Offbid 205, Ketika Suara Driver Online Menggema Damai di Jalanan Batam
Matahari belum tinggi saat ratusan driver ojek dan taksi online mulai berkumpul di Buana Central Park (BCP), Tembesi. Suara mesin motor dan mobil berbaur dengan semangat yang sama: menyampaikan aspirasi tanpa kekerasan.
Hari itu, Selasa 20 Mei 2025, menjadi saksi digelarnya aksi damai bertajuk Offbid 205. Bukan sekadar mogok narik, ini adalah gerakan solidaritas. Gerakan hati. Para driver online di Batam memilih untuk memarkir kendaraan mereka sejenak, bukan karena lelah bekerja, tapi karena ingin suara mereka didengar.
“Kita sudah imbau dari dua hari lalu, tidak ada sweeping, tidak ada paksaan. Ini murni aksi damai,” ujar Feryandi Tarigan, Ketua Komando (Komunitas Andalan Driver Online), saat ditemui di kawasan Welcome to Batam (WTB).
Feryandi berdiri di tengah barisan rekan-rekannya, bukan sebagai pemimpin yang mengatur, tapi sebagai sesama pencari nafkah yang ingin perubahan. Ia tahu, bukan semua driver bisa ikut aksi. Ada yang tetap bekerja demi sesuap nasi hari itu, dan itu harus dihormati.
“Kita semua sepakat, tidak boleh ada tekanan. Semua bergerak dari kesadaran,” tegasnya.
Rute aksi dimulai sejak pagi. Dari BCP, massa bergerak menuju Plamo, lalu Pollux Habibie, dan akhirnya berkumpul di titik ikonik Batam: WTB. Di sana, iring-iringan kendaraan terus melaju, berjalan kaki bersama dalam long march menuju Graha Kepri.
“Tadi dari BCP sekitar pukul 7 pagi. Di Nagoya, pukul 8 sudah mulai ramai,” tutur Feryandi, sambil menyeka peluh yang bercampur dengan semangat.
Sepanjang aksi, tak ada keributan. Tak ada provokasi. Hanya barisan orang-orang yang setiap hari mengandalkan ponsel untuk mencari penumpang, kini menggunakannya untuk menyuarakan hak.
Offbid 205 bukan sekadar gerakan mogok—itu adalah cermin kedewasaan komunitas driver online Batam.
Mereka tak mengangkat tangan untuk bertindak kasar. Mereka memilih suara yang santun, langkah yang tertib, dan aksi yang damai. Karena bagi mereka, perubahan yang hakiki harus dimulai dari cara yang benar.
Ketika hari mulai siang, dan panas menyengat aspal, mereka tetap berdiri. Karena harapan lebih panas membara di dada: harapan akan keadilan, regulasi yang berpihak, dan pengakuan atas profesi mereka sebagai bagian dari roda ekonomi kota.
Aksi selesai dengan tertib. Tidak ada benturan. Hanya cerita solidaritas yang tertulis di jalanan Batam hari itu.
Penulis: Rizky
Editor: Bosded









