1 Abad NU, Menjaga Tradisi, Memajukan Peradaban

Catatan Surya Makmur Nasution
Dari Malang, Jawa Timur

Batamclick.com, SATU (1) abad sudah, umur Nahdlatul Ulama (NU) sebagai jam’iyyah (organisasi) para ulama. Tepatnya, 16 Rajab 1344 H – 16 Rajab 1444H, atau dalam kalender masehi 7 Februari 2023.

Perjalanan panjang NU sebagai organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam di Tanah Air, tidaklah mudah dilalui. Teramat banyak asam garam yang telah dinikmati dan dirasakan. Teramat banyak tantangan, halangan dan rintangan, yang telah dihadapi. Teramat banyak onak dan duri yang datang silih berganti. Teramat banyak pula godaan, rayuan, dan bahkan bujukan yang telah dilampaui.

Tidaklah mudah mengurus warga NU yang jumlahnya 90-an juta orang (data 2018). Dari mulai kalangan aghniya (kaya raya) sampai mustad’afin (lemah dan miskin). Dari masyarakt ploretar, pinggiran, hingga ambtenaar, priyai. Dari masyarakat ndeso (kampung/desa) sampai perkotaan (urban). Dari berpendidikan rendah, menengah hingga tinggi.

Itulah gambaran warga NU. Mereka hidup, tumbuh dan berkembang di mana saja di bumi Nusantara ini. Dengan doktrin ideologi kaum ahlus sunnah wal jamaah, warga NU mencintai, menjaga, mengawal dan membela negeri ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). NU sebagai bagian ummat Islam di Indonesia, kini keberadaannya ada di mana-mana, dan tahu mau kemana dan untuk apa. Berdirinya pondok-pondok pesantren berbasiskan kitab kuning di berbagai penjuru Tanah Air, menunjukkan eksistensi NU, ada di mana-mana.

BACA JUGA:   Strategi Jitu TelkomGroup untuk Global Connectivity melalui TNeX

Keberhasilan dan kesuksesan NU mengemban misinya sebagi organisasi nahdliyin yang mengurusi ummat, bangsa dan negara, tidak lain karena keitiqamahannya, konsisten, membangun tradisi.

Ada kaedah ushul fiqh yang sering diajarkan dan dipopulerkan para kiai saat mengaji dihadapan para santri atau jamaah, yaitu : “ al muhafadzhoh ‘alal qodiimis sholih wal alkhzu bil jadiidil aslah (memelihara hal-hal lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik).

Tradisi lama seperti menggunakan kitab-kitab kuning klasik, atau huruf arab tanpa tanda baca alias arab gundul, menjadi sumber rujukan dalam membahas berbagai persoalan (bahtsul masaail) fiqh atau tafsir. Lalu kemudian, melihat perkembangan tradisi baru yang baik untuk dijadikan sebagai konteks melihat peradaban baru.

BACA JUGA:   Lukaku Minta Inter Menjualnya ke Chelsea

Meski saat ini, NU akan memasuki abad ke-2-nya, tradisi-tradisi lama, seperti sarungan, pakai kopiah, solawatan, tahlilan dan manakiban tetaplah dipertahankan sebagai tradisi menjemput keberhkahan. Mencium tangan para kiai atau guru, adalah jalan mencari tabarruk.

Itulah kenapa, dalam perayaan tasyakuran 1 Abad NU yang dipusatkan di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, selama 24 jam non-stop, full dengan kegiatan tradisi nahdliyin. Dimulai jam 00.00 16 Rajab 1444H/7 Februari 2023, dimulai dengan kegiatan lailatul qira’ah/haflah, manakib Syeikh Abdul Qadir Jaelani, qiyamul lail (Ratib al Attas dan Asmaulhusna) dan ijazah kubro oleh Habib Lutfi bin Ahmad al Attas, solawatan, istighosah kubra, menjadi rangkain acara puncak 1 Abad NU.

Mempertahankan tradisi lama dan mengambil hal-hal baru yang aslah, maslahat, adalah jalan lurus dan selamat bagi NU menuju Abad ke 2. Tema besar 1 Abad NU : “Mendigdayakan Nahdlatul Ulama Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru,” adalah sebagai spirit dan komitmen NU untuk mengembangkan misinya 100 tahun di abad kedua.

BACA JUGA:   Pengunjung Warung Kaget Di Datangi TNI

NU pada abad kedua akan menjadikan dirinya memberi manfaat bagi kemajuan peradaban dunia atau peradaban golobal. Langkah Ketua Umum PB NU KH Yahya Cholil Staquf dalam rangkaian 1 Abad NU yang mengundang 79 ulama fiqh dari 40 negara berpaham ahlus sunnah wal jamaah, menjadi peserta Muktamar Fiqih Peradaban adalah pertanda NU akan memberi manfaat bagi peradaban dunia.

Dengan kata lain, NU akan menawarkan bahwa agama atau Islam bisa menjadi solusi peradaban dunia. Bukan seperti ramalam Samuel P Huntington yang meramalkan adanya benturan peradaban (clash of civilizations) akibat adanya perbedaan ideologi Barat dan Non-Barat (Islam).

Cita-cita NU menjadi pemain global, butuh kekuatan politik kebangsaan yang dapat mensupportnya. Penguatan dan pengembangan Institusi-institusi pendidikan, ekonomi, kesehatan dan politik yang dimiliki NU adalah jalan panjang menuju abad kedua dalam membangun peradaban.

Selamat 1 Abad NU mewujudkan peradaban baru abad kedua yang menjadikan agama sebagai sumber dan solusi persoalan peradaban dunia.

*Surya Makmur Nasution
Ketua DPC PKB Kota Batam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *