat antusias, aktif menyimak, serta terlibat dalam sesi tanya jawab. Busana Melayu Dipraktikkan Langsung Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika Muhammad Zen mempraktikkan langsung tata cara berbusana Melayu, khususnya bagi kaum pria. Ia memperagakan cara mengenakan kain samping, menjelaskan jenis baju Melayu, serta memaparkan makna filosofis di balik setiap unsur busana. “Pembawa acara di Batam harus memahami budaya Melayu karena budaya ini sering hadir dalam berbagai kegiatan, terutama acara pernikahan,” ujarnya. Dukungan Disbudpar dan Agenda Berkelanjutan Kepala Disbudpar Kota Batam, Drs. Ardiwinata, yang juga bertindak sebagai Pembina Swara Kota Batam, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Ia menegaskan pentingnya peran Swara sebagai penjaga marwah budaya Melayu di ruang publik. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Para anggota Swara Kota Batam harus memahami adat dan budaya Melayu karena mereka menjadi wajah terdepan dalam setiap acara,” katanya. Sementara itu, Ketua Swara Kota Batam, Maharani Purba, menyampaikan bahwa pembekalan budaya ini akan terus berlanjut sebagai bagian dari peningkatan kapasitas anggota Swara dalam memahami budaya Melayu. Berlandaskan PPKD Kegiatan ini juga sejalan dengan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang mencakup 10 objek utama kebudayaan, mulai dari tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, bahasa, permainan rakyat, seni pertunjukan, olahraga tradisional, hingga teknologi tradisional. Di akhir kegiatan, sebanyak 35 peserta menerima buku Sejarah Nong Isa terbitan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam sebagai bekal pengetahuan budaya.
Swara Kota Batam kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga identitas daerah dengan menggelar pembekalan budaya Melayu bertajuk Swara Berbudaya, yang berlangsung di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Senin malam (26/1). Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang belajar dan refleksi bagi para pembawa acara yang tergabung dalam Solidaritas Pembawa Acara (Swara) Kota Batam, mengingat mereka kerap tampil sebagai garda terdepan dalam berbagai acara adat, pernikahan, hingga kegiatan kebudayaan Melayu. Belajar Budaya Melayu dari Ahlinya Swara Kota Batam menghadirkan Budayawan Kota Batam, H. Muhammad Zen, S.Pd, sebagai pemateri utama. Ia menyampaikan materi berjudul Merajut Keindahan Pesona Melayu melalui Berbusana dan Kearifan Lokal Tepung Tawar sebagai Tradisi Melayu. Melalui pemaparan yang komunikatif, Muhammad Zen tidak hanya menjelaskan nilai budaya Melayu secara teoritis, tetapi juga mengaitkannya dengan praktik sosial yang masih hidup di tengah masyarakat. Para peserta pun terlihat antusias, aktif menyimak, serta terlibat dalam sesi tanya jawab. Busana Melayu Dipraktikkan Langsung Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika Muhammad Zen mempraktikkan langsung tata cara berbusana Melayu, khususnya bagi kaum pria. Ia memperagakan cara mengenakan kain samping, menjelaskan jenis baju Melayu, serta memaparkan makna filosofis di balik setiap unsur busana. “Pembawa acara di Batam harus memahami budaya Melayu karena budaya ini sering hadir dalam berbagai kegiatan, terutama acara pernikahan,” ujarnya. Dukungan Disbudpar dan Agenda Berkelanjutan Kepala Disbudpar Kota Batam, Drs. Ardiwinata, yang juga bertindak sebagai Pembina Swara Kota Batam, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Ia menegaskan pentingnya peran Swara sebagai penjaga marwah budaya Melayu di ruang publik. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Para anggota Swara Kota Batam harus memahami adat dan budaya Melayu karena mereka menjadi wajah terdepan dalam setiap acara,” katanya. Sementara itu, Ketua Swara Kota Batam, Maharani Purba, menyampaikan bahwa pembekalan budaya ini akan terus berlanjut sebagai bagian dari peningkatan kapasitas anggota Swara dalam memahami budaya Melayu. Berlandaskan PPKD Kegiatan ini juga sejalan dengan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang mencakup 10 objek utama kebudayaan, mulai dari tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, bahasa, permainan rakyat, seni pertunjukan, olahraga tradisional, hingga teknologi tradisional. Di akhir kegiatan, sebanyak 35 peserta menerima buku Sejarah Nong Isa terbitan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam sebagai bekal pengetahuan budaya.

BATAMCLICK.COM: Swara Kota Batam kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga identitas daerah. Mereka menggelar pembekalan budaya Melayu bertajuk Swara Berbudaya. Kegiata ini berlangsung di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Senin (27/1/2026) malam.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang belajar dan refleksi bagi para pembawa acara yang tergabung dalam Solidaritas Pembawa Acara (Swara) Kota Batam. Mengingat mereka kerap tampil sebagai garda terdepan. Dalam berbagai acara adat, pernikahan, hingga kegiatan kebudayaan Melayu.

Belajar Budaya Melayu dari Ahlinya

Swara Kota Batam menghadirkan Budayawan Kota Batam, H. Muhammad Zen, S.Pd, sebagai pemateri utama. Ia menyampaikan materi berjudul Merajut Keindahan Pesona Melayu melalui Berbusana dan Kearifan Lokal Tepung Tawar sebagai Tradisi Melayu.

Melalui pemaparan yang komunikatif, Muhammad Zen tidak hanya menjelaskan nilai budaya Melayu secara teoritis, tetapi juga mengaitkannya dengan praktik sosial yang masih hidup di tengah masyarakat. Para peserta pun terlihat antusias, aktif menyimak, serta terlibat dalam sesi tanya jawab.

Langsung Praktikkan Busana Melayu

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika Muhammad Zen mempraktikkan langsung tata cara berbusana Melayu, khususnya bagi kaum pria. Ia memperagakan cara mengenakan kain samping, menjelaskan jenis baju Melayu, serta memaparkan makna filosofis di balik setiap unsur busana.

“Pembawa acara di Batam harus memahami budaya Melayu karena budaya ini sering hadir dalam berbagai kegiatan, terutama acara pernikahan,” ujarnya.

Dukungan Disbudpar dan Agenda Berkelanjutan

Kepala Disbudpar Kota Batam, Drs. Ardiwinata, yang juga bertindak sebagai Pembina Swara Kota Batam, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Ia menegaskan pentingnya peran Swara sebagai penjaga marwah budaya Melayu di ruang publik.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Para anggota Swara Kota Batam harus memahami adat dan budaya Melayu karena mereka menjadi wajah terdepan dalam setiap acara,” katanya.

Sementara itu, Ketua Swara Kota Batam, Maharani Purba, menyampaikan bahwa pembekalan budaya ini akan terus berlanjut sebagai bagian dari peningkatan kapasitas anggota Swara dalam memahami budaya Melayu.

Berlandaskan PPKD

Kegiatan ini juga sejalan dengan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang mencakup 10 objek utama kebudayaan, mulai dari tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, bahasa, permainan rakyat, seni pertunjukan, olahraga tradisional, hingga teknologi tradisional.

Di akhir kegiatan, sebanyak 35 peserta menerima buku Sejarah Nong Isa terbitan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam sebagai bekal pengetahuan budaya.