Dari Dapur Rumahan ke Pasar Global, IMA Genjot UMKM Menembus Batas Ekspor

Prosesi penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) oleh Presiden IMA, Suparno Djasmin (tengah), dan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia, Benny Soetrisno (kedua dari kanan), dalam Rakernas IMA 2025 yang digelar Sabtu (14/05) di Shangri-La Hotel, Jakarta. MOU ini bertujuan memberikan pelatihan bagi UMKM binaan IMA agar dapat menembus pasar ekspor.

UMKM telah lama menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Data 2023 mencatat, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 60%, senilai Rp 9.580 triliun. Sektor ini juga menyerap 117 juta tenaga kerja—setara 97% dari total nasional—dan menyumbang 15,7% terhadap ekspor.

Melihat potensi tersebut, pemerintah dan pelaku usaha sepakat bahwa UMKM tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IMA 2025 yang digelar di Jakarta, Sabtu (14/6), Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Koperasi dan UMKM, Bagus Rachman, menggarisbawahi pentingnya mengubah cara pandang terhadap pelaku usaha kecil.

“Kita tak bisa menyebut mereka sekadar pelaku UMKM. Mereka adalah pengusaha, dan harus berpikir global,” ujarnya tegas.

Bagus juga mengungkap langkah strategis pemerintahan Prabowo, yakni pemisahan unit kerja koperasi dan UMKM agar fokus pengembangan masing-masing bisa lebih tajam. Komitmen tersebut dibuktikan lewat alokasi anggaran hampir Rp1.000 triliun untuk pemberdayaan UMKM.

President IMA, Suparno Djasmin, menegaskan IMA turut aktif mendukung UMKM naik kelas. “Pelatihan, pendanaan, strategi pemasaran, dan eksposur media adalah kunci. Kami ingin menjadikan marketing sebagai alat untuk membangun Indonesia yang lebih baik,” katanya.

Membuka Pintu Ekspor Lewat Cerita

Talkshow “Pemasaran Menembus Ekspor” menjadi sesi menarik Rakernas IMA 2025. Hadir sebagai narasumber, antara lain Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia, Benny Soetrisno; VP SME and Entrepreneurship IMA, Erik Hidayat; serta Irena Surosoputra, pemilik Cokelatin Signature dan pemenang IMA UMKM Awards 2024.

Benny menekankan pentingnya storytelling. “Di dunia ekspor, produk harus punya cerita. Bukan cuma kualitas, tapi juga nilai dan narasi yang dibawanya,” kata Benny. Ia juga mengingatkan bahwa kualitas produk harus menjadi prioritas, bukan volume.

Senada, Erik menyoroti digitalisasi. “UMKM harus aktif di media sosial, marketplace, dan membangun testimoni visual. Kami di IMA membuka akses pelatihan dan jejaring untuk itu.”

Irena kemudian membagikan cerita inspiratif. Bermula dari dapur rumahan, merek minuman cokelat miliknya kini menembus pasar Boston, AS. “Kami mulai dengan bahan lokal dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Kami benahi kemasan, SOP, logo, hingga brand storytelling. Saat merasa siap, barulah kami ekspor,” ujar Irena.

Ia menyebut keputusan untuk menjadi wajah brand sebagai titik balik. “Rasa, kapasitas produksi, dan kepercayaan lokal harus dibangun dulu. Setelah itu baru yakin untuk menembus pasar global,” ujarnya mantap.

Rakernas IMA 2025: Agile di Tengah Disrupsi

Dengan tema “Agile Marketing in Times of Global Disruption”, Rakernas IMA 2025 menegaskan pentingnya kelincahan dalam merespons perubahan. Dari ketegangan geopolitik hingga perubahan perilaku konsumen, para pemasar dituntut untuk adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.

Tak hanya membahas strategi, Rakernas juga menyoroti program konkret seperti IMA UMKM Award dan program penghijauan Tanam Pohon. Semangatnya jelas: membangun Indonesia lewat UMKM yang berdaya saing global.***