Musang King dan Mimpi Petani Bintan Mendunia

BATAMCLICK.COM: Di balik lembah hijau Desa Lengkuas, Bintan Timur, puluhan batang durian mulai menua dengan tenang. Ditanam dengan harapan, dipelihara dengan cinta. Di sinilah sebuah mimpi besar perlahan tumbuh — mimpi untuk menjadikan durian Kepri bukan hanya primadona lokal, tetapi juga bintang di pasar internasional.

Mimpi itu bukan sekadar angan. Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Riau (Karantina Kepri) kini bahu membahu mempercepat proses hilirisasi komoditas durian. Komoditas yang bukan hanya lezat dan ikonik, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi luar biasa.

“Proses hilirisasi ini diharapkan bisa menambah nilai jual dan membuka lebih banyak akses pasar bagi durian kita,” ujar Herwintarti, Kepala Karantina Kepri, saat melakukan supervisi langsung ke lapangan.

Permintaan terhadap durian, terutama dari negara-negara seperti Tiongkok, Singapura, hingga Timur Tengah, kian melonjak. Namun, tantangan tidak kecil: mutu, keamanan pangan, serta jaminan kesehatan produk menjadi kunci utama jika ingin menembus pasar global.

“Kami siap bantu fasilitasi. Untuk ekspor ke Cina, silakan urus sertifikasi GACC. Kalau ada penerbangan langsung, bisa kami bantu koordinasikan,” tambah Herwintarti memberi semangat.

Dari Tanah Subur Bintan, Durian Berkembang dan Bertumbuh

Tak jauh dari pandangan, seorang pengusaha muda tengah menata kebunnya. Namanya Ko Along. Di Desa Lengkuas, ia telah menanam 256 pohon durian yang kini memasuki fase generatif — masa penting menuju panen pertama.

Namun, langkahnya tak berhenti di situ. Di Toapaya, sebuah kecamatan tak jauh dari pusat Bintan, ia membuka lahan seluas 55 hektare dan menanami lebih dari 3.800 batang durian.

Hamparan kebun durian milik Ko Along bukan hanya aset ekonomi. Ia adalah lukisan harapan di antara perbukitan, menawarkan pemandangan alam yang memesona — dan potensi agrowisata yang luar biasa.

“Pasar durian masih sangat terbuka. Kami siap menyesuaikan varietas dengan selera pasar jika didukung pemerintah,” katanya. Saat ini, Ko Along mengembangkan dua varietas unggulan: Musang King dan Duri Hitam.

Hilirisasi Bukan Sekadar Bisnis, Tapi Masa Depan Petani

Karantina Kepri mencatat, sepanjang 2024, mereka telah menerbitkan sertifikasi untuk pengiriman durian keluar Kepri sebanyak 61,8 ton dengan nilai ekonomi mencapai Rp6,7 miliar. Sentra produksinya tersebar di Pulau Kundur, Karimun, dan tentu saja Pulau Bintan.

Lebih dari sekadar komoditas, durian kini menjadi simbol baru bagi ekonomi lokal. Hilirisasi yang didorong pemerintah tak hanya meningkatkan ekspor, tetapi juga membuka jalan bagi petani, UMKM, hingga pelaku industri olahan buah untuk ikut bertumbuh.

“Barantin berkomitmen memastikan setiap durian yang dilalulintaskan bebas dari organisme pengganggu dan memenuhi standar keamanan pangan,” ujar Herwintarti.

“Hilirisasi ini bukan hanya peluang pasar, tapi strategi untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis lokal,” tegasnya, menutup pernyataan dengan nada optimis.

Di Bintan, durian tak lagi sekadar buah musiman. Ia tumbuh menjadi simbol masa depan yang lebih hijau, lebih sejahtera, dan lebih mendunia. Dari akar-akarnya di tanah tropis, hingga ke rak-rak toko di negeri jauh — buah ini membawa harapan petani dan cita rasa Indonesia ke dunia.***

Editor: Abd Hamid