Batamclick.com,
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), menyebutkan ketersediaan minyak goreng Minyakita di Batam kembali normal setelah penyaluran bantuan pangan oleh Perum Bulog selesai.
Kepala DKPP Kota Batam Mardanis mengatakan kelangkaan Minyakita saat ini dipengaruhi oleh alokasi distribusi untuk program bantuan pangan pemerintah.
“Secara aturan, sekitar 30 persen Minyakita didistribusikan oleh Bulog untuk masyarakat. Saat ini distribusi difokuskan untuk bantuan pangan, sehingga pasokan di pasar menjadi berkurang,” ujar Mardanis di Batam, Senin (27/4).
Ia menjelaskan harga eceran tertinggi (HET) Minyakita seharusnya berada di angka Rp15.700 per liter.
Namun, di lapangan harga mengalami kenaikan hingga Rp17.000 sampai Rp18.000 per liter akibat terbatasnya pasokan.
“Kalau barangnya sedikit sementara permintaan tinggi, harga pasti naik. Pengawasan terhadap HET juga masih perlu diperkuat,” katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut terjadi karena Bulog memiliki kewajiban menyalurkan bantuan pangan pada Februari hingga Maret, yang mencakup beras 20 kilogram dan Minyakita 2 liter per penerima.
“Kewajiban Bulog saat ini fokus pada bantuan pangan, sehingga distribusi ke ritel sempat terhenti. Ini yang menyebabkan Minyakita menjadi langka,” ujarnya.
Mardanis menambahkan, selain Minyakita, harga minyak goreng komersial lainnya juga mengalami kenaikan, bahkan ada yang mencapai Rp30.000 hingga Rp40.000 per liter.
Meski demikian, ia memastikan secara umum kondisi bahan pangan di Batam masih relatif stabil dan belum berdampak signifikan, meskipun terdapat kenaikan pada komoditas tertentu seperti minyak.
“Untuk stok pangan secara umum masih aman. Yang cukup terasa saat ini memang pada komoditas minyak goreng,” katanya.
Terpisah, Kepala Cabang Perum Bulog Batam Guido XL Pereira mengonfirmasi bahwa kelangkaan Minyakita memang dipengaruhi oleh kuota yang dialokasikan untuk bantuan pangan.
“Minyakita saat ini langka di pasaran karena kuotanya digunakan untuk penyaluran bantuan pangan. Ke depan, pemerintah juga mempertimbangkan kemungkinan tidak lagi menggunakan Minyakita untuk program bantuan pangan berikutnya,” ujar Guido.
Adapun kebutuhan Minyakita per bulan di wilayah kerja Bulog Batam mencapai sekitar 1.605,85 ton untuk Kota Batam dan 258 ton untuk Kabupaten Karimun.
“Penyaluran bantuan pangan sendiri ditargetkan selesai sebelum Mei 2026, sehingga diharapkan distribusi Minyakita ke pasar kembali normal setelah program tersebut berakhir,” katanya.
Sumber, Antara









