DAM Teluk Bintan Segera Suplai Air Baku untuk Bintan dan Batam

Tanjungpinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) tengah mempersiapkan mega proyek strategis nasional berupa pembangunan Estuary DAM Teluk Bintan dan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dengan nilai investasi mencapai Rp14 triliun.

Proyek ini digarap oleh konsorsium PT Tamaris Hydro dan PT Moya Indonesia, dengan target utama meningkatkan ketahanan air di Pulau Bintan dan Kota Batam.

Asisten II bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemprov Kepri, Luki Zaiman Prawira, menjelaskan bahwa keterbatasan anggaran daerah menjadi alasan utama pemerintah menggandeng investor swasta untuk mewujudkan proyek besar ini.

“Kalau hanya mengandalkan APBD Kepri, tidak akan sanggup. Maka dari itu, kami libatkan investor, khususnya dari dalam negeri,” ujar Luki di Tanjungpinang, Rabu (11/6/2025).

Yang menarik, proyek bendungan ini tidak dibangun di darat, melainkan di atas perairan laut antara Tanjungpinang dan Teluk Bintan. Air laut akan ditampung lalu diolah dengan teknologi modern menjadi air bersih layak konsumsi.

“Teknologi yang digunakan sangat mutakhir. Ini akan meningkatkan ketahanan air untuk warga di Tanjungpinang, Bintan, dan Batam,” katanya.

Masih Tahap Kajian Teknis

Luki menambahkan, saat ini investor masih melakukan kajian teknis mendalam untuk menganalisis dampak proyek terhadap masyarakat, nelayan, hingga biota laut.

“Kajian ini akan kami bahas bersama pemerintah daerah, mulai dari Pemprov Kepri, Pemkot Tanjungpinang, Pemkab Bintan, hingga masyarakat setempat,” jelasnya.

Ia juga menepis isu yang beredar soal potensi tenggelamnya beberapa desa akibat proyek ini.

“Kami minta masyarakat tidak mudah percaya isu yang tidak berdasar. Insya Allah tidak akan ada desa yang tenggelam,” tegas Luki.

Suplai Air Baku hingga 2029

Sementara itu, Vice President PT Moya Indonesia, Daud, menyampaikan bahwa proyek Estuary DAM di Teluk Bintan akan dilengkapi jaringan transmisi air ke seluruh Pulau Bintan dan Batam. Proyek ini dirancang untuk menutup kesenjangan suplai air baku yang diprediksi terjadi pada 2029 di dua pulau tersebut.

“Lingkup proyek meliputi pembangunan infrastruktur Estuary DAM dan reservoir, jalan di atas bendungan, unit air baku, unit produksi air bersih, serta jaringan distribusinya,” ungkap Daud.

Rencananya, proyek ini akan masuk tahap lelang pada Juni 2025 dengan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Penetapan pemenang akan dilakukan di akhir tahun, dan pembangunan konstruksi ditargetkan dimulai pada 2027.***