Menyalakan Harapan dari Pulau ke Pulau, Perjuangan Kepri Menuju 100 Persen Terang

BATAMCLICK.COM: Di pelosok Kepulauan Riau, cahaya listrik tak sekadar penerang malam. Ia adalah simbol harapan, kemajuan, dan kehidupan yang lebih layak. Dalam lima tahun terakhir, upaya menyalakan harapan itu terus dikejar, dari Batam yang gemerlap hingga pulau-pulau terpencil yang masih menyala lima jam saja setiap hari.

Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, menyampaikan kabar menggembirakan. Per Mei 2025, rasio elektrifikasi di Kepri telah mencapai 99,10 persen. Artinya, dari total 635.577 rumah tangga, sebanyak 629.847 kini sudah menikmati cahaya listrik, dan hanya tersisa 5.730 rumah tangga yang belum tersambung.

“Ini bukan sekadar angka. Ini tentang membuka akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi bagi masyarakat di pulau-pulau kecil yang selama ini hidup dalam gelap,” ujar Nyanyang penuh haru.

Upaya ini tak lepas dari program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) yang dijalankan sejak 2021. Dalam empat tahun, sebanyak 12.764 rumah tangga prasejahtera telah mendapatkan sambungan listrik baru. Program ini digerakkan melalui kombinasi anggaran—baik dari APBD, APBN, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga penyediaan solar home system (SHS) untuk daerah yang belum terjangkau jaringan PLN.

“Program ini menyentuh langsung kehidupan warga. Kami yakin, dalam waktu dekat, mimpi Kepri Terang bisa benar-benar menjadi kenyataan,” kata Nyanyang.

Peningkatan juga terjadi dalam sistem kelistrikan PLN. Dari 96 sistem pada 2021, kini menjadi 114 sistem. Nyala listrik 24 jam kini menjangkau 36 wilayah, naik dari sebelumnya hanya 30. Sedangkan wilayah dengan listrik 14 jam meningkat dari 65 menjadi 78.

Namun, masih ada pekerjaan rumah besar. Sebanyak 86 pulau masih menyala lima jam sehari, dan 36 pulau berpenghuni belum menikmati listrik sama sekali. “Ini yang sedang kami kebut, supaya semua pulau merasakan keadilan energi,” ujar Nyanyang optimistis.

Ia menambahkan bahwa roadmap PLN melalui program Listrik Desa 2025–2027 telah mengakomodasi elektrifikasi di pulau-pulau tersebut. Harapannya, pada masa kepemimpinan Gubernur Ansar Ahmad bersama dirinya, tidak ada lagi warga Kepri yang hidup dalam kegelapan.

Kepala Dinas ESDM Kepri, Darwin, menyebut dari total rumah tangga berlistrik, mayoritas—sebanyak 627.564—dilayani oleh PLN, 2.177 oleh sistem non-PLN, dan 296 oleh Listrik Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

Sebaran elektrifikasi ini tampak merata di tujuh kabupaten/kota. Kota Batam, sebagai pusat pertumbuhan, sudah mencapai 99,80 persen. Tanjungpinang nyaris sempurna dengan 99,87 persen. Namun tantangan masih membayangi daerah seperti Lingga (93,67 persen) dan Anambas (96,12 persen) yang secara geografis lebih menantang.

Bagi banyak warga di pulau-pulau kecil, nyala lampu bukan hanya soal teknis. Ia adalah cermin kehadiran negara, tanda bahwa pembangunan tidak melupakan mereka. Maka setiap kabel yang ditarik, setiap panel surya yang dipasang, adalah bagian dari kisah besar: tentang cahaya yang tak hanya menerangi rumah, tapi juga masa depan.***