Manfaatkan Kegelapan dan Keramaian, Sindikat Uang Palsu Sasar Tempat Hiburan Malam di Batam ‎

‎BATAM – Wajah Agus tampak murung. Pria yang bekerja sebagai waiter sekaligus kasir bergerak di salah satu tempat hiburan malam kawasan Golden City, Bengkong, itu mengaku sudah dua kali menjadi korban peredaran uang palsu dalam sebulan terakhir.

Bagi sebagian orang, nominal uang palsu yang diterima mungkin tidak terlalu besar. Namun bagi Agus, kejadian itu menjadi beban tersendiri. Apalagi kesalahan menerima uang palsu bisa saja berujung pada tanggung jawab yang harus ia tanggung sendiri.

“Saya bertugas menerima pembayaran dari tamu di meja-meja mereka, baik tunai maupun non-tunai. Karena sistemnya kasir bergerak, kami harus berpindah-pindah melayani tamu,” ujar Agus.

Menurutnya, suasana tempat hiburan malam yang ramai, ditambah pencahayaan yang redup, membuat proses transaksi sering berlangsung dalam kondisi serba cepat. Di tengah kesibukan itu, petugas kerap tidak memiliki cukup waktu untuk memeriksa setiap lembar uang secara teliti.

“Kadang kami sedang melayani satu meja, lalu meja lain sudah memanggil. Situasinya sering terburu-buru,” katanya.

Kondisi tersebut diduga dimanfaatkan oleh pelaku sindikat peredaran uang palsu. Mereka menyisipkan uang palsu saat melakukan pembayaran, berharap transaksi berlangsung cepat sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.

“Ini sudah kedua kalinya. Sepertinya orang yang sama,” ujar Agus sambil menunjukkan raut kecewa.

Meski jumlah uang palsu yang diterimanya tidak banyak, kejadian berulang itu tetap menimbulkan keresahan. Sebagai pekerja yang mengandalkan penghasilan bulanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, kerugian sekecil apa pun tentu sangat berarti.

Beruntung, pihak manajemen masih memahami situasi yang dialaminya.
‎”Syukur pimpinan masih memaklumi. Kalau tidak, mungkin saya yang harus mengganti kerugiannya,” ungkapnya.

Agus berharap para pelaku segera menghentikan aksinya. Ia juga mengingatkan bahwa peredaran uang palsu bukan sekadar tindakan curang, melainkan tindak pidana yang dapat merugikan banyak pihak, terutama pekerja kecil yang berada di garis depan pelayanan.

“Kalau nanti tertangkap, tentu akan kami bawa ke jalur hukum. Karena ini sudah sangat merugikan,” tegasnya.

Kasus yang dialami Agus menjadi pengingat bahwa peredaran uang palsu masih mengintai di tengah aktivitas masyarakat. Di balik setiap lembar uang palsu yang beredar, ada pekerja yang bisa kehilangan penghasilan, ada usaha yang menanggung kerugian, dan ada rasa cemas yang harus dipikul oleh mereka yang hanya berusaha mencari nafkah secara jujur.(bos)