Ketika Suara Anak Terluka, Negara Hadir Menemani

BATAMCLICK.COM: Di sebuah pulau kecil yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat di Kabupaten Natuna, seorang remaja perempuan kini sedang mencoba bangkit dari luka yang tak terlihat. Ia bukan sekadar pelajar biasa. Ia adalah korban—seorang anak yang harus menanggung trauma akibat kekerasan seksual.

Peristiwa itu mengguncang. Namun dalam kesunyian dan rasa takut yang menyelimuti, negara hadir, melalui tangan lembut para petugas dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Natuna.

“Kami memberikan pendampingan, baik secara hukum maupun psikologis,” ujar Melda Irawati, Kepala UPTD PPA Natuna, saat ditemui di kantornya, Senin (19/5/2025).

Pendampingan hukum diberikan agar korban memahami haknya sebagai anak yang dilindungi undang-undang. “Anak harus tahu bahwa ia tidak sendirian. Negara berdiri di sisinya,” kata Melda.

Sementara itu, pendampingan psikologis menjadi pilar penting yang tak bisa ditinggalkan. Di tengah hancurnya kepercayaan dan rasa aman, para pendamping hadir untuk membantu sang anak kembali menata hari—agar tetap bisa bersekolah, berkawan, dan tersenyum lagi.

“Pendampingan ini tidak hanya dilakukan sekali dua kali, tapi berkelanjutan hingga proses hukumnya selesai,” ungkap Melda.

Saat ini, korban sedang berada di luar kota, mengikuti proses penyelidikan yang dijalankan kepolisian. Selama proses itu, ia tetap didampingi oleh psikolog dari UPTD PPA. Setiap langkahnya, dijaga. Setiap cerita yang ia bagi, didengar.

Sayangnya, kasus ini bukan satu-satunya.

“Sejak awal tahun, kami sudah menangani tujuh anak. Empat korban kekerasan seksual, dua anak sebagai saksi, dan satu kasus penelantaran,” jelas Melda. Sebuah angka yang membuat hati teriris—karena di balik angka itu, ada kehidupan yang terguncang.

Namun, bagi UPTD PPA Natuna, ini bukan sekadar tugas. Ini panggilan nurani.

“Kami terus berkomitmen. Tidak hanya memberi perlindungan, tapi juga harapan. Karena setiap anak layak hidup tanpa ketakutan,” tegasnya.

Melda pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menutup mata. Perlindungan anak bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Karena menjaga anak dari kekerasan, sejatinya menjaga masa depan bangsa.(man)
Editor: Abd Hamid