Sambut GMP 2026, BI Kepri Eksplorasi Potensi Wisata, Sejarah, dan UMKM Kabupaten Lingga

Batamclick.com, LINGGA — Kabupaten Lingga bukan sekadar bentangan laut biru dan gugusan pulau yang tenang. Di balik riak perairannya, negeri ini menyimpan narasi panjang peradaban Melayu, jejak perlawanan maritim Kesultanan Riau-Lingga, hingga kekayaan alam yang belum terjamah.

Guna mengangkat potensi tersembunyi tersebut ke panggung yang lebih luas, Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau memboyong rombongan jurnalis dalam ekspedisi Road to Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026, Senin (10/8/2026). Ekspedisi ini menjadi langkah strategis untuk merajut potensi sejarah, wisata, dan ekonomi kreatif Lingga menuju perhelatan utama GMP 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 14–20 September 2026 di K-Square Mall, Batam.

Melalui GMP 2026, BI Kepri berkomitmen menyediakan wadah kurasi, pendampingan, hingga promosi bagi UMKM lokal. Untuk Lingga, fokus dorongan diarahkan pada produk kriya dan fesyen berbasis warisan tradisi, salah satunya Wastra khas Tudung Manto.

Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto P., menegaskan bahwa komitmen pelestarian budaya Melayu harus berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Pelestarian warisan Melayu dan transformasi ekonomi masyarakat harus berjalan beriringan. Liputan media di Lingga diharapkan menjadi publikasi strategis yang mendokumentasikan bagaimana nilai budaya dapat menjadi sumber inovasi, daya saing, dan kekuatan ekonomi baru yang berkelanjutan,” ujar Rony.

Eksplorasi dimulai dari Pelabuhan Telaga Punggur, Batam, sekitar pukul 10.30 WIB. Menumpangi kapal feri selama empat jam, rombongan tiba di Pelabuhan Sei Tenam pada pukul 14.30 WIB. Sambutan lanskap perbukitan dan hamparan laut lepas mengiringi perjalanan darat menuju Tugu Khatulistiwa di Tanjung Teludas, Desa Mentuda.

Monumen yang berdiri di pesisir ini memandaskan posisi Lingga sebagai satu-satunya wilayah di Kepri yang dilintasi garis ekuator.

Pamong Budaya Dinas Kebudayaan Lingga, Lazuardi, menjelaskan bahwa keunikan geografis ini menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi, terutama saat fenomena kulminasi utama terjadi ketika matahari berada tepat di atas kepala hingga bayangan benda seolah hilang.

Puas di Tugu Khatulistiwa, rombongan bergerak menyusuri kaki Gunung Sepingkan menuju Air Terjun Resun. Deru air dingin yang jernih membelah bebatuan bertingkat langsung menyapu lelah perjalanan.

“Masyarakat meyakini aliran air terjun ini membentang hingga tujuh tingkatan,” tutur Lazuardi. Selain Resun, Lingga juga menyimpan potensi tirta lain seperti Air Terjun Kado, Tanda, serta Air Terjun Jelutung yang menantang adrenalin karena harus diakses menggunakan perahu pompong.

Pencarian identitas Lingga berlanjut ke pusat peradaban sejarah di Daik, yakni Masjid Jami Sultan Lingga. Masjid bersejarah ini berdiri megah di kawasan yang sama dengan kompleks makam Pahlawan Nasional, Sultan Mahmud Riayat Syah (Sultan Mahmud Syah III).

Sejarah mencatat, pada tahun 1787, Sultan Mahmud memindahkan pusat pemerintahan ke Daik sebagai kalkulasi taktis melancarkan gerilya maritim melawan penjajah Belanda. Strategi berbasis wilayah kepulauan tersebut berhasil memukul mundur pasukan Belanda di bawah pimpinan Residen David Ruhde dari Hulu Riau ke Melaka. Atas jasa besarnya mempertahankan kedaulatan laut Melayu, Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 2017.

“Jika Air Terjun Resun menyajikan kesegaran alam, kawasan Masjid Jami dan makam Sultan Mahmud membawa kita menembus waktu. Alam adalah halaman depan Lingga, sementara sejarah adalah ingatan yang menjaga jati dirinya,” tambah Lazuardi.

Perjalanan eksplorasi ini mempertegas bahwa daya tarik Lingga terletak pada keutuhan narasi gabungan antara garis ekuator Tanjung Teludas, kesejukan alam Resun, ketokohan Sultan Mahmud Riayat Syah, hingga kehalusan seni Tudung Manto.

Bagi Bank Indonesia, seluruh modal historis dan alam tersebut tidak boleh berhenti sebatas potensi statis. Penguatan infrastruktur, pengemasan destinasi, daya saing SDM, hingga integrasi rantai pasok UMKM menjadi prioritas mutlak.

Lewat panggung Gebyar Melayu Pesisir 2026, BI Kepri memboyong produk serta kisah dari Lingga agar mampu menembus pasar nasional hingga mancanegara, sebab wisatawan dan pasar global tak sekadar membeli produk atau mengunjungi tempat, melainkan mencari nilai dari sebuah cerita.