GILA BOLA DAN BOLA GILA (KOLOM BURALIMAR)

Pensil: Pensiun Usil

Menggeliatnya sepakbola nasional, melalui kepemimpinan PSSI sekarang dan tangan dingin Pelatih Korea Selatan Shin Tae Yong, ditandai lolosnya Timnas lolos Piala Asia tahun 2023 dan prestasi lainnya.

Juga pelatih Bima Sakti membawa Timnas U-16 juara Piala AFF U-16 tahun 2022, serta Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 20 Mei – 11 Juni 2023 mendatang.

Penunjukkan tuan rumah ini tentunya disebabkan FIFA melihat antusiasme penonton Indonesia dan dukungan supporter fanatik Timnas Indonesia, di samping lobby dan kerja keras PSSI tentunya.

Namun di tengah kegembiraan akan prestasi tersebut kita dikejutkan kejadian atau tragedi tewasnya 129 orang bahkan Wagub Jatim menyebut 174 supporter tewas, 11 luka berat, dan 298 luka ringan, pada pertandingan antara Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan Malang (soal jumlah yang tewas dan yang luka, kita lihat perkembangannya).

Padahal pertandingan telah selesai dimana tuan rumah Arema kalah 2-3 vs Persebaya.

Lebih tragis lagi, biasanya supporter yang sering berantam, tapi pertandingan kali ini Bonekmania sebutan supporter Persebaya tidak dibenarkan menonton, jadi praktis sebagian besar di dalam stadion adalah Aremania supporter AremaFC.

Dimana masalah dan penyebabnya kita percayakan aparat penegak hukum bekerja dan kita tunggu hasilnya.

Kejadian ini membuat kita sedih, prihatin dan miris, dan mengucapkan belasungkawa kepada para kepada keluarga korban.

Walaupun ini pertandingan dalam negeri, dan melibatkan dua tim satu provinsi yang sama lagi, namun ini menjadi perhatian dunia internasional, terutama FIFA, Badan Olahraga Sepakbola Internasional, menyatakan keprihatinannya melalui Ketuanya Gianni Infantino.

Karena sepakbola adalah olahraga generalis yang diminati hampir masyarakat dunia, apalagi Indonesia. Cabang olahraga ini memang olahraga favourite dan massal sejak dulu.

Bahkan Bung Karno presiden pertama Indonesia, menyatakan sepakbola sebagai alat perjuangan.

Kita berdoa insiden ini tidak terjadi lagi di negeri kita yang kita cintai ini. Semoga kejadian tersebut tidak membuat Indonesia, mendapat sanksi dilarang bertanding atau mencabut penetapan jadi tuan rumah piala dunia U-20 mendatang.

Semoga mereka bijak dan fair menyikapi tragedi ini, dan pemberitaan mediapun jangan terkesan mendahului keputusan lembaga tersebut.

BACA JUGA:   Wacana Baru Untuk FIFA: Istirahat Half Time 25 Menit

Kampanyekan terus bahwa Indonesia aman dan tetap nyaman untuk pertandingan-pertandingan internasional.

Jika melihat korban yang demikian banyak, apalagi ada anak-anak dan dua anggota polisi, bisa jadi ini salah satu insiden terbesar di dunia.

Insiden sepakbola yang pernah terjadi di dunia, pada tanggal 24 Mei 1964 pada kualifikasi olimiade antara Peru melawan Argentina mengakibatkan 328 orang tewas.

Juga tragedi di Accra Ghanatahun 2001 pertandingan dua klub papan atas negara tersebut yakni Heart of Oak vs Kotoko yang menewaskan 126 orang penonton dan supporter serta beberapa insiden di Inggris, Nepal, dan beberapa negara yang menewaskan puluhan penonton dan supporter.

Bagaimanapun kita harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tragedi ini. ada beberapa unsur pelaksana, yakni PSSI, pihak sponsor, panitia penyelenggara termasuk SOP pengamanan di lapangan, pihak pemegang siaran televisi, kesebelasan yang bertanding serta supporter fanatik dan juga penonton.

Efektivitas pengawasan PSSI bukan hanya menugaskan wasit dan pengawas pertandingan belaka, tapi koordinasi terhadap semua stakeholders pertandingan.

Pihak sponsor, tidak bisa disalahkan terlalu banyak, karena mereka hanya menyiapkan anggaran dan kurang faham teknis pertandingan. Namun demikian, sponsor juga bertanggung jawab secara moral tidak serta merta menggelontorkan duit semata.

Panitia pertandingan memegang kunci suksesnya suatu event, mungkin juga Event Oganizer yang ditunjuk panitia, harus mempertimbangkan semua hal.

Tidak hanya pada hari H, tapi mengantisipasi semua hal terjadi pra dan pasca pertandingan.

Jumlah tiket harus sesuai dengan kapasitas stadion, tempat duduk supporter fanatik yang selama ini sudah terkoordinir dalam wadah tersendiri.

Apalagi yang bertanding adalah kesebelasan yang punya supporter yang luarbiasa besar dan fanatic, seperti AremaFC dengan Aremania, Persebaya dengan Boneknya, dan juga Persija dengan Jackmania serta Persiba dengan Bobotoh dan Vikingnya.

Itu beberapa kesebelasan yang punya supporter terbesar dan bahkan punya beberapa cabang di kota kabupaten lain.

