Batamclick.com, LINGGA — Kelompok perajin busana adat dan kain tradisional Melayu di Kampung Tembaga, Kabupaten Lingga, mendapatkan dukungan penting dari Bank Indonesia (BI). Bantuan berupa 10 unit mesin produksi—terdiri atas lima unit mesin jahit dan lima unit mesin obras—diserahkan untuk memperkuat kapasitas produksi kerajinan Tudung Manto dan Baju Kurung khas Kepulauan Riau yang dikelola oleh kelompok tersebut.
Bantuan ini disambut antusias oleh para perajin. Pasalnya, proses pembuatan Tudung Manto oleh kelompok ini memiliki keistimewaan tersendiri, yakni menggunakan teknik tekat tradisional dengan benang kelingkan—benang khusus dari logam pipih yang disadur emas, perak, atau tembaga.
Ketua Kelompok Perajin, Leni Rusnika, menjelaskan bahwa penggunaan benang kelingkan bersadur logam mulia merupakan elemen vital yang menentukan kualitas dan keaslian Tudung Manto khas Lingga. Kilau khas dari saduran logam ini memberikan kesan anggun, mewah, dan tahan lama, sekaligus menjadi pembeda utama dari produk kerajinan sulam pada umumnya.
Usaha yang berlokasi di Jalan Masjid Sultan ini kini menjadi wadah pemberdayaan ekonomi bagi 12 orang ibu rumah tangga. Leni mengawali inisiatif tersebut untuk menciptakan peluang penghasilan mandiri bagi para wanita di lingkungannya.
“Saya belajar menyulam dari teman. Saat pesanan semakin banyak, saya berpikir untuk mengajak ibu-ibu di sekitar sini bergabung. Jadi mereka bisa punya penghasilan sendiri tanpa harus meninggalkan rumah,” ujar Leni.
Sistem pengerjaan tekat Tudung Manto ini diterapkan secara fleksibel. Sebagian perajin bekerja di sanggar produksi, sementara sebagian lainnya diperbolehkan membawa pekerjaan ke rumah agar tetap bisa mengurus kebutuhan keluarga.
Kerumitan teknik tekat yang memadukan kerapian tangan dan benang kelingkan berlapis logam, serta kehati-hatian dalam proses pengerjaannya, membuat produk ini memiliki nilai jual yang tinggi. Satu lembar Tudung Manto dihargai mulai dari Rp2,5 juta hingga mencapai Rp4 juta, tergantung pada tingkat kepadatan dan kerumitan motif tekatannya.
Meskipun membutuhkan waktu dan ketelitian ekstra, satu perajin rata-rata mampu menyelesaikan satu hingga dua karya dalam sebulan. Dengan 10 anggota aktif, kelompok ini mampu memproduksi antara 10 hingga 20 lembar kain per bulan.
Kualitas dan keunikan tekat Tudung Manto bersadur emas dan perak ini tidak hanya diminati di dalam negeri. Melalui strategi pemasaran digital dan pemanfaatan jaringan relasi internasional, produk khas Lingga ini telah berhasil menembus pasar mancanegara.
“Permintaan juga datang dari luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, dan Australia. Kami memanfaatkan pemasaran secara online, serta dibantu oleh teman-teman yang ada di luar negeri untuk promosinya,” ungkap Leni.
Dengan adanya bantuan mesin jahit dan obras dari Bank Indonesia, Leni berharap efisiensi dan kuantitas produksi kelompoknya dapat terus meningkat, dengan tetap mempertahankan kualitas serta keautentikan seni tekat menggunakan benang kelingkan khas warisan budaya Melayu Lingga.