Selain itu, yang sangat penting adalah standard pengamanan (SOP) baik pra, saat maupun pasca pertandingan, baik di dalam maupun di luar stadion bahkan dengan alur lalulintas.

BACA JUGA:   Ditegur Indro, Warkopi Ingin Berkarya Tanpa Embel-embel Warkop DKI

Ini serahkan ke pihak kepolisian sebagai ahlinya, Panitia mempercayakannya saja.
Pihak televisi pemegang hak siaran, juga berperan penting, jangan karena urusan rating minta pelaksanaannya malam hari, waktu prime time.

Kondisi setiap daerah tidak sama, apalagi yang main adalah kesebelasan yang supporternya luarbiasa. jika dalam event-event tertentu, bisa dilaksanakan sore hari, biasa pertandingan dilaksanakan antara pukul 16.00-18.00 wib.

Kampanye Pilpres, Pileg, dan Pilkada, saja yang melibatkan massa, tidak boleh di malam hari, kenapa sepakbola tidak bisa sore hari?

Jika dilaksanakan malam hari, biasanya mulai pukul 19.00 sampai 21.00 wib, kenapa akhir-akhir ini digeser menjadi 20.00 wibb. Kemalaman, dan makin malam kondisi psikis penonton makin tidak menentu.

Kita tidak seperti negara luar misal Inggris, melaksanakan pertandingan sepakbola di hari minggu, sebagai hiburan entertainment setelah seharian berwisata dengan family, pacar dan teman (weekend staycation) malam harinya dihibur dengan pertandingan bola yang asik, berseni, berkualitas.

Biasanya minggu malam pertandingan antara klub-klub papan atas. Tapi kita di Indonesia, minggu malam (malam senin) itu, waktu yang kurang pas, karena mikirin besoknya kerja, pulang kemalaman, macet dan menunggu angkot dan lain-lain.

Sepakbola olahraga rakyat, maka psikologisnya harus dipertimbangkan, jangan hanya bisnis belaka.

Tentang supporter Indonesia, terutama supporter dari empat kesebelasan di atas, pada prinsipnya bisa terkoordinir dengan baik.

Mereka punya ketua dan pengurus dan sudah berpengalaman secara organisatoris dan sudah punya prosedur yang baik. Namun juga ada beberapa yang memang perlu diperhatikan tentang rekrutmen, terutama mungkin anggota baru yang belum teruji, dalam sikap mental “siap menang siap kalah”.

Adakalanya satu dua orang saking emosi dan semangatnya turun ke lapangan baik, euphoria saat menang maupun pelampias karena timnya kalah, memicu yang lain berbuat hal yang sama atau memancing memprovokasi kemarahan tim yang kalah, terjadi perkelahian.

Petugas keamanan pun kewalahan jika yng berulah ribuan tentu terpancing kadang emosi. Emosi massa memang sulit terkontrol, psikologi massa sudah diantisipasi sebelumnya.

BACA JUGA:   Buntut Baju Renang, Tamara Bleszynski Ancam Polisikan Netizen

Kalau penonton biasa paling hanya fans klub saja, kecewa juga kalau tim kalah tapi rasanya tidaklah sampai berbuat anarkis, tapi kadang juga terbawa emosi.

Para supporter Indonesia, sebetulnya luarbiasa apalagi jika Indonesia bermain, mereka menyatu dan kompak teriakan yel-yel dan lagu-lagu pembangkit semangat.

Supporter memacu sebuah tim untuk meraih kemenangan. Jika potensi supporter di manage dengan baik di koordinasi secara intensif, rasanya tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diingini.

Supporter penonton maupun panitia, adalah orang yang gila bola, kalau bukan orang “gila” bola, mereka tidak akan bekerja untuk sepakbola, tidak akan hadir di stadion dan tidak akan ada pertandingan.

Kegilaan dengan sepakbolalah maka ada pertandingan, ada supporter dan penonton. Tapi jangan sampai gila dengan bola, membuat kita jadi gila benaran.

Jika dikaji-kaji, memang bola membuat orang gila, melihat bola disepak ke sana kemari, apalagi gila karena kalah taruhan dan bisa saja karena kalah menyuruh orang bikin rusuh dan berbuat macam-macam.

Pengalaman saya ngurus bola memang bikin gila, lupa ngurus yang lainnya, hampir-hampir bini tak terurus. Bola bikin gila, Bro. Sungguh gila.

Mari kita benahi lagi sepakbola Indonesia yang mulai bagus ini, dari pusat sampai ke daerah. Seperti yang disampaikan oleh Rhenald Kasali dalam bukunya Disruption. Pertama, kolaborasi yang kuat dan perlu perubahan menyesuaikan kondisi terkini (disruption organization).

Kedua, berproses dan tidak semudah apa yang kita lihat di luar negeri yang sepakbolanya demikian maju bahkan dan berpengalaman ratusan tahun (by process).

Ketiga, menyampaikan pesan nilai-nilai luhur yang terkandung di sepakbola ( value), dan yang keempat, memperbaiki cara bersikap dan berbuat (growth mindset).

Karena kita akan berhadapan dengan”musuh” yang lebih cepat dan kadang tidak kelihatan di depan.

“if you want to, you’ll find the way, if you don’t want to, you’ll find excuses”. Hanya orang yang mau bergerak yang akan menemukan jalannya, sedangkan yang tak menginginkannya akan membuat alasan-alasan, merangkai kata, dan membuat berita negatif dan dalih ngeles lainnya.

( 02 Oktober 2022)